Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Selasa, 30 Januari 2018

PANGLIMA T NYAK MAKAM

PANGLIMA NYAK MAKAM,

lahir di desa Lamnga mukim XXVI Aceh Besar sekitar tahun 1838 M, ayahnya bernama Teuku Abbas gelar Ujong Aron bin Teuku Chik Lambaro, bin Imam Mansur, bin Imam Manyak bin Teuku Chik Mesjid, secara turun temurun pada zamannya menjadi Ulee Balang dari mukim daerah Bibueh (Bebas) berstatus langsung di bawah Sultan Aceh, juga terdapat kekuasaannya suatu mukim Ie Meulee Sabang dengan 6 perkampungan yang luas. Ayahnya sendiri Abang kandungnya Teuku Ibrahim Ujong Aron, dan saudara sepupunya Teuku Chik Ibrahim suami Cut Nyak Dien, dan Teuku Ajad turut gugur secara beruntun waktu dalam pertempuran, dan Nyak Makam sendiri dipancung lehernya Tanggal 22 Juli 1896.
Sejak usia 6 tahun Teuku Nyak Makam telah diserahkan menuntut ilmu di Pesantren Ulama Teuku Chik Abbas (adik ipar orang tuanya) di Lamnga, kemudian melanjutkannya pendidikan ke Lambada Gigieng pada pesantren Tgk.Lambada, di samping pelajaran agama, ia juga belajar pencak silat, Ilmu Sosial dan taktis gerilya pada Panglima Paduka Sinara, dan juga pembinaan Tuanku Hasyim Banta Muda.
Pada usia 16 tahun Teuku Nyak Makam pergi ke Penang (Malaysia) menjumpai Teuku Paya (Ketua Panitia Delapan) sebagai keluarga ayahnya dan di Pulau Penang beliau telah dapat belajar bahasa Inggris, kemudian kembali ke Aceh.
Oleh karena Panglima Teuku Nyak Makam seorang pemuda yang cerdas beliau terus dibina selanjutnya oleh Tuanku Hasyim seorang partisan yang tangguh, pada tahun 1858 Teuku Nyak Makam dalam usia muda diangkat menjadi staf/wakil oleh Tuanku Hasyim yang bertugas di Wilayah Timur Aceh dan Deli Serdang Sumatera Utara. Sekembalinya dari front Timur tahun 1865 Teuku Nyak Makam melangsungkan pernikahan dengan Cut Nyak Cahaya Putri dari Panglima Paduka Sinara di Lambada.

Sultan memperhatikan prestasi-prestasi yang telah dicapai baik dalam berpolitik strategi militer dan kepemimpinan oleh Panglima Teuku Nyak Makam maka atas keputusan musyawarah Sultan Muhammad Daudsyah di markas Keumala Pidie tahun 1885 yang dihadiri Panglima Polem, Panglima Besar Tuanku Hasyim Banta Muda dan staf kerajaan lainnya Panglima Teuku Nyak Makam dan diberi hak kuasa bertindak telah diangkat sebagai “ALMUDABBIRUSYAYARQIAH” mempertahankan kedaulatan Aceh di bahagian Timur Aceh sekaligus Panglima Mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur dan sebagai wakilnya ialah Teuku Nyak Muhammad (Nyak Mamad) dari Peureulak.
Panglima Teuku Nyak Makam disamping bertugas sebagai pemimpin pasukan gerak cepat dengan senjata lengkap yang bertugas mengkoordinir barisan-barisan pejuang Aceh yang dipimpin oleh pemimpin perang setempat dari Sungai Jambo Ayee di Simpang Ulim hingga Deli Hulu dan Serdang Hulu.
Sebagai gerak pertama setelah pengangkatannya menjadi Panglima Mandala Kerajaan Aceh sampai ke Timur, maka pada bulan Nopember 1885 Panglima Teuku Nyak Makam dengan 140 orang anak buahnya muncul di Tamieng untuk memulai operasinya, yang menimbulkan kepanikan bagi seluruh pembesar sipil dan militer apalagi bagi pengusaha-pengusaha Belanda.
Pada tanggal 18 Desember 1885 dengan kekuatan 50 orang prajurit Panglima Teuku Nyak Makam telah menggempur tangsi Belanda di Seuruwey. Dilanjutkan pada tanggal 28, dan malam 29 Desember 1885 penggempuran terhadap benteng/tangsi Seuruwey yang dipertahankan oleh lebih kurang 300 serdadu dan menghancurkan (mengobrak-abrik) rumah perwira di Seuruwey.
Dari Seuruwey Panglima Teuku Nyak Makam terus maju dengan pasukan gerak cepat guna menggempur kedudukan Belanda di Pulau Kampai dan berhasil merampas senjata-senjata polisi dan pabean tanpa ada kesempatan untuk memberi perlawanan.
Tanggal 2 Januari 1886 kembali Panglima Teuku Nyak Makam menggempur benteng-benteng Belanda sehingga Belanda terpaksa mendatangkan 124 orang serdadu Mobiel Brigade termasuk 3 (tiga) orang perwira disamping 1(satu) peleton infantri.
Dalam bulan Pebruari 1886 benteng Belanda di Kuala Simpang digempur dan dikuasai oleh pasukan dari Panglima Teuku Nyak Makam.
Dari Kuala Simpang penyerangan diteruskan ke Langkat Hilir. Di sini yang menjadi sasaran penyerangan dan dikuasai Panglima Teuku Nyak Makam ialah, perkebunan Belanda, seperti Glen Bervi (Paloh Muradi), Gebang, Serapah, Tarau dan lain-lain disekitarnya.
Sebagian dari pasukannya dikerahkan untuk menyerang perkebunan di Teluk Rubiah. Dari sini penyerangan diteruskan ke perkebunan Tungkam dan Sungai Dua, kemudian diteruskan ke Sungai Satu. Akibat dari penyerangan-penyerangan/gangguan-gangguan tersebut, perkebunan-perkebunan di Teluk Rubiah, Tungkam, Sungai Dua, dan Sungai Satu terpaksa ditutup.
Dari sungai satu, pasukan yang dipimpin langsung oleh Panglima Teuku Nyak Makam dan dibantu oleh Tuanku Ibrahim (Putra Tuanku Hasyim Banta Muda) meneruskan perjalanan ke Bahorok untuk bertemu dengan Teuku Abdurrahman guna melantik Kejreuen Bahorok yang telah turun menurun menjadi panglima barisan sabilillah Aceh untuk wilayah Langkat Hulu dan mengadakan kerjasama untuk memerangi Belanda, pada saat itu Panglima Teuku Nyak Makam, menaikkan bendera merah putih di Kampung Kuala sebagai tanda wilayah ini telah dikuasai oleh tentara Aceh, selain daripada itu diadakan pembersihan terhadap oknum-oknum yang pro Belanda kepala Distrik Binjai saat itu, melapor pada Belanda di Medan akibatnya Belanda dengan kekuatan 600 orang serdadu dibawah pimpinan Mayor Van de Poll maka terjadilah pertempuran yang dahsyat di Bahorok kejadian ini pada bulan April 1886.
Setelah melalui pertempuran sengit dari benteng ke benteng, maka akhirnya Bahorok jatuh ke tangan Belanda pasukan Panglima Teuku Nyak Makam sebagian dibawah pimpinan Teuku Abdurrahman bersama adik-adiknya dan sisa-sisa pasukannya mundur ke Tanah Alas.
penyerangan-penyerangan/gangguan-gangguan yang telah dilancarkan oleh Panglima Teuku Nyak Makam beserta pasukannya. Menurut sumber Belanda sendiri dalam masa 14 bulan (Maret 1885 s/d Juni 1886) daerah Langkat Hilir dan Teluk Haru tidak kurang dari 25 kali mendapat serangan dari Panglima Teuku Nyak Makam.
Setelah menggemparkan dan mengejutkan Belanda selama 14 bulan itu, maka dalam bulan Juni 1886, Panglima Teuku Nyak Makam kembali ke Pidie dan Lamnga Aceh Besar, untuk melapor kepada sulthan Aceh yang berada di Pidie.
Selanjutnya dalam bulan Juni 1886 juga Panglima Teuku Nyak Makam kembali ke markasnya beserta membawa seratus orang prajuritnya ahli gerilya dipimpin oleh Pang Abu.

Pada bulan Januari 1893, Panglima Teuku Nyak Makam dengan dibantu oleh Raja Silang Muhammad Raja Kejreun dan Teuku Chik Raja Athas Ulee Balang Negeri Sungai Yu, telah berhasil membangun sebuah angkatan perang dan kubu-kubu pertahanan sepanjang sungai Tamieng, sejak dari Rantau Pakam sampai ke Upak.
Pada tanggal 23 Januari 1893 pasukan Panglima Teuku Nyak Makam telah berhasil menenggelamkan sebuah kapal perang kecil Belanda yang mudik di sungai Tamiang.
Pada tanggal 26 Januari 1893 terjadi kontak dengan kapal perang “SUNDERO” yang membawa bantuan ke Seruwey, tetapi karena perlawanan dari para pejuang, kapal perang tersebut terpaksa kembali ke Belawan.
Pada awal Februari 1893, untuk menutupi kegagalannya beberapa hari yang lalu Kolonel Van De Poll sendiri menumpang kapal perang “FLORES” dan “ANNA” dengan membawa serdadu dan peralatan perang mudik dari sungai Tamieng untuk terus ke benteng mereka di Seruwey.
Namun tiba didekat Rantau Pakam kapal perang “ANNA” telah masuk perangkap yang sengaja telah dipasang dan dibentangkan tali rotan yang simpang siur seberang menyeberang di dasar sungai dan dalam keadaan terjepit itu, kapal “ANNA” terus menjadi umpan peluru sehingga pecah dua dan tenggelam.
Melihat keadaan demikian, Kolonel Van De Poll yang menumpang di kapal “FLORES” terpaksa kembali dengan segera kepangkalannya.
Untuk menghancurkan kubu-kubu pertahanan pasukan Panglima Teuku Nyak Makam yang berada di sepanjang Tamieng itu, Belanda dengan pasukan yang besar yang terdiri dari pasukan insfrantri di bawah pimpinan Kapten H. Kuyk dan Marinir dibawah pimpinan Letnan W.Allizol, mengadakan penyerangan ke kubu-kubu pertahanan Panglima Teuku Nyak Makam. Pasukan Belanda langsung dipimpin Kolonel A.H.Van de Poll.
Dengan dibantu oleh kapal-kapal perang “TERNATE, CONDOR, SINDORO, MADURA, FLORES, SELAMAT, JANTIK, KIMTA, dan DEMARIT”. Pada tanggal 13 Februari 1893 telah memasuki kuala besar dan melayari sungai Tamieng menuju ke Seruwey.
Setelah terjadi perang secara sengit, yang meminta korban cukup banyak, diantaranya Letnan Capius Peerebom barulah Belanda dapat mencapai Seruwey.
Pada tanggal 4 Maret 1893, dengan mempergunakan kapal “SAMBAS” kembali Belanda mengadakan penyerangan ke kubu-kubu pertahanan di sungai Tamieng, tetapi belum juga berhasil. Tanggal 16 Maret 1893 dengan sebuah kapal perang yaitu “KAPAL MADURA” kembali memudiki sungai Tamieng. Di Pasir Putih mereka mendapat perlawanan dan terpaksa kembali.
Tanggal 30 Maret 1893, kembali Kolonel A.H. Van de Poll dengan didampingi oleh Mayor Meuluman Komandan pasukan angkatan darat serta Letnan D.A.Meusert dan Komandan Skwadron angkatan lautnya Kapten (L) Pauwert, dengan mempergunakan kapal “KOERIER” kembali memudiki sungai Tamieng menuju ke Seruwey. Tetapi sesampainya di dekat kampung Paya Pasir, iring-iringan skwadron tersebut telah mendapatkan serangan yang gencar dari pasukan panglima Teuku Nyak Makam.

ACEH CAURANT” tanggal 14 Januari 1893 mengatakan bahwa Panglima Teuku Nyak Makam sudah berada di Aceh Besar, java bode
memberitakan Panglima Teuku Nyak Makam sudah berada kembali ke front Aceh Besar, sementara harian deli Courant menyatakan sudah berada berkonsolidasi di Peureulak dan Tamieng.
Akhirnya kecemasan Belanda menambah lagi kekuatan dari Kutaraja dibawah pimpinan Jenderal Van Teyn dibantu oleh Letnan Kolonel Van Heust, dengan 1500 pasukan melakukan kegamasan dengan cara membakar habis dan teror, Belanda berhasil merebut kembali Tamieng dan Idi.

tanggal 21 Juli 1896 berangkatlah sepasukan besar Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel G.F. Soeters. Pasukan ini terdiri dari satu korps marsose sendiri, satu batalyon ke 2, 3 Kompi dari batalyon ke 6,1 satu batalyon ke 12,1 pasukan kaveleri dengan 45 orang dari pasukan zeni, pasukan ini didatangkan dengan mengatur kepungan serentak dan berkombinasi dengan satu detasemen dari batalyon yang ditempatkan (Garnizum) di Kuala Gigieng.
Penyerangan terhadap kediaman Panglima Teuku Nyak Makam berlangsung secara mengejutkan sebab tidak ada yang mengetahui dan mendengarnya. Yang ditemui oleh Belanda adalah Panglima Teuku Nyak Makam yang sedang sakit dipembaringan. Dengan serba kebengisan, Panglima Teuku Nyak Makam diangkat dan dinaikkan ke tandu, beliau digotong ke kampung Gigeng ditempat Letnan Kolonel Soeters sedang menunggu. Tidak berapa lama Soeters pun mendadak kehilangan akal, diapun memancung batang leher Panglima Teuku Nyak Makam, sementara Belanda lainnya memancung-mancung badan Panglima Teuku Nyak Makam hingga hancur, kepalanya dibawa ke Kutaraja, diarak berkeliling kota, oleh Belanda dijadikan bola disepak-sepak sebagai tanda “KEMENANGANNYA”.
Itulah kebuasan, suatu kanibalisme yang tudak ada taranya, hasil kemenangan yang dikecap oleh Belanda terhadap seorang invalid (sakit) yang lemah. Tidak mengherankan jika orang Belanda sendiri merasa malu dengan perbuatan militer Belanda di Aceh karena yang demikian hanya dikenal dalam masa purba.
Seorang Belanda bernama Fanoy, pensiunan opsir KNIL dalam sebuah bukunya telah menumpahkan rasa jijiknya terhadap cara yang dilakukan bangsanya (Belanda) terhadap Panglima Teuku Nyak Makam dia menulis antara lain:
“…..de afschuwelijke vermooding van den zieken Nja’ Makam onder de oogen der zijnen met het afhouwen van diens hoofd, oplast van een lateren general uitgevoerd, met officieren die thans alle hoofdofficieren zinj, een bewijs hoe de verwildering in 1896 reeds te constateeren viel onder officieren vanhoofdkwartier te Kutaradja de in trioms meegevoerde Nja’ Makam’s kop, Zwijgende aanklacht tegen modern kolonial-oorlog-bedrijt”.
“…..Dilakukannya pembunuhan yang ngeri terhadap Panglima Teuku Nyak Makam yang sedang mengidap penyakit, dihadapan pengikut-pengikutnya dengan memancung batang lehernya, diatas perintah seorang yang kemudian diangkat menjadi Jenderal, dengan para opsir yang kini semuanya sudah menjadi opsir tinggi pula, adalah suatu bukti bagaimana jejak tahun 1896 sudah diketahui keliaran dari antara para opsir yang bermarkas besar di Kutaraja.
Kepala Nyak Makam (setelah dipotong Belanda dari badannya MS) yang dibawa berarak dalam menyorak-nyorakkan kemenangan, adalah dakwaan tidak bersuara terhadap tindak perang kolonial modern”
anda kemenangan” pada tahun 1897 yang dipajangkan di serambi belakang rumah sakit tentara di Kutaraja. “Tanda kemenangan” itu merupakan sebuah setopeles besar yang diisikan alkohol dan didalamnya tampak terapung-rapung kepala Teuku Nyak Makam yang telah mengembung itu. Pemimpin perjuangan ini dijumpai pada tahun 1896 dalam keadaan sakit berat dikampungnya di Lamnga yang terletak tidak berapa jauh diluar lini konsentrasi. Ia diusung kedalam tandu dan bersama keluarga-keluarganya digiring ketempat Kolonel Obos Soeters, Obos ini menyuruh melemparkannya dari tandu dan menyuruh dibunuh ditempat itu juga. Teuku Nyak Makam dipancung dihadapan isterinya dan anak-anaknya. Kolonel Stemfoort telah memerintahkan supaya kepala itu dipajangkan sebagai sebuah “Tanda Kemenangan”. Seorang yang telah menyaksikan perlakuannya itu dengan matanya sendiri tetapi bukan seorang lemah hati menulis: Tindakan biadab ini dan yang serupa dengan itu tidak akan menolong usaha penaklukan dan perdamaian di Aceh.
Panglima T Nyak makam

Minggu, 21 Januari 2018

AMOK ACEH.ACEH PUNGO POH KAPHE ALA ACEH

Pada tgl 22 Sept 1904 sekitar jam 7 senja bersembunyilah 2 org Aceh dibelakang tanggul dekat Atjeh Clob di Koetaradja , bersenjatakan klewang dan rencong , mereka berniat mencari mati syahid , setelah mereka berhasil membunuh seseorang penting dalam kemiliteran tentara Belanda . Kalau beruntung bisa membunuh komandan tentaranya Grevers atau bahkan jendral Van der Wijk sendiri , yang ke-dua2nya sedang ada digedung societeit

Sejak meneyerahnya Panglima Polem dan Sultan M Dawod setahun sebelum ini kebanyakan pertempuran atau bentrokan berarti hanya terjadi didaerah pedalaman

Cuma senja ini tidaklah demikian , Kedua org Atjeh tadi tanpa pikir panjang lagi menyerang kedua perwira muda itu , Groeneveld cepat berlari kearah gedung societeit ..Van Mourik mendapat bebetrapa tikaman didadanya , mencoba  lari sambil ter-huyung2 , dia terjatuh dan mendapat tambahan bacokan dikepalanya  sambil berlumuran darah dia merangkak kearah Toko Nass , tapi org2 telah segera menutup semua dan org2 dilapangan itu pada melarikan diri kepanikan .
Kemudian dia bergabung kembali dengan kawan lamanya Nya' Oesein dari Lam Badeuek, pergi menuntut ilmu pada teungku Lambira
 Kejadian pd thn 1904 itu adalah salah satu dari rentetan kejadian2 penuh kekerasan yang dijuluki "Acehmoorden'' (MOORDEN = membunuh) . Atjeh-moord yang kemudian terkenal adalah serangan thd Kapitein Schmid dari korps Marechaussee di Lho Sukonthn 1933 . Dia tewas kena tikaman rencong . Surat kabar memberitakannya sebagai salah satu Atjehmoord yang khas .

Yang disebut Atjeh-moord adalah sebenarnya tindakan2 pembunuhan yang dilakukan oleh perseorangan . Sebab2nya dalah berakar pada kefanatikan masyarakat  thd agamanya . Untuk org Atjeh perang melawan Belanda adalah "perang suci" , perang sabil , sehingga kematian yg terjadi didalamnya adalah pencapaian tertinggi. Telah terjadi ratusan ribu pertempuran dalam 40 thn "Perang Atjeh" . Tiada satu keluargapun yang terbebas dari padanya ,sehingga perlawanan dan kebencian thd kekuasaan Belanda luar biasa besarnya .foto nyak Daod dan nyak Husen.pelaku pembunuhan terhadap kaphe Van Moulik.sumber foto John Klein Nagelvoort)

EMBARKASI HAJI PERTAMA DI NUSANTARA

Embarkasi Haji Pertama di Nusantara:

MUSIM haji telah tiba. Tahun silih berganti, jumlah umat muslim Indonesia yang berangkat ke Baitullah kian bertambah. Pemerintah pun sibuk membenahi sistem untuk memberikan layanan terbaik bagi jamaah yang menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Mulai dari layanan administrasi, kesehatan, transportasi, dsb. Namun, mari kita melihat sejenak ke masa silam. Dimana, transportasi yang digunakan untuk berangkat ke tanah suci, hanya melalui jalur laut.

Menurut M. Shaleh Putuhena dalam bukunya, Historiografi Haji Indonesia, mengutip cerita Lewis Barthema dari Roma (Italia) yang pernah menyaksikan kehadiran jamaah haji dari Greater India dan Lesser East Indies, kepulauan Nusantara pada tahun 1503 di Jeddah (Arab Saudi). Bahkan pada tahun 1526, Portugis menghancurkan sebuah kapal niaga dari Aceh yang hendak menuju Jeddah. Namun beberapa kapal lolos. 
keberangkatan jamaah haji di embarkasi Sabang


Sebuah sumber dari venesia menyebut periode tahun 1565 hingga 1566, lima kapal kerajaan Aceh berhasil berlabuh di Jeddah.

Pengamat sejarah dari Jakarta, JJ Rizal, menuturkan bahwa orang-orang dari berbagai wilayah di tanah air harus lebih dulu berangkat ke Aceh sebelum meneruskan perjalanan haji. Ini termasuk jamaah yang berasal dari Jakarta pada masa itu.

Peran Aceh sebagai embarkasi haji pertama dalam sejarah nusantara memang telah dimulai sejak abad ke-13 dan abad ke-14 Masehi (Reid: 1969). Letak yang strategis dan kedigdayaannya sebagai kekuatan besar Islam kala itu, menjadikan Aceh seperti magnet yang menarik para pedagang, pelancong maupun kalangan intelektual sehingga datang menyinggahinya.

Hubungan Aceh dan Arab

Ramainya aktivitas pelabuhan di Aceh tidak terlepas dari jumlah pedagang Asia dan Arab yang datang berduyun-duyun. Mereka memindahkan pusat kegiatan perdagangannya di Malaka (Malaysia). Hal ini disebabkan pada tahun 1511, Portugis menyerang dan mengambilalih pelabuhan Malaka yang strategis dan penting (Reid 1969).

Kedatangan para pedagang asing ke Aceh, membuat masyarakat pribumi semakin akrab berinteraksi dengan mereka. Berawal dari sinilah, pelabuhan Aceh makin dikenal oleh dunia. Termasuk para penguasa dari tanah Hijaz (sekarang Arab Saudi). Tempat dimana Ka’bah Baitullah sebagai kiblat umat Islam berada.

Dalam artikel terbitan salah satu harian lokal (Aceh) yang ditulis oleh pemerhati sejarah Aceh, M Adli Abdullah (Emas dan Tahta, Catatan Aceh yang Tercecer; 4/10/2009), disebutkan bahwa hubungan Kerajaan Aceh dengan tanah Hijaz mulai terjalin erat semasa kepemimpinan Sulthanah Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Hal ini berawal pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke- 17 mengirim duta besarnya ke Timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mereka ke Aceh setelah Raja Moghul, Aurangzeb (1658-1707 M) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung-katung dalam ketidakjelasan di Delhi (India). Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba pada tahun 1092 H (1681M).

Sesampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sulthanah Zakiatuddin Inayatsyah. Di luar dugaan, kedatangan utusan Syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah (anti pemerintahan perempuan). Namun, karena sosok Sulthanah Zakiatuddin yang alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).

Utusan Arab sangat gembira diterima oleh Sulthanah Zakiatuddin, karena mereka tidak mendapat pelayanan serupa ketika berada di Delhi, India. Bahkan empat tahun mereka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb. Ketika mereka pulang Sulthanah Zakiatuddin Inayatsyah, memberi mereka cindera mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah, juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.

Sumbangan emas yang diberikan oleh Sulthanah kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa hal ini tercatat dalam sejarah Mekkah, dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sulthanah Aceh tiba di Mekkah pada bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu, Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).

Snouck Hurgronje, mengatakan bahwa ”Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Tahun 1683 M” membuatnya kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, saat ia tiba di Mekkah pada tahun 1883.

Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih hangat dibicarakan di sana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang-barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin. Sedangkan sisanya, diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pelabuhan Aceh Dalam Kenangan

Aceh adalah tempat singgah dan bermukim yang paling utama bagi para pedagang Arab, Persia, dan India dalam usaha mereka mencari komoditas-komoditas unggul pada masa dahulu, seperti rempah-ratus dan juga dalam usaha mencari pasar serta produk-produk dari negeri Cina. Catatan pengembaraan seorang agamawan Cina bernama I-Tsing, menyatakan bahwa beliau telah bertolak dari Canton menuju India pada tahun 672 Masehi dengan menumpang kapal dagang Persia telah singgah di Aceh dan pada waktu itu telah ada perkampungan pedagang Arab di sana (Mohammad Said 1981:55-56).

Gerini (1909) sebagaimana dikutip oleh Mohammad Said (1981:57), menyebutkan bahwa para pedagang Arab dan Persia tersebut telah sangat dikenal oleh para penduduk lokal di Aceh dan mereka sangat sering melakukan perjalanan berulang kali ke pelabuhan-pelabuhan Aceh. Untuk melakukan transaksi dagang sejak pertengahan abad ke-10 atau sejak abad ke-11 (Reid: 1969, 1995). Perlak atau Ferlec (sebutan oleh Marco Polo) dan Samudera (Kemudian dikenal sebagai Pasai) adalah antara pelabuhan-pelabuhan terbesar dan utama di kawasan ini antara abad ke-13 dan abad ke-14 Masehi. Pelabuhan Lhokseumawe selama lebih 150 tahun merupakan pusat dagang terbesar di wilayah timur bagi para peniaga muslim dalam jalur perniagaan mereka dan menjadi pusat kepada pengembangan keilmuan dan perdagangan (Reid 1969). Menurut Reid juga, perkataan Sumatera diambil dari catatan-catatan Marco Polo ketika menyebutkan Negeri Samudera dan memberi nama itu untuk menyebut keseluruhan pulau berkenaan (Reid 1995). Sebelum itu, Pelabuhan Lambri atau Lamuri merupakan pelabuhan Aceh yang menjadi tumpuan utama para pedagang Arab dan Persia pada abad ke-10 sehingga abad ke-12 (Gerini 1909; Mohammad Said 1981).

Antara abad ke-16 hingga abad ke-18 Masehi, Aceh telah mempunyai beberapa pelabuhan perdagangan besar, yang bersaing dengan Negeri-negeri besar dari Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, dan Inggris dan beberapa negeri Asia, seperti Kekaisaran Cina dan Kerajaan-kerajaan India dalam mengawal jalur Selat Melaka dan keseluruhan kawasan tersebut. Mereka bersaing untuk merebut dominasi atas pengaruh politik dan ekonomi di kawasan berkenaan khususnya dalam bidang perdagangan (Reid 1969, 1995; Anderson 1840, 1971; Moor 1837; Tolson 1880; Marsden 1986).

Sejak Aceh menjadi sebuah pelabuhan internasional, ada beberapa bahasa yang digunakan dalam interaksi antar bangsa, khususnya permulaan abad ke-17, bahasa Arab dan Portugis, disamping bahasa Melayu, baik secara lokal maupun internasional (Rodolphe De Koninck, Aceh In The Time of Iskandar Muda: 1977, hal. 29).

Nama-nama pelabuhan di Aceh sekitar tahun 1814 sebagaimana disebut oleh Anderson (1840:159) adalah Tapoos, Sebadi, Pulau Dua, Kalavat, Telapow, Muckie Utara dan Selatan, Labuan Haji, Senanghan, Annalaboo, Pulo Ryah, Tarang, Manghin, Seimeyoh, Tareepuli, Taddow, Singkel, Ayam Dammah, Terooman, Rhambong, Saluhat, Soosoo, Kivala Batu, Bahroos, Tampattuan, dan Samadua semuanya di pesisir barat; Acheen, Pedada, Lauang, Pedir, Pakan, Selu, Burong, Sarong, Murdoo, Samalangan, Passangan, Junka, Teluksamoy, Chunda, Passy, dan Curtoy, semuanya di pesisir Utara atau Timur. Kapten Coombs, yang melawat Aceh pada awal tahun 1818, memperkirakan nilai kegiatan dagangan ekspor dan impor adalah 2,234,250 dolar Spanyol. Jumlah ekspor untuk pinang saja adalah antara 15,000 sehingga 16,000 ton per tahun (Anderson 1840:161-163).

Akhirnya, Itulah sekilas sejarah tentang pelabuhan Aceh, yang menjadi tempat embarkasi haji pertama bagi umat muslim di nusantara. Letaknya yang strategis telah banyak berperan dalam perdagangan sekaligus penghalang dominasi bangsa Barat di Asia Tenggara melalui armada Kerajaan Aceh Darussalam (1496-1903 M) yang dikenal tangguh pada masa itu. Pelabuhan Aceh akan kembali Berjaya, jika ada niat dan upaya yang konsisten dari pemerintah untuk memajukannya. Bila ini terwujud, maka akan menjadi saingan utama pelabuhan Singapura di masa depan. Semoga(foto keberangkatan jammah haji di embarkasi sabang)

Selasa, 09 Januari 2018

Kronologi Perang Cumbok

KRONOLOGIS PERANG CUMBOK
Pendapat yang cukup santer namun sukar untk dibuktikan adalah bahwa Ulebalang masih tetap pro Belanda dan masih menginginkan mareka kembali ke Aceh.Ule balang di tuduh telah membentuk sebuah comite van ontvangst untuk menyemput Belanda kembali.

SM Amin pemimpin perjuangan pada masa revolusi menyangsikan ada nya upaya UB membentuk komite itu untuk menyambut belanda .Prof Nazaruddin syamsuddin juga meragukan issu tersebut.komite itu tidak pernah ada dalam kenyataan .kemungkinan sekali berita tentang penitia penyambutan  itu sengaja di hembus kan oleh kelompok ulama yang anti Belanda dan ule balang..

Dalam rangka inilah unsur UB di dramatisir sebagai kelompok yg akan menarik keuntungan bila mana Belanda datang kembali keaceh.dengan cara demikian di harapkan timbul kembali ingatan rakyar akan dendam kepada UB yg pro Belanda
para pemimpin UB mulai menyusun strategi untuk memperkuat dan menguasai cumbok

para pemuda pesindo ditugas kan untuk mengawal kantor kantor pemerintah di lammeulo.Tentara Ub di perintah kan untuk  menangkap anggota PRI yg ditugas kan oleh pemerintah daerah Aceh untuk menjaga kantor pos dan telpon di lammeulo..akibat nya terjadi lah benturan benturan kecil antara para  pemuda PRI dan pasukan UB cumbok.

Paad tanggal 3 november 1945.UB cumbok mengambil alih kantor PRI lam meulo dan sejak saat itu tdk ada pemimpin PRI yg di izin kan berada dan masuk ke lam meulo.
tindakan pasukan UB mengundang keprihatinan pemda Aceh.untuk menyekesaikan masalah dengan damai ketua KND Tuanku mahnud di kirim ke lam meulo.namun tdk mendapat sabutan yg baik dari fihak UB.

setelah lam meulo berhasil di kuasai UB berencana menduduki Sigli.Pada tanggal 25 november 1945 jam 12 UB masuk kota sigli untuk mengambil senjata jepang yg pada masa itu masih menduduki kota sigli.

sementara itu PRI dan TKR di bawah pimpinan syamaun gaharu dan  T azwar hamid pun tiba di kota sigli untuk merunding penyerahan senjata jepang.perundingan ini di bocorkan oleh perwira TPR Letnan Abdullah dan Letnan Bakhtiar menceritakan kepada fihak UB bahwa jepang tidak akan menyerah senjatanya kepadaTPR.akibat nya fihak UB menyebar pasukan nya ke Sigli dan menguasai tempat tempat strategis.banyak orang ditangkap krn di duga sebagai pendukung PUSA.dan orang dari luar di larang masuk kota sigli.

Dengan menguasai kota UB berusaha menguasai senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan lawan.di fihak lain dengan mengetahui bahwa sgli sudah dikuasai oleh UB.maka puluhan ribu warga dan simpatisan PUSA nengepung kota untuk mencegah Jepang tidak menyerahkan senjata kepada fihak UB.jika senjata ini diserah kan kpd fihak UB kekuatan mareka semakin tidak tertandingi

Syamaun Gaharu dan T azwar hamid tdk dapat menguasai keadaan.mareka meminta residen T nyak arif untuk turun tangan guna mencegah terjadi nya pertempuran kedua belah fihak.Residen mengirim T Ali panglima Polem.tugas delegasi itu bukan untuk mekerai pertikaian  antara UB dengan warga.   
melainkan hanya berunding dengan Jepang krn menurut mareka puncak pertikaian antara kedua nya berpunca pada masalah senjata jepang.

perundingan berlangsung tanggal 3 desember 1945 di pimpin olrh T Ali panglima polem untuk menghindari pertumpahan darah mendesak fihak jepang supaya tidak menyerahkan senjatanya kepada salah satu fihak yg bertikai.didesak jepang agar menyerah kan senjata kepada TKR sebagai tentara resmi RI

ketika perundingan itu sedang berlangsung.ketika naskah perjanjian penyerahan senjata sedang di teken.rakyat yg semula sedang mengepung kota sigli mulai bergerak memasuki kota.maka makin terbuka pula kemungkinan terjadi perang secara frontal dengan  BPK (UB) yg tertahan di kota.Dalam usaha mengendalikan gerak rakyat.Syamaun Gaharu melepaskan tembakan peringatan.
Tembakan peringatan dari Syamaun ini mengundang bencana tembakan ini telah menyebab kan salah pengertian antara dua kelompok(Ub dan Pusa) yg bertikai. fihak PuSa menilai itu sebagai aba aba dari UB
 sehinga perwira TKR ini melarikan diri dari tempat kejadian.peristiwa ini menyebab kan Syamaun gaharu di tangkap atas tuduhan berkomplot dengan UB. akibat kesalaha fahaman tersebut kota sigli bersimbah darah dua golongan itu terlibat pertempuran yg sengit berlangsung sejak tanggal 4_6 desember 1945  para pemimpin daerah dan TPR dibawah pimpinan syamaun gaharu dan T azwar hamid berupaya menghentikan pertempuran.akhir nya pertempuran berhasil di hentikan pada tanggal 6 desember 1945.kedua belah fihak di minta untuk kosong kan kota sigli
senjata yg diserahkan jepang kepada UB harus diserahkan kembali kepada TKR sebagai tentara resmi RI.apabila terjadi kekacauan kedua belah fihak harus bertanggung jawab.inbauan ini mendapat sambutan yg baik dari kedua belah fihak.keduanya setuju menarik pasukan keluar kota sigli dan fihak UB juga setuju menyerah kan senjata yg direbut nya dari jepang kepada TKR.

Ketaatan terhadap perstujuan bersama ini tidak berlangsung lama.pertempuran tetap terjadi di luar kota sigli..markas UB tidak mengembalikan senjata jepang kepada TKR..Pada tanggal 10 desember 1945.markas UB mengadakan pertemuan di Rumah Teuku laksamana Umar Njong di Leung putu.guna membahas langkah langkah lebih lanjut  terhadap perkembangan situasi

Pertemuan Leung putu mengakibatkan markas UB berindak tegas. maereka mendirikan badan kelaskaran di bawah pimpinan Teuku Muhammad Daod ule balang Cumbok.mareka mulai menyerang kampung kampung basis kekuatan musuh nya.Markas UB akan menindak tegas terhadap penentang gerakan mareka diharap kan akhir desember rencana sdh terlasanakan.

Dengan senjata berat yg mareka miliki tentara UB pada tanggal 10 desember 1945 mulai menembaki kampung disekitar leung putu.meutareum yg menjadi pusat para Pemuda PRI pada tanggal 20 des mareka membakar gedung sekolah di Titeu serta kantor kehakiman

Karena meningkat nya aksi markas UB.Pemda Aceh bersama TKR pada tanggal 21 desember 1945 membentuk Markas Besar Rakayat Umum atau MBRU yg terdiri dari TKR.PRI.polisi.Pesindo.sdan organisasi masa lain nya untuk melawan markas UB.Seluruh daerah pidie mendiri kan barisan perjuangan di bawah komando MBRU.akhir nya markas Ub pun meningkat kan serangan nya.pada tanggal 30 desember markas Ub kembali menyerang meutareum.ilot.lala dan langga mengakibat kan kampung kampung tersebut rusak berat dan kantor cabang pesindo hancur serta tewas ketua cabang Pesindo langga.

markas MBRU mengawali gerakan nya dengan mengeluarkan maklumat yg dituju kan kepada Rakyat isi nya antara lain jangan membakar rumah dan mengambil harta orang.tawanan yg di tangkap harus di perlakukan dengan baik.suatu seruan secara psikologis menarik simpati rakyat.

Dengan senjata yg cukup tangguh markas UB sama seksekali tidak memperdulikan isi ultimatum dari Pemda Aceh pertempuran terus berlangsung terutama di lam meulo.leung putu Beureueh dan keumala.Pasukan Pemda Aceh di bantu oleh pasukan sipil spt Mujahiden.pesindo dan pasukan rakyat milisi dari luar pidie.pasukan gabungan ini memfokus diri kedaerah lammeulo sebab pemimpin markas UB Teuku sri muda bentara pahlwan cumbok Muhammad Daod bermarkas di sana.dengan bertambah nya perang ini pemda Aceh khawatir akan bahaya yg mengancam.teruttama dalam kaitan dengan kekuatan perjuangan yg di butuh kan guna menghadapi NiCA

pada  tanggal 6 january 1946 MBRU mengadakan sidang membahas situasi pidie.pada tanggal 8 january mareka kembali bersidang dihadiri oleh tokoh tokoh MBRU syamaun Gaharu dari TKR.Teungku Muhammad Daod Beureueh dari mujahidin.Ali hasyimi dari Pesindo ismail yakop tokoh PuSa tapi  mewakili PNI.Husen  yusuf dan Muhammadsyah dari TKR.

Setelah sidang pd tanggal 8 january itu  Komite nasional Daerah Aceh (KNIDA) juga pemerintah Ri daerah Aceh(markas umum Daerah aceh) mengeluarkan ultimatum dan maklumat kepada  Markas UB di Lammeulo.ultimatum ini di tanda tangani oleh wakil residen T.Ali panglima polem dan syamaun gaharu selaku ketua markas umum daerah Aceh.

sidang ini bertujuan untuk melakukan usaha gencatan senjata bagi kedua belah fihak yg berseteru.sidang di hadiri oleh Husen yusuf.syamun gaharu Ali hasyimi.muhammad syah. ismail jacob mewakili Pni dan Teungku Daod Beureueh dari mujahidin absen .

Dalam maklumat tersebut Pemda Aceh dan markas umum daerah Aceh menyatakan antara lain. setelah diselidiki secara mendalam.bahwa mareka yg mengadakan perlawanan terhadap mareka di Cumbok dalah Musuh Negara Republik indonesia.dan di peringatkan kepada yg sdh terpengaruh dengan mareka agar menghindar kalau tidak akan di kena kan hukuman sesuai dengan kesalahan nya.

Ultimatum yg mengiringi maklumat itu ianya memerintahkan mareka para pengkhianat negara Ri agar hari kamis tanggal 10 january 1946 jam 12 siang menghentikan perlawanan kalau tidak akan di tunduk lan dengan kekerasan.#bersambung

Dalam situasi genting  dimana satu sama lain  ingin nengakhiri dan memenangkan perang.bermacam macam strategi yg dilakukan kan.kemampuan dalam adu senjata hal yg penting.namun disisi kain adu kepintaran merebut simpati rakyat bagian dari strategi perang

Mr SM Amin mengatakan bahwa menuduh "pengkhinat dan musuh RI" adalah strategi perang.dengan nengeluarkan maklumat dan ultimatum dapat di ambil kesimpulan bahwa tindakan PUSA yg semula liar telah menjadi legal

Ultimatum tidak di indahkan oleh UB.aksi mareka semakin meningkat daerah yg paling parah di landa aksi perlawanan mareka(UB) adalah lammeulo.leung putu.pante raja.treng gadeng. merdu dll.

Ada dua faktor yang menentukan sehingga kaum UB menolak ultimatum itu untuk menyerah.pertama kemampuan mareka untuk bertempur sampai menang  mengingat persenjataan mareka jauh lebih kuat dari TPR apalgi dengn senjat yg di miliki oleh milisi dibawah MBRU
kedua..hukuman yang dijatuh kan kepada mareka justru justru oleh pemerintahan  sendiri melalui maklumat itu sebagai pengkhianat dan musuh Ri.bahkan di pertegas kan lagi oleh kelompok lawan sebagai kaki tangan NiCA
pengkhianat agama dan bangsa tampak nya terlalu berat di rasakan oleh mareka dan besar sekali konsekwensinya.mareka memperkira kan setelah mareka menyerah para pemimpin mareka akan di hadapkan kehadapan mahkamah revolusi dan di hukum mati.mareka bertekad melawan sampai mati di medan pertempuran.maka tak heran ketika di periksa oleh M nur el ibrahimi Teuku Daod Cumbok berkata
Teungku tidak usah memeriksa
saya lagi. Saya sudah tahu hukuman apa yang bakal ditimpakan ke atas diri saya. Saya tidak gentar menghadapi hukuman itu. Sekiranya saya menang,hukuman serupa akan saya jalankan ke atas kalian." (T.Daud Cumbok.

Setelah batas waktu habis.maka TPR dengan di dukung milisi rakyat di bawah komando MBRU mulai bertindak.sartu demi satu kota direbut dari tangan markad Ub.
serangan ke leung putu dilakukan pada tanggal 7 january 1946 di pimpin oleh Nyak hasan dibantu oleh Tengku Ahmad Abdullah. tgk Husen. tgk zainal abidin dan peutua Ali dari jurusan selatan..

A Gani mutiara.Syamaun Gaharu.Raja Uma.Muh Taher dan Daod hasan dari jurusan timur.akhir nya leung putu jatuh ketangan milisi MBRU benteng Leung putu di bakar dan Teuku Laksamana Umar tewas dalam pertempuran tersebut dan oleh pengikut nya dibawa ke Teupin raya dan dimakam kan disana#bersambung

Kemudian seluruh kekuatan TPR dan milisi dibawah kendali MBRU dialih kan ke Lameulo markas besar UB.pada tanggal 13 januari 1946 TPR dan MBRU berhasil merebut Cumbok meskipun di pertahan kan dengan sekuat tenaga.serangan di lakukan dari segala penjuru dengan di bantu oleh pasukan milisi tambahan dar luar pidie

Setelah di kepung oleh pasukan gabungan Pemda Aceh dan milisi milisi sipil bersenjata maka pada tanggal 13 januari 1945 markas besar UB berhasil di rebut.tetapi pemimpin UB Teuku muhammad Daod cumbok beserta paukannya berhasil lolos dan menguasai perbukitan antara pidie dan Aceh rayeuk.pada tanggal 16 januari 1945 melalui pertempuran kecil mareka erhasil di tangkap di kaki gunung Seulawah dan dibawa ke sigli kemudian ke kantor cabang  di garot dari garot di evakuasi ke sanngeu untuk di adili.

 Mereka diperintahkan meneriakkan "Merdeka" sambil mengangkat sebelah tangan dengan kepalan tinju.tapi  TeukuDaud cumbok tetap pada penderiannya,menolak pekik MARDEKA....akhir nya mareka mengirim Daud cumbok untuk menghadap TuhanNya dengan sebutir peluru "merah putih." dengan eksekutor teungku Ahmad abdullah.  berbaring ditepi kubur mengucap dua kalimah syahdat seraya memberi aba aba kepada algojo yg mau menghukum mati dirinya..

Dengan demikian peristiwa Cumbok telah berlangsung selama 2 bulan secara fisik telah dapat di patahkan.namu tidak berarti berbagai akibat yg timbul.seperti masalah harta rampasan peninggalan UB.perlindungan terhadap famili atau keluarga.bahkan lanjutan perang saudara ini segera nampak kembali meski pun tdk sehebat yg pertama.rupanya serum yg di suntik oleh Belanda dan Snouc horgronje yakni penyakit pecah belah adu domba masih  saja terjangkit di masyarakat Aceh dan tdk sembuh dengan berakhir nya perng Cumbok.pada awal Februari 1946 Husen Mujahed mebentuk
Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) di Idi, dengan mana ia bermaksud untuk membersihkan semua sisa ulebalang di seluruh Aceh.dalam aksi  berdarah mareka membantai dan membunuh TR sabi anak semata wayang Tgk chik ditunog dan Cut mutiaserta Ub lainya yg ridak terkait dengan Cumbok.
Dengan segera Aceh Timur mengalami aksi pembersihannya. Kemudian pasukannya bergerak ke utara, dan akhirnya menekan Kutaraja karena pemerintah tidak mampu menghentikannya. Di sepanjang jalan ke Kutaraja, ratusan keluarga ulebalang dan para pemimpin nasionalis dibunuh atau dikirim ke tempat tahanan di Aceh Tengah, dan anggota-anggota PUSA ditempatkan pada jabatan-jabatan yang ditinggalkan mereka gerakan TPR menyebabkan berdirinya rezim PUSA di Aceh setelah semua pejabat bukan-PUSA diberhentikan dari pemerintahan lokal, dan sebagai gantinya diangkatlah pejabat yang berorientasi pada PUSA.
Beberapa Ub yang tewas dalam peristiwa Cumbok diantara nya.
1.Teuku Daod cumbok
2.Pocut Umar keumangan
3.Teuku umar njong
4.Teuku Muda Dalam Bambi uno
5.Teuku M Ali samaidra
6.Teuku Ali ie leubeu
7. Teuku Hamid gigieng
8.Teku cut Hasan.keluarga UB dari meuraxa
9.Teuku Muh Said Cunda
10.teuku banta Ahmad glp payong
11.Teuku Husen simpang Ulim
12.Teuku pakeh sulaiman pidie
13.Teuku Muhammad Keumangan
14.Teuku Hasan keumala.
15.Teuku chik Meureudu.
15.Teuku sulong Meureudu dll#pemberontak kaumrepublik.prof nazaruddin.Sm Amin.......isa sulaiman dkk aceh dari komplik kedamai dll)
Teuku Laksamana Oemar Njong


Teuku Umar Keumangan dan Teuku Bintara Ibrahim Pineung