Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.
Tampilkan postingan dengan label ACEH DIMATA DUNIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACEH DIMATA DUNIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2015

SURAT PADUKA SRI SULTAN MUHAMMAD DAUDSYAH KEPADA KHALIFAH TURKYE

Membaca surat ini sepintas lalu, maka kesan yang pertama sekali terbetik dalam benak: surat ini berisi keluhan. Apalagi di dalamnya, secara jelas, penulis surat menyatakan ia mengadukan perihal kesulitan dan kepedihan yang sedang dialami oleh diri dan bangsanya. Boleh jadi, karena itu, ada orang yang akan menganggap penulisnya adalah seorang yang berkepribadian lemah, tidak tegar, bukan pahlawan dan berbagai prasangka lain semisalnya. Namun apakah orang yang membuat penilaian demikian telah benar-benar membaca surat ini dan memahaminya? Saya menyangsikan hal itu, malah yakin ia belum benar-benar membacanya.
Sejatinya, penulis surat adalah seorang yang sangat tegar, kuat dan pahlawan dalam makna yang sesungguhnya. Bahkan lebih dari itu, ia adalah seorang yang amat setia. Setia kepada Agamanya, kepada umatnya, dan kepada rakyat bangsanya. Suatu sikap yang terus ia buktikan sampai nafas terakhirnya ia hembuskan di pembuangan. Dan tentu saja perayaan 17 Agustus akan melewatkan orang-orang semisal penulis surat ini, di samping saya yakin dia juga tidak pernah berharap dirinya dikenang dalam perayaan semacam itu. Batu pijakannya lain, arah haluannya lain, dan cita-citanya juga lain.
Bergunung kekecewaan dan ketidakberuntungan menindih perjalanan hidupnya namun harus diakui ia adalah seorang yang tegar, kuat dan setia. Lain dari itu tentang dirinya, saya tidak percaya. Sungguh tidak mudah bagi seseorang bertahan untuk melalui tahun-tahun kepedihan seperti yang ia lalui; saat tanah negerinya direbut oleh musuh Allah, saat bangsa-bangsa Islam kemudian harus kehilangan Amirul Mu'minin dan khilafahnya, dan saat ia melihat rakyatnya berangsur berpaling untuk mengikuti langkah musuhnya. Ia harus menahan perih fisik dalam pengasingan, sementara perih batinnya adalah sesuatu yang takkan terkira.
Dalam surat ini, Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud Syah melaporkan dan mengadukan perihal yang dialami oleh diri dan bangsanya kepada Khalifatul Muslimin dan Amirul Mu'minin.
Selain kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada siapakah lain yang layak ia lapor dan adukan halnya? Kepada Belanda seperti para raja negeri-negeri lain yang tunduk kepada Pemerintah Hindia-Belanda? Tentu tidak, dan tak pernah akan. Baginya, Belanda adalah kafir mal'un 'aduwullah (kafir terkutuk, musuh Allah).
Atau ia akan memilih berlayar dengan angin nasionalisme yang sudah mulai berhembus sejak penghujung abad ke-18 dan menguat di abad ke-19? Tentu, tidak. Ia sama sekali bukan pengagum Mustafa Kamal Ataturk (1881-1938), dan tidak pernah sepertinya! Malah, saya yakin sampai dengan wafatnya pada 6 Februari 1939, ia masih memimpikan kebangkitan Islam dan umatnya sebagaimana mimpi Sultan Abdul Hamid II (1842-1918) ke mana surat ini ditujukan pada tanggal 25 Muharram 1315 (26 Juni 1897).
Dengan demikian, bukankah ia seorang yang teguh dalam pendiriannya, seorang yang memiliki kepribadian kuat, dan lebih dari itu ia adalah orang yang setia kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada umat dan rakyatnya. Ia tetap berdiri dan melangkah di garis para leluhurnya, para sultan yang besar, dan tidak pernah menyimpang. Jika kemudian kita sering mendengar tentang cerita penyerahan diri Sultan Muhammad Dawud Syah, saya malah jadi bertanya-tanya kenapa hanya peristiwa ini yang sering diceritakan sementara perjalanannya yang panjang dalam tahun-tahun kepedihan justru seolah tersaput kabut. Lagi pula, setelah "penyerahan dirinya", ia tidak memerintah di bawah Belanda tapi justru dibuang ke Betawi, pusat pemerintahan kolonial. T. Ibrahim Alfian telah menuturkan sebab pembuangannya ke Betawi yang menjadi tanda dan bukti ia tidak pernah melepaskan kesetiaan kepada apa yang telah dijadikannya sebagai prinsip dalam hidupnya.
Hari ini, kita masih berkesempatan untuk menyimak kembali penuturan Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud tentang tahun-tahun kepedihan yang beliau lalui, tentang penyebab langsung perang Aceh-Belanda (panjangnya dapat dibaca dalam beberapa kepustakaan yang telah tersedia), tentang asal muasal kesetiaan Sultan Aceh kepada Khalifah Muslimin di Istambul dan hubungan di antara keduanya, tentang kebiadaban dan kekejian Belanda yang sampai pada tingkat menangkap, merampas dan membunuh nelayan yang pergi mencari ikan di laut. Dan pada saat beliau mengisahkan tentang bagaimana peluru yang ditembakkan dengan mesin menghujani beliau dan rakyat Aceh, saat beliau menuturkan itu, saya jadi seperti benar-benar menyaksikannya. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpahkan kepada beliau, Sultan dalam tahun-tahun kepedihan.
Berikut ini adalah surat Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud Syah ditulis dalam Bahasa Jawi disertai cap mohor beliau:
Bahwa ini waraqah Al-Ikhlas yang dipesertakan di dalamnya dengan beberapa2 hormat dan selamat yaitu daripada hamba yang hina Sri Paduka Yang Dipertuan Raja 'Alauddin Muhammad Dawud Syah Ibnu As-Sultan Al-Marhum 'Alauddin Manshur Syah dan Sri Paduka Bangta Muda bersemayam di atas singgahsana tahta kerajaan Negeri Aceh Darussalam, yaitu Pulau Sumatera, barangdisampaikan Allah Tuhan seru sekalian alam datangkan mendapat kehadapan majlis hadrat Sri Paduka Yang Mulia Maulana Al-Khaqan Al-A'zham Al-Mu'azhzham Khadimul Haramain Asy-Syarifain Khalifatul Muslimin Amirul Mu'minin (Tuan kami Khaqan yang agung lagi dipertuan agung pelayan dua Tanah Haram yang mulia, khalifah Muslimin, Amirul Mu'mini--MZ.) Maulana Al-Mu'azhham Sultan Al-Ghaziy 'Abdul Hamid Khan Ibnu Al-Marhum Maulana Sultan Abdul Majid Khan yang ada sekarang di dalam Negeri Istambul yang memerintah Agama Allah dan Syari'at Muhammad bin 'Abdullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam--Sallamahullah fid darain (semoga Allah menyelamatkanya di dunia dan akhirat).
Wa Ba'dahu, daripada itu maka hamba merafa'kan (mengangkat/mengirim--MZ) secarik kertas ke hadapan Hadarat ke bawa cerpu (sandal kulit yang bentuknya seperti terompah--MZ) Sri Paduka Tuan hamba karana harap hamba bahwa akan tilik dan pandang dan kenangan Hadarat Sri Paduka hamba yang mahamulia di atas hamba satu raja Islam min ahli La Ilaha illal-Llah Muhammad Rasulullah (dari pemeluk La Ilaha illal-Llah Muhammad Rasulullah--MZ) yang dha'if, dan lagi vizir (wazir) hamba yang dha'if2 dan segala orang ra'yat hamba Islam yang ada mereka itu di dalam Negeri Aceh Darussalam yang telah dianiayai oleh kafir mal'un 'aduwullah (kafir terkutuk, musuh Allah--MZ.) Bangsa Belanda dengan tiada kesalahannya telah jadi peperangan dan bermusnah2an dengan beberapa2 negeri dan beberapa2 masjid dan segala zawiyah, dan sekalian makam aulia2 habis dibakarnya dan beberapa2 makam yang tinggi habis diratakannya, dan sekalian makam raja2 habis dibinasakannya diratakannya.
Demikianlah diperbinasakan di atas Agama Islam hingga sampai kepada tarikh surat ini kepada dua puluh lima tahun (25) lamanya tiada berhenti2 dengan perang. Tambah lagi sekarang ini diperanginya kita dengan peluru hujan tiada ada di dalam hadat (adat/kebiasaan) sekali kali. 
Dengan sebab hal ini hamba merafa'kan sembah ke hadapan Hadarat Sri Paduka Tuan hamba yang maha mulia daripada asalnya yang telah jadi demikian ini sebab seorang Hindu yang sudah masuk Islam namanya Panglima Tibang maka mereka itu telah dipercaya oleh ayahanda hamba yang bernama Sultan Mahmud Syah maka Hindu itulah membuat sepucuk surat kepada Hulanda diperbuatnya dengan nama ayahanda hamba itu Sultan Mahmud Syah serta diambil cap dengan tiada diketahui oleh saudara ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah maka Hindu itu pun keluarlah dari Aceh pergi ke Negeri Riau mendapatkan wakil Hulanda yang di situ lalu pergi ke Betawi kepada gubernur jendral yang besar daripada Raja Hulanda.

Maka dengan hal itu apabila Gubernur Jenderal mendapatkan surat yang ada dengan cap mohor ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah itu percayalah Gubernur Jenderal maka disuruhilah seorang wakilnya serta dengan berapa bacik (nakhoda--MZ.) kapal perang pergi di Aceh maka apabila sampai di Aceh baciklah wakil jenderal itu ke darat berjumpalah ia dengan pegawai yang kecil2. Maka Wakil Jenderal Hulanda pun menyatakan yang Gubernur Jenderal sudah menerima surat daripada Sultan Mahmud Syah. Sekarang ini ia hendak masuk ke Negeri Aceh.
Apabila diterima oleh wazir2 yang di dalam Negeri Aceh terkejutlah dengan hal itu. Bermusyawaratlah wazir2 Aceh yang besar2 itu. Setelah putus musyawaratnya dipinta tunggu tiga tahun kepada Hulanda oleh sebab wazir2 itu tiada berani menerima Hulanda masuk ke Negeri Aceh karana saudara ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah umurnya pada masa itu tujuh belas (17) tahun, belum lagi sempurna aqalnya. Kedua perkara, wazir2 hendak merafa'kan sembah dahulu ke hadarat yang maha mulia Maulana Daulat Al-'Aliyyah Sultan Istambul dari karana pada zaman yaitu Daulat Al-Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghaziy Salim Khan, Nenekda hamba pada zaman masa dahulu yang bernama Sultan Iskandar Muda telah mengaku menjadi khadam serta menerima karuniai daripada Daulat Al-'Aliyyah Maulana Sultan AL-Ghaziy Salim Khan satu meriam tembak mirah panjang dua belas (12) hasta, dan nobat (gendang besar--MZ) dan satu (?) seruas (?) nafiri daripada perak, dan empat puluh empat (44) orang yang bersama2 [?] daripada Bangsa Turuki. Dan lagi kemudian daripada itu pada masa Nenekda hamba yang bernama Sultan Ibrahim Manshur Syah telah menyuruh seorang yang bernama Sayyid Muhammad Ghuts mengadap ke Hadarat Al-'Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghazi Abdul Majid Khan. Maka mekaruniakan [pada?] oleh Daulat Al-'Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghazi 'Abdul Majid Khan kepada Nenekda hamba itu Sultan Ibrahim Manshur Syah suatu bintang Majidi (bintang kehormatan Sultan 'Abdul Majid Khan--MZ) serta sebilah pedang besarung emas. 
Dengan sebab itulah musyawarat wazir2 segala ada dipinta tunggu kepada Hulanda tiga (3) tahun maka permintaan itu tiada dikabulkan, kemudian lagi dipinta tunggu (tangguh) enam bulan tiada juga dikabulkan, kemudian dipinta tunggu (tangguh) tiga bulan tiada juga dikabulnya permintaan itu. Maka peranglah oleh Hulanda Negeri Aceh. Sampai tarikh surat ini, berperang bangsa Islam2 Aceh dengan bangsa kafir mal'un 'aduwullah Hulanda.

Lagi diperbuatnya macam2 di atas hamba yang tiada patut yang di dalam adat aturan di atas sekalian raja2 berperang dengan satu raja, diperbuatnya seperti seorang perempuan telah diikat dipukulnya, di atas hamba, satu raja Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah, yang tiada kuasa usahakan diwushul (dicapai) diperiksanya apa2 yang kurang yang tiada cukupnya pekakas itu peperangan, dan sekalian kuala2 jajahan hamba ditutup daripada awalnya dan sekalian saudagar2 yang ulang pergi datang berniaga barang makanan pun tiada boleh, habis ditangkap dibuangnya.
Maka dengan sebab itulah tiada boleh lepas bicara hamba mengadukan untungan hamba yang di dalam aniaya kafir Hulanda kepada Maulana Daulat Al-'Aliyyah Sultan Istambul dan kepada segala raja-raja Islam yang lain.
Dan ini tambahan lagi di dalam ini tahun makin berganda2 keras hukumnya hatta sekalian orang2 miskin mencari ikan di tepi laut pun habis ditangkap rampas dan bunuhnya. Demikianlah diperbuat zhalim di atas hamba, satu raja Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah. 
Dan bertambah lagi ini tahun dia ujani hamba dan rakyat2 hamba dengan ujan peluru dengan "engine" (mesin) hamba yang tiada kuasa. 
Maka sekarang ini berserahlah untung nasib sendiri kepada Allah dan Rasul Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan kepada Maulana Khalifatul Muslimin Amirul Mu'minin Maulana Sultan Al-Ghazi 'Abdul Hamid Khan di Istambul adanya.

Maka hamba haraplah diterima perserahan hamba ini oleh Tuan hamba yang maha mulia supaya terpeliharalah Agama Allah dan Syariat Al-Muhammadiyyah dan untungan hamba dan sekalian Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang di dalam aniaya mal'un 'aduwullah kafir Hulanda ini.
Hendaklah dengan pertolongan Tuan hamba yang maha mulia di atas hamba yang dha'if, satu raja Islam dengan sekalian wazir2 Islam dan sekalian rakya2 Islam yang di dalam Negeri Aceh ini, yang telah haraplah hamba seperti langit dan bumi akan pertolongan Tuan hamba yang maha mulia Khalifatullah fil Ardh Amirul Mu'minin Maulana Sultan Al-Ghaziy 'Abdul Hamid Khan di atas hamba sekalian yang dha'if yang di dalam 'azaban syadidan ("siksa yang pedih") adanya. Wassalam, khitam. Tammatil Kalam bil khairi Ajma'in. Amin Allahumma Amin.
Tersurat di dalam Negeri Aceh Darussalam kepada 25 bulan Muharram kepada sanah 1315 (H)(Musafir zaman)


Rabu, 15 Juli 2015

SURAT SULTAN MANSYURSYAH KEPADA SULTAN ABDUL MAJID DITURKY


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!
Terima kasih kepada Dr. Annabel Gallop dan kawan-kawannya yang telah mempublikasi naskah surat ini dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”, seraya sangat mengharapkan publikasi dokumen-dokumen yang lain menyangkut tanah negeri ini.
[1] بسم الله الرحمن الرحيم
[2] الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد
Adapun kemudian daripada itu maka inilah waraqah ikhlash
[3] wa tuhfatul ajnas yang termaktub dalamnya dengan beberapa sembah salam ta’zhim dan takrim yang keluar daripada qalbu yang nurani dan fu’ad yang haqiqi dan sir yang khafi dan rahsia yang terbunyi (?) yaitu ialah yang datang 
[4] daripada pihak hamba anak amas (emas?) yang hina dina lagi fana tiada menaruh daya dan upaya serta dengan tiada mengetahui adat dan majlis (?) lagi dha’if dengan miskin yaitu yang bernama Sultan Manshur Syah
[5] ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah yang ada hayyah duduk dengan (duka percintaan dan kesakitan?) yaitu yang memerintahkan hukum dan adat dalam daerah Negeri Aceh Bandar Darussalam maka barang disampaikan Allah Subhanahu
[6] wa Ta’ala datang mendapatkan ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat Penghulu hamba yang maha mulia lagi a’la dan fadhilah yang telah dikaruniai daripada Tuhan Yang Bernama Rabbukumul A’la, yaitu Saiduna wa Maulana Paduka Seri Sultan
[7] Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan Johan Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam yang tahta kerajaan daripada emas qudrati yang sepuluh mutu lagi yang bertatahkan ratna mutu manikam daripada intan dikarang dan
[8] zabarjad yang telah terseradi dalam daerah Negeri Rum Qustantin Bandar Darul Ma’mur wal Masyhuriyah yang memerintahkan amar bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar pada sekalian alam dunia laut dan daerah dengan sifat adilnya serta
[9] gagah dan kuat pada memegang syari’at Muhammad ahlussunah wal jama’ah dalam negeri Makkah Al-Musyarrafah dan Madinah Al-Munawwarah dan negeri yang lain jua adanya maka tiadalah patik perpanjangkan kalam melainkan seqadar patik mengadukan
[10] hal dengan ihwal yang maksud sahaja. Amin. Syahdan, patik beri ma’lum lah ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat adapun karena tentangan patik yang di Negeri Aceh sungguhlah anak amas Duli Hadarat
[11] daripada zaman dahulu hingga zaman sekarang tiadalah menaruh lupa dan lalai akan duli hadarat daripada tiap-tiap kutika dan masa pada siang dan malam, pada pagi dan petang. Adapun karena hal ihwal surat ini patik mengirimkan 
[12] ke bawah Duli dikarena tatkala dahulu Negeri Jawi sekaliannya orang Muslimin dan kuatlah dengan berbuat ibadah dan tetaplah agama Islam dan sambunglah kehidupan segala orang faqir dan miskin dan lainnya dan
[13] dan sekarang sudah binasa negeri karena sudah masuk orang kafir Belanda pada satu Pulau Jawa dan serta dengan Pulau Bugis dan Pulau Bali serta dengan Pulau Borneo dan serta dengan Pulau Aceh yang setengah
[14] sudahlah diambil oleh orang Belanda dan serta dengan Raja Minangkabau sudah ditangkapnya dan sudahlah dibawak ke negeri dianya pada tarikh sanah 1253 dan sampailah surat kepada patik ke Negeri Aceh daripada segala ulama
[15] dan orang-orang besar Minangkabau dia minta tolong bantu kepada patik, dan patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan orang besar-besar yang dalam Negeri Aceh pasal hal itu maka berkatalah segala hulubalang kepada patik, adapun
[16] sekarang ini karena kita hendak berlawanan perang dengan orang Belanda karena Belanda itu ada lah kapal perang, karena ... (?) kurang daripadanya, dan lagi pula kita ini di bawah perintah Sultan Rum sekarang, barang-barang hal pekerjaan
[17] wajiblah Tuanku kirimkan suatu surat kepada penghulu kita Sultan Rum dan hendaklah kita minta tolong bantu padanya lagi serta dengan kita minta kapal perang barang berapa yang memadai serta laskar dalamnya orang Turki
[18] sudah itu maka patik kirimlah suatu surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1253 dan adalah khabar dalam surat itu patik mengadukan sekalian hal ihwal orang Belanda yang dalam Negeri Jawi dan hal ihwal orang Muslim
[19] dan yang membawak surat itu orang Marikan namanya Kapitan Tun (Ton?) serta dengan persembahan tanda yaqin patik akan Duli Hadarat: lada putih adalah lima ribu (5000) rathl (ratl: 407, 695 g) dan kemenyan putih adalah tiga ribu (3000) rathl dan gaharu
[20] adalah dua ribu (2000) rathl dan kapur adalah dua ratus (200) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin, dan patik nantilah datang perintah dan 
[21] wasithah (perantara) dari Duli Hadarat hingga sampai empat tahun lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1257 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Patik kirimkan pada orang Prancis
[22] surat itu, namanya Kapitan Batkin (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih empat ribu (4000) rathl dan kemenyan putih dua ribu lima ratus (2500) rathl dan gaharu adalah seribu tujuh ratus lima puluh (1750)
[23] rathl dan kapur adalah seratus lima puluh (150) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin dan patik nantilah perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga sampai empat tahun
[24] lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1261 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Akan yang membawak surat itu orang Francis, namanya
[25] Kapitan Istilong (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih adalah tiga ribu lima ratus (3500) rathl dan kemenyan putih adalah dua ribu (2000) rathl dan gaharu adalah seribu lima ratus (1500) rathl dan kapur adalah seratus (100) 
[26] rathl dan lainnya pasal kain-kain Aceh adalah dua tiga helai karena patik orang miskin lagi hina, dan patik nantilah pula datang perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga empat tahun lamanya maka tiadalah datang perintah 
[27] dan wasithah dari Duli Hadarat. Sudah itu maka patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan segala orang yang besar-besar, bagaimanalah kita ini tiada datang perintah dan wasithah dari Penghulu kita di Negeri Rum. Adapun karena Negeri Rum terlalu
[28] sangat jauh barangkali tiada sampai surat yang kita kirim ke bawah Duli Hadarat Syah Alam. Sekarang, baiklah kita kirim satu orang Aceh ke Negeri Rum, kita suruh tanyakan surat yang dahulu ada sampai ke bahwa duli atau tiada?
[29] maka ialah pada tarikh sanah 1265 pada lima belas hari bulan Rabi’ul Awal pada hari Khamis pada dewasa itulah patik berbuat surat sekeping kertas ini tawakkal yaqin patik ke bawah lapik qadam tapak kawuh Duli Hadarat. 
[30] Amma Ba’du. Ampun Tuanku sembah ampun, ampun beribu kali ampun, patik anak amas Tuanku, Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah memohon ampun ke bawah qadam Duli Hadarat yang maha mulia,
[31] yaitu Sultan Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan. Syahdan, patik beri maklumlah ke bawah qadam Duli Hadarat, adapun karena patik sekarang ini sangatlah masygul (?) dan serta kesukaran karena 
[32] sebab Negeri Jawa dan Negeri Bugis dan Negeri Bali dan Negeri Borneo dan Negeri Palembang dan Negeri Minangkabau sudahlah dihukumkan oleh orang Belanda, dan sangatlah susah segala orang yang Muslim, lagi sangatlah
[33] kekurangan daripada agama Islam karena sebab keras orang kafir Belanda itu. Dan muwafaqah lah segala orang yang besar-besar segala rakyatnya yang di dalam negeri, semuhanya itu hendak melawan dia lagi hendak memukul dia maka dikirimlah 
[34] surat daripada tiap-tiap orang yang besar-besar dalam negeri semuhanya itu kapada patik ke Negeri Aceh karena Negeri Aceh yang dalam pegangan perintah patik belumlah dapat oleh Belanda segala negeri dan sekalian bandar. Dan sekarang 
[35] orang Belanda hendak memeranglah kepada patik ke Negeri Aceh dan sudahlah siapa dianya, dan patik pun ‘ala kulli hal siaplah akan melawan dia, dan segala hulubalang dan orang yang besar-besar pada negeri yang sudah dihukum oleh
[36] Belanda sudah sampai surat kepada patik ke Negeri Aceh dan muwafaqah lah dianya dengan patik, lagi satu batin dengan patik semuhanya orang itu, apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah 
[37] melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh dan tentangan patik pun
[38] menanti titah dan wasithah daripada Duli Hadarat yang di negeri Rum. Ampun Tuanku beribu kali ampun, kurnia sedekah Duli Hadarat kepada patik ke Negeri Aceh kapal perang alkadar dua belas serta laskar dalamnya barang
[39] berapa yang memadai dalam kapal itu dan tentangan belanja laskar dan belanja kapal sekaliannya di atas tanggungan patik. Jika sudah sampai ke Negeri Aceh adalah dengan ikhtiar patik semuhanya itu, dan hendaklah dengan izin
[40] Duli Hadarat kepada patik dan lainnya hendak memerang kafir Belanda itu pada tiap-tiap negeri dan tiap-tiap bandar. Dan hendaklah sedekah Duli Hadarat surat tanda alamah Duli Hadarat kepada kami semuhanya yang di dalam Negeri Jawi
[41] ilaihim Ajma’in supaya suka kami mati syahid. Itulah ihwalnya dan yang lain tiadalah patik sebutkan dalam waraqah ini melainkan Duli Hadarat periksa pada orang yang membawak surat ini karena dianya hulubalang
[42] patik lagi nasab dengan patik, namanya Muhammad Ghauts bin ‘Abdurrahim karena dianya amanah patik lagi badal ganti patik berjalan menjunjung ke bawah qadam Duli Hadarat ke Negeri Rum dan apa-apa khabarnya sungguhlah khabar
[43] patik dan pekerjaannya pun sungguh pekerjaan patik dan hendaklah dengan sekira-kira titah Duli Hadarat akan Muhammad Ghauts kembali ke Negeri Jawi dan tiadalah tanda hayyah patik melainkan ampun beribu-ribu kali ampun. Tamma Kalam sanah 1265.(musafir zaman via mapesa)

Minggu, 03 Mei 2015

RAJA BUJANG TRUMON


Raja Bujang adalah penguasa Trumon yang paling terkenal. Baginda dinilai Ritter sebagai seorang penguasa pribumi yang mempunyai otak dan lihai bermain politik, maka telah melakukanmanuver-manuver politik dan ekonomi (baik dengan Aceh, Belanda dan pedagang asing lainnya, seperti orang Inggeris dan orang Cina) dalam mengumpul uang untuk melanggengkan kuasanya. Baginda juga memiliki kapal untuk membawa lada dari Trumon ke Batavia, Pulau Penang dan Bengali dan balik dengan barang-barang impor (Ritter 1839: 11; Stibbe, Wintgens &Uhlenbeck 1919: 441).
Hubungan antara Sultan Aceh dengan Trumon sepanjang pemerintahanRaja Bujang mulai kurang mesra. Raja Bujang ingin lebih bebas dari hegemonikuasa Kutaraja yang sudah berabad-abad menaungi raja-raja kecil di pantai barat Aceh. Antara sebab utama rosaknya hubungan itu ialah perampasan kapal Anna milik Raja Bujang, disebut
Bagianna oleh orang Trumon sendiri, yang penuh dengan muatan yang dilakukan wakil Sultan Aceh dalam pelayarannya dari Bengali ke Trumon. Selepas itu, kapal itu dipakai Sultan Aceh untuk menyerang kapal-kapal dagang Eropah yang lalu di perairannya. Antara yang menjadi mangsa ialah kapal Inggeris.

Nasib kapal Bagianna yang dirampas penguasa Aceh itu dilaporkan dalam
the Asiatic Journal 
(jilid 24, bagian 2 New Series/September-December 1837, halaman 169 di bawah rubrik “DutchIndia”) yang berbunyi:
The notorious Achinese piratical statebark Bagianna which had recently been committingserious aggressions against the British flag, under the directions of the Rajah Moodah[Raja Muda; penulis] of Acheen, has, we learn, been captured by the Dutch men of war,which had been sent to Acheen to demand the restitution of the garda-costa schooner 
Dolphin, and the surrender of her crew (by whom she had been cut off from Padangroads, with treasure on board, and taken into Acheen), and taken away, in retaliation of the conduct of the rajah, in harbouring the crew of the
Dolphin and refusing to restorethe vessel. The gunner of the
Bagianna
was dismissed by the Dutch, and having madehis way to Penang, related the circumstance of the capture of the craf
W. L. Ritter (1839:9-13)

Juga melaporkan Raja Bujang telah memagariistananya dengan benteng yang tingginya 8-10 kaki, selain dikelilingi parit sertadilengkapi baluarti (
bastion ), besi runcing dan kanon untuk melindungi diri
terakhir masa kekuasaanRaja Bujang (1814-1835)

putera mahkota Trumon, Nyak Bata (beberapa sumber menuliskannya Nyak Batak), yang setelah kemangkatan ayahnya pada tahun 1835 langsung naik nobat dalam usia 12 atau 13 tahun. Setelah naik takhta, Nyak Bata bergela
Raja Muda, (“Radja Moeda van Troemoen” ) Oleh kerana masih muda, baginda diwakili pamannya yang menjadiraja di Singkel, Muhammad Arif (RajaAmaris) dengan dibantu lima orang wali, iaitu Teuku Haji Kotta, Teuku Moramdari Daing, Teuku Molaban, Teuku Haji Matinda, dan Teuku Lalumpa (Ritter 1839: 11; Von Rosenberg 1885).

Nyak Bata adalah putera Raja Bujang dari isterinya seorang wanita Indo
yang dipanggil orang Trumon sebagai Si Nonna (Si Nona). Ayah Si Nonna adalah orang Aceh dan ibunya wanita Eropah, namanya Kaatje Stoolte, anak seorang doktor di Padang (Ritter 1839: 11-12; Veth 1873: 94). Menurut Hoffman(1873: 7) Kaatje Stolte adalah “keturunan seorang wanita Kristen, anak seorang doktor yang pernah bekerja untuk VOC di Padang”. Kaatje dan pemuda Aceh yang dicintainya telah lari dari Padang semasa kota itu diserang bajak laut LeMême asal Perancis pada tahun 1793 (Netscher 1881: 112-22).

Pasangan itu menaiki sebuah kapal yang kebetulan sedang berlabuh di pelabuhan Muara.Kaatje tidak mahu kembali ke Padang. Pasangan yang kemabukan cinta itu akhirnya berkawin dengan Kaatje setelah memeluk Islam dan kemudian sampai di Trumon.Di Padang, kedengaran khabar angin yang mengatakan gadis Indo Aceh belanda itu telah diculik orang pribumi dan dijadikan budak.
Tidak lama kemudian, lahirlahseorang bayi Indo di Trumon, anak dari pasangan Kaatje Stolte dan pemuda Aceh itu, yang menjadi gadis yang sangat luar biasa cantiknya dan dipanggil Si Nonna oleh penduduk Trumon.
Gadis jelita itu dipersunting oleh Raja Bujang, penguasa Trumon. Dari perkahwinan itu, lahirlah putera mahkota Nyak Bata(Amran 1981: 346-50). Menurut Ritter (1839) Kaatje Stolte, suaminya dan anak perempuannya Si Nonna ingin naik haji ke Mekah. Namun, mereka terpaksa berhenti di Trumon beberapa lama dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci.Ketika itulah Raja Bujang melamar Si Nonna yang cantik itu untuk dijadikan permaisurinya. Akibatnya, mereka tidak meneruskan perjalanan ke Mekah. Padatahun 1837, Kaatje Stoolte sudah berumur kira-kira 70 tahun. Setelah kematiansuami, ia kadang-kadang tinggal di Trumon dan di Bulu Sama, kedua-duawilayah itu di bawah kekuasaan keluarga Raja Trumon (Veth 1837: 172
Semasa pemerintahan Raja Muda alias Nyak Bata, Kaatje Stolte telah memainkan pengaruhnya di istana Trumon untuk membuka jalan kepada orang Belanda untuk menguasai negeri itu (Kielstra 1888: 1194). Sebelum itu, semasa pemerintahan ayahnya, Raja Bujang, orang Belanda sudah berusaha memasukiTrumon: pada Oktober dan November 1830, lima tahun setelah penyerahan Bengkulu oleh Inggris kepada Belanda, H. MacGillavry, Residen Belanda diPadang mengunjungi Trumon.
Pada 25 November 1830, sudah ditandatangai perjanjian dengan Raja Bujang (Lange 1852). Walaupun perjanjian itu tidak begitu efektif, tetapi pengaruh sultan Aceh tetap kuat dalam masyarakat
Setelah Raja Bujang mangkat dan digantikan Nyak Bata, Trumon berhasil dikuasai Belanda. Satu perjanjian yang mengandungi enam pasal telah disodorkan Jenderal AV. Michiels (Gubernur Sumatra’s Westkust pada waktuitu yang berkedudukan di Padang) kepada Raja Muda (Kielstra 1888: 1199).

Penguasa Trumon yang muda itu tidak berkuasa untuk menolaknya. Sejak itu,ia memperoleh bayaran tahunan sebesar 2400 Gulden dari Belanda dengan imbalan kegiatan perdagangan kerajaannya harus berada di bawah kuasa Belanda.(komplek makam raja raja trumon,courtesy youtube

Minggu, 15 Maret 2015

SUSUNAN MAJELIS MAHKAMAH RAKYAT DIMASA RATU TAJUL ALAM

.
Pada tahun 1059 H. atau 1649 M. • Ratu Tadjul Alam Safiuddin
Sjah mengadakan perubahan susunan anggota badan legislatif atau
Madjelis Mahkamah Rakjat jang terdiri dari 73 orang tetapi jg didalam
nja ditempatkan 16 orang wanita turut duduk dalam madjelis itu untuk
turut sama2 dengan kaum pria mengatur urusan negara guna mempertimbangkan kebidjaksanaan Sulthanah
Adapun susunan Badan Perwakilan Rakjat Parlemen Atjeh adalah;
1. Sjahil
2. Budjang Djumat Turki)
3. Ahmad Bungsu
4. Ahmad Jatim
5. Abdul Rasjid
6. Faimis Said
7. Iskandar
8. Ahmad Dewan )
9. Majur Thalib (orang Turki)
10. Si Njak Bunga (wanita)
11. Si Halifah (wanita)
12. Ahdal
13. Abdul
14. Abdul Madjid
15. Si Sanah (wanita)
16. Gudjah Hamid
17. Isja
18. Hiajat
19. Si Njak Bunga (wanita)
20. Maimunah (wanita)
21. Siti Tjahja (wanita)
22. Mahkiah (wanita)
23. Buket
24. Manan
25. Ahmad Djalii
26. Ben Muhammad
27. Si Njak Apakat
28. Gudjah Nazir (orang Turki)
29. Si Njak Puan (wanita)
30. Abdul Hamfd
31. Malik Saleh Samir
32. Chatib Muadzam
33. Imam Muadzam
34. Abdul Rahman
35. Badaja
36. Budjang Aramsjah
37. Nadisah (wanita)
58.Majur Muhammad (orang turki)
39. Dapa Ahmad Sjah.
40. Penghulu Mu'aüm
41. Seri Dewa
42. Sjahad
43. Manjak
44. Njakti Tjaja (wanita)
45. Ahmad Ratib
46. Minhan
47. Si Habibah (wanita)
48. Mustafa.
49. Si Sjadin
50. Si Radjuna
51. Si Aman Pana
52. Si Njakrih
53.zamzami
54.gudjah ruhsia(orang turki)
55.raja megat
56.abu gaseh
57. Badal Mustup
58. Umi Puan (wanita)
59. Siti Awan (wanita)
60. Umi Njak Angka (wanita)
61. Si Aman
62. Si Njak Tjampli
63. Abdul Hakim
64. Si Mawar (wanita)
65. Si Manis (wanita)
66. Abdul Madjid
67. Ibrahim Rasia
68. Abdullah.
69. Umar
70.Abdul Rahim.
71. Mahjudin
72. Harun.
73.Abdul muthalib.
diantara 73 anggota dewan perwakilan itu 9 orang memegang
fungsi wazir atau menteri duduk dalam kabinet Sulthanah jaitu:
JANG PERTAMA : 1. Si Njak Tjampli, 2. Ibrahim Rasia, 3. Abdullah,
ketiga mereka itu masuk bahagian (seksi) Paduka Tuan: JANG KEDUA-
1. Umar, 2. Abdul Rahim, 3. Mahjudin, ketiga mereka ini masuk bahagian
Sri Rama; JANG KETIGA: 1. Harun, 2. Abdul Muthalib, 3. Abdul majid.
ketiga mereka ini fungsi martabat Wazir/Menteri, sedang jang
lain 64 orang sebagai anggota dewan perwakilan Rakjat,
nama tersebut dipetik dari naskah Qanun Al Asji Darussalam jang tersimpan dalam
chazanah kitab2 di dajah Marhum Tengku tanoh Abeë.(dikutip dari buku srikandi atjeh zainuddin)

Rabu, 28 Januari 2015

T. ABDUL MANAF PUTRA LEUNG PUTU PERUMUS PROKLAMASI RI


AHMAD subarjo dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, tanggal 23 Maret 1896. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf,[masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kakek Abdul manaf/Ahmad subarjo dari pihak ayah adalah Ulee Balang dan ulama di wilayah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf adalah pegawai pemerintahan dengan jabatan Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe, Kerawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah. Ia keturunan Jawa-Bugis, dan merupakan anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.
Ayahnya mulanya memberinya nama Teuku Abdul Manaf, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo. Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena "Peristiwa 3 Juli 1946".
Ia bersekolah di Hogere Burger School, Jakarta (saat ini setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, Shodanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.
Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan
Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subarjo di rumah Laksamana Muda Maeda.Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun 1957 - 1961.

Jumat, 05 Desember 2014

4 DESEMBER LANJUTAN PERJUANG PERANG KEMERDEKAAN ACEH


4 Desember,Itu lah hari setelah Belanda menembak dan membunuh kepala negara Aceh sumatra yang terakhir,tgk Chik maat ditiro dan sebuah pertempuran sengit di alue bhot.Tangse 3 desember 1911.karena itulah belanda menganggap 4 desember 1911 sebagai hari berakhirnya kedaulatan negara aceh dan sebagai hari kemenangan terakhir Belanda atas kerajaan aceh sumatra.sebagaimana yg ditgas kan oleh Kolonel J schimidt,Komandan perang belanda dalam pertempuran alue bhot.
akan tetapi semua ini tdk benar,,,negara aceh tak pernah menyerah kepada Belanda baik secara de jure atau de facto.pemerintah aceh tdk pernah menanda tangani pasal pasal persetujuan penyerahan atau perdamain dengan Belanda.perjuangan tetapberlanjut,bendera aceh tetap berkibar setengah tiang untuk menghormati kenangan kepahlawanan Kepala negara aceh yang masih muda. TGK CHIK MAAT DITIRO yang gugur dalam mempertahan kan tanah airnya,pada umur yang masih sangat muda,16 tahun.
setelah TGK chik mayeddin ditiro dan istrinya Pocut putro Gambang wafat dan TGK Chik dibuket ditiro syahid di tangse pada tahun1910,dan setelah TGK maat ditiro syahid pada tgl 3 desember 1911.perlawanan rakyat aceh terhadap belanda berlanjut tanpa komando.
Sebelum sultan menyerah pada tahun 1903.sultan muhammad daudsyah telah mendelegasikan kepemimpinan negara aceh kepada Dewan konsersium kerajaan yang terdiri dari;
1. teuku panglima polim sri muda perkasa Muhammad daud.
2.Teuku raja Keumala.
3.Teungku chik Ditiro mahyeddin dan teungku dibuket(tgk muhammad ali zainal abidin sebagai mudabbirul mulki(kepala negara).adifa

Kemudian jabatan mudabbirul mulki ini jatuh ketangan teungku Chik maat ditiro,ketika panglima polem dan raja keumala menyerah pada tahun 1903.kepemimpinan secara praktis jatuh kepada Tgk mahyeddin dan teungku dibuket,dan ketika ulama ini syahid,kepemimpinan di ambil alih oleh Tgk Maat ditiro.pemuda berusia 16 tahun keturunan dari TGK chik ditiro.SELAMAT MILAD PERJUANGAN KEMERDEKAAN YG KE 38.hari ini bertepatan dengan hari wafat nya pahlawan Tgk maat ditiro. alfatihah untuk beliau.
'uronyo geutanyo angkatan aceh mardeka yang po tanggong jaweub,peuselamat pusaka iskandar mudanyo.uronyo,jeumnyo.gatakeuh yang po nibak ateuh pusaka nibak sultan iskandar muda,beutatupu yum,beutapham makna nibak pusaka rajanyo,(pidato HT pada hari peringatan 350 thn wafat nya iskandar muda)

Senin, 01 September 2014

SERANGAN BELANDA JANG KEDUA DAN KEKALAHANNJA JANG TERAKHIR

Sebagaimana jang terdjadi, sesudah kekalahannja dalam serangan pertama itu, Belanda melakukan
serangan jang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam, dengan tidak pernah mentjapai
kemenangan jang sesunguhnja terhadap bangsa Atjeh jang mempertahankan dirinja itu. Perang
Belanda (sebagai bangsa Atjeh melihatnja) atau Perang Atjeh (sebagai bangsa Belanda melihatnja)
berdjalan hampir satu abad, sehingga oleh madjallah Amerika, HARPER´S MAGAZINE, sudah
dinamakan sebagai perang “SERATUS TAHUN MASA INI”.

Achirnja bangsa Belanda sudah dikalahkan oleh bangsa Atjeh dalam pertempuran-pertempuran jang terdjadi di seluruh Atjeh pada bulan Mart, 1942, sebelum Djepang masuk ke Atjeh dalam perang Dunia ke-II demikianlah, Belanda tidak pernah mentjapai tudjuan perangnja di Atjeh: Negara Atjeh tidak pernah menandatangani surat menjerah kepada Belanda, dan perlawanan tidak pernah dihentikan sampai achirnja Belanda diusir dari bumi Atjeh dengan segala kehinaan.

Tetapi diantara dua tanggal itu, njakni antar tanggal 26 Mart, 1873 (ketika Belanda menjatakan
perang kepada keradjaan Atjeh jang merdeka dan berdaulat) dan bulan Mart 1942 (ketika semua
Belanda dan kaki-tangan-nja di usir dari Atjeh) Beland apernah membuat propaganda bohong jang
mengatakan bahwa mereka sudah dapat “menaklukan” Negara Atjeh dan bahwa mereka sudah sah
menduduki Atjeh, jaitu setjara “legal”. Propaganda Belanda ini adalah palsu dan bohong sama
sekali. Belanda tidak pernah dapat berbuat sebagai apa jang di propagandakanja itu Sebagaimana
sudah di ketahui, serangan Belanda jang pertama, dibawah pimpinan djenderal Kohler, sudah
dihantjur-leburkan oleh tentera Atjeh dan Kohler sendiri di hukum mati di Kuta Rdja. Serangan
Belanda jang kedua dibawah pimpinan djenderal Van Swieten, jang dimulai pada tanggal 25
Desember, 1873, dengan kekuatan jang djauh lebih besar lagi dari serangan pertama, djuga tidak
mendapat kemenangan, sebagai mana jang sudah diakui sendiri oleh Van Swieten dalam buku-nja.

Dalam bulan Djanuari, 1874, segera sesudah ia mendarat dipantai Atjeh,Van Swieten
menjatakan kepada dunia bahwa ia sudah mengambil (annexed) keradjaan Atjeh dan mamasukannja
kedalam Hindia Belanda (alias Indonesia). Ini telah dilakukannja untuk menjenangkan hati bangsa
Belanda jang telah begitu malu dimata dunia atas kekalahan-kekalahan jang mereka terima dari
tangan bangsa Atjeh. Tetapi karena Negara Atjeh dan Tentara Atjeh jang sangat kuat itu masih
berdiri dan mengalahkan tentara Belanda dalam setiap medan perang jang terdjadi sesudah nja,
maka propaganda bohong dari Van Swieten itu tidak dapat disembunjikan kebohongannja dimata
dunia, sehingga pernjatan Van Swieten itu mendjadi masjhur dengan nama “Van Swieten Illegal
Annexation of Acheh”.

Kemudian daripada itu, pada tahun 1879, Van Swieten sendiri mengaku bahwa ia sebenarnja tidak pernah dapat menaklukkan Atjeh, dan ia meminta kepada bangsa nja supaja ia djangan lagi dipanggil dengan nama djulukan “Penakluk Atjeh”sebab katanja ia malu - karena ia tidak pernah dapat menaklukan bangsa Atjeh. Berdasarkan atas pengalamannja sebagai panglima tertinggi Angkatan perang Belanda di Atjeh,

Van Swieten mengatakan bahwa ia sudah jakin bangsa Atjeh itu tidak mungkin dapat dikalahkan dalam medan perang. Sekarang ia mengatakan perang Atjeh itu satu satu kesalahan dari pemerintah Belanda. Belanda wadjib menarik diri dari Atjeh dan mengakui Atjeh sebagai Negara Merdeka kembali. Perang Atjeh bukan sadja menghancurkan tentera Belanda di Atjeh, tetapi akan menghantjurkan kekuasan Belanda di “Indonesia”. Van Swieten begitu jakin pada pendiriannja itu hingga ia menjusun satu gerakan politik di negeri Belanda untuk mempengaruhi pemerintahan Belanda supaja mengikuti kebidjaksanaan politik jang diandjurkannja.

Kata Van Swieten: “
une nation ne meurt pas de reconnaitre une faute, mais d’y persister” - satu bangsa tidak akan mati karena menginsafi satu.kesalahan jang sudah dibuatnja, tetapi akan mati djika bangsa itu terus menerus melakukan kesalahan itu! Seorang djenderal Belanda jang sudah menjatakan bahwa ia sudah “megambil” dan sudah “menaklukan” dan sudah “memasukkan” Negara Atjeh Merdeka kedalam “indonesia”-nja,kini menuntut supaja Atjeh diakui sebagai Negara Merdeka kembali! Pemerintah Belanda tidak mengikuti nasihatnja dan perang berdjalan terus.

Tetapi lagi-lagi, pada tahun 1881, pemerintah Belanda menjatakan bahwa Atjeh sudah dapat
ditaklukan dan bahwa perang Atjeh sudah selesai dengan kemenangan bagi pihak Belanda. “Ini
adalah angan-angan jang bukan-bukan, jang tidak berdasarkan kenjataan, jang dibikin-bikin oleh
kaum pendjadjah,” tulis Professor M.C. Ricklefs. Seterusnja ia memberi komentar sebagai berikut :
„Perang Atjeh adlah suatu peperangan jang lama dan pahit sekali. Ketika tentera Belanda madju
sambil mendjatuhkan bom dan membakar kampung- kampung, penduduk lari ke gunung-gunung
tetapi tetap meneruskan perlawanan mereka ….Perlawanan dipimpim oleh ulama-ulama dan jang
paling masjur adalah Tengku Tjik di Tiro (1836-91),dan perlawanan mendjadi perang sutji antara
umat Islam dan kafir. Achirnja Belanda mendjadi sadar bahwa mereka tidak menang apa-apa, dan
tidak menguasai sedjengkal tanah dari tangsi-tangsi mereka. Biaja peperangan ini besar sehingga
pada tahun 1884-5 Belanda terpaksa menarik mundur tenteranja ke benteng-benteng, dan dengan
demikian maka negeri Atjeh kembali ke dalam tangan bangsa Atjeh sendiri.”

Surat kabar London MORNING POST, menulis dalam editorialnja pada hari 2 Juli 1874 sebagai
berikut:
„Sudah mendjadi satu kenjataan bahwa bangsa Atjeh itu bukanlah satu bangsa jang mudah
dikalahkan orang. Mereka sudah memperlihatkan kekuatan dan kesangupan jang hampir-hampir
tidak ada tjontohnja dalam melawan dan menentang si pendjadjah negeri mereka. Laporan jang
terachir, jang kami terima dari suber-sumber jang di pertjajai, memperlihatkan betapa besar
kekuatan dan bagaimana keras tekad mereka untuk menerus peperangan: mereka muntjul kembali di
tempat-tempat dimana tadinja mereka sudah dikalahkan dan dan ditempat-tempat jang sama sekali
tidak di sangka-sangka oleh Belanda….

 Kabarnja kenjataan-kenjataan ini sudah begitu besar
mempengaruhi dan mengobah pendapat djenderal Van Swieten mengenai semangat perang bangsa
Atjeh. Satu bangsa jang sanggup berperang dengan semangat jang sematjam ini tidak akan segera
menjerah, dan kini sudah terang bahwa Belanda sudah salah terka dengan pernjataan-pernjataannja
jang mengatakan peperangan akan segera berachir.... Keberanian bangsa Atjeh memaksa kita
mengankat tangan, memberi hormat: dan ada sesuatu dalam semangat bangsa jang baik ini jang
menjebabkan mereka tidak mau merendahkan diri kepada sipendjadjah dan musuh-musuh mereka.
Dengan penuh kesabaran orang Atjeh memperbaiki kembali benteng-benteng mereka jang sudah
rusak, atau mendirikan jang baru ditempat benteng lama jang sudah roboh, dan dari sana membalas
tembakan-tembakan Belanda walaupun tidak kena, tetapi mesti ada balasan! Oleh karena itu apakah
perlu diherankan bahwa “kemenangan” Belanda itu begitu tidak menjakinkan? Ketika sedjarah
perang Belanda dengan Atjeh ini ditulis dan sibukukan, kita pikir, hal itu tidak akan menambah
kebesaran bangsa Belanda.”

Hal ini sebenarnja sudah kedjadian. Sampai sekarang sudah lebih 500 buku sedjarah ditulis dalam
bahasa Belanda mengenai Perang Belanda dengan Atjeh itu dan sungguhlah bangsa Belanda tidak
keluar dari halaman-halaman sedjarah itu lebih baik dari sudut moral dan militer. Sebaliknja bangsa
Atjeh-lah jang ternjata lebih besar dan lebih baik dari sudut moral dan militer, dalam tekadnja untuk
hidup sebagai bangsa jang merdeka. Dalam satu diantara buku-buku sedjarah Perang Atjeh (Perang
Belanda) jang terachir, pengarangnja,

Paul Van´t Veer, membuat kesimpulan sebagai berikut:
“Bangsa Belanda dan negeri Belanda tidak pernah menghadapi satu peperangan jang lebih besar
dari pada peperangan dengan Atjeh. Menurut pandjang waktunja, perang ini dapat dinamakan
perang delapan puluh tahun. Menurut djumlah korbannja - lebih seratus ribu orang jang mati
-perang ini ada satu kedjadian militer jang tidak ada bandingnja dalam sedjarah bangsa Belanda.
Untuk negeri dan bangsa Belanda, Perang Atjeh itu lebih dari pada hanja pertikaian militer: selama
satu abad inilah persoalan pokok politik Internasional, politik nasional, dan politik kolonial
Belanda.”
“Atjeh bukanlah Djawa. Sebenarnja sudahlah terang benderang bahwa dalam bagian dunia jang
setjara umum dan jang tidak berketentuan disebut Hindia Belanda („indonesia“) tidak ada satu
keradjaan jang dapat dibandingkan dengan Atjeh. Ini kita tahu sekarang ini. Satu peperangan jang
lamanja lebih setengah abad, seratus ribu orang mati, dan setengah miljar rupiah Belanda abad ke-
19 jang mahal itu, sudah mendjadi bukti dari hal ini. Kita sudah tahu ini sekarang, tetapi kita tidak
tahu itu di tahun 1873. Biarlah kenjataan-kenjatan ini tegak berdiri - djangan sembunjikan - supaja
orang-orang di negeri Belanda, atau lebih-lebih lagi di pulau Djawa, dapat mengetahui manusia jang
bagaimana bangsa Atjeh itu.

Paul Van´t Veer menulis dalam bukunja itu semua kedjadian-kedjadian di Atjeh antara tahun 1873
dan 1942 ketika bangsa Belanda diusir dari Atjeh untuk kali jang terachir. Ia membuat kesimpulan:
“Atjeh adalah jang paling achir ditaklukkan tetapi jang pertama sekali merdeka kembali!” - sebab
sehabis perang dunia jang ke-II , ketika Belanda kembali menduduki tanah djadjahan mereka jang
kini sudah diberi nama baru sebagai “indonesia” mereka tidak berani kembali ke-Atjeh. Sebab itu
adalah sebagai hak bangsa Atjeh untuk merdeka dan berdaulat kembali - seperti dimasa sebelum
Belanda datang menjerangnja. Tetapi hal jang adil dan lumrah ini tidak terdjadi karena kedustaan
dan tipuan bangsa Belanda dan bangsa djawa atas bangsa Atjeh(sumber perkara dan alasan.oleh Teungku Muhammad Hasan Ditiro)
Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah.Sultan Terakhir Kesultanan Atjeh Darussalam

Selasa, 20 Mei 2014

SULTAN ISKANDAR MUDA MENERIMA UTUSAN DARI PRANCIS


.Kedatangan Agustine Beaulieu ke Aceh 
de beaulieu ketika menghadap sultan
pada tahun 1619 disambut sangat baik sultan Aceh, terbukti dalam laporan Beaulieu menyelaskan penyambutan yg luar biasa dari sultan aceh.dia juga menjelaskan bentuk istana dan segala isinya seperti dinding , lantai yg dihiasai karpet yg didatangkan langsung dari Turki,serta disambut oleh
30 wanita cantik berpakain yg indah2 dengan dekoratif batik perak batu permata yang indah, yang menghibur kedatangan Beaulieu.diiringi dengan kesenian dan tari tarian khas aceh,kemudian Datang lah 15 gadis dengan gendang kecil terakhir muncul juga 2 gadis cantik yang sangat menakjubkan. betapa indah dan ramahnya negara aceh ini, Beaulieu benar-benar melihatnya. Hal ini juga membuktikan bahwa orang-orang dari aceh sangat memuliakan tamu istimewa
Beaulieu memberikan banyak hadiah kepada Sultan, dengan bingkisan yang tidak pernah ada di Acheh. Meskipun hari pertama kedatangan ke Aceh belum, diterima langsung oleh sultan. Karena pada saat itu sultan sedang sakit, baru setelah membaca surat dari Raja Prancis yg dibawanya,keesokan harinya sultan baru menerima beaulieu.
Beaulieu tiba di Aceh pada masa Kesultanan dipimpin oleh Sultan yang agung Iskandar Muda Meukuta Alam. Kesempatan yang lama di tanah Aceh itu digunakan oleh Beaulieu untuk mempelajari adat dan budaya Aceh.
Catatan perjalanan Beaulieu di Aceh hingga sekarang banyak yang dijadikan referensi ilmiah untuk mengetahui bagaimana kemajuan dan kejayaan Aceh pada masa itu. Beaulieu juga menceritakan bahwa Sultan Iskandar Muda telah membentuk orang Aceh kaarakter menjadi prajurit terbaik d kepulauan nusantara.Bealiu menuliskan bahwa kapal perang yang jauh lebih besar dari yang dibuat oleh kapal perang orang Eropa zaman itu. Kapal diurus oleh orang-orang khusus yg di dalamnya memuat sampai 800 tentara dengan 900 ekor gajah.
(sumber foto book World Voyage to East Indies 1762 )

KAPAL PERANG US POTOMAC MENYERANG KUALA BATE

Potomac tiba di Kuala Batee pada tanggal 5 Februari 1832. Di sana, Downes bertemu Poh Adam yang mengatakan bahwa penguasa setempat sama sekali tidak mau membayar ganti rugi atas serangan ke Friendship.
kapal perang US potomac

Komodor Downes kemudian memutuskan menyamarkan kapalnya sebagai kapal dagang Denmark agar tak dikenal oleh penduduk sekitar. Penyamaran itu berlangsung mulus sampai-sampai ketika beberapa penduduk sekitar menaiki Potomac untuk menjual sekargo lada, mereka ditahan mendadak agar penduduk Kuala Batee tidak sadar ada kapal Amerika Serikat yang mempersiapkan pembalasan. Downes kemudian mengirim sekelompok pengintai ke pelabuhan, namun berhasil diusir oleh penduduk setempat. Di samping 3 kapal di pelabuhan, 5 bentengdiketahui mengawal kota dekat pesisir.Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. Dari perahu itulah, para nakhoda dan marinir Potomac membakar kapal-kapal Aceh di pelabuhan Kuala Batee dan menyerang benteng kota sementara bantuan dari senapan-senapan Potomac sendiri digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee. Senapan modern yang digunakan AS jauh lebih baik dibandingkan dengan senapan kunci korek milik lawan yang sudah ketinggalan zaman, namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan di mana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya. Di pihak AS, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka.
comodore Downes
Setelah benteng pesisir tersebut jatuh, musuh yang tersisa melarikan diri ke pedalaman yang di situ ada benteng lain, namun alih-alih menggunakan benteng yang tersisa tersebut, AS menyerang kota itu sendiri. Perampokan dan penjarahan skala besar terjadi hampir di seantero kota disertai dengan banyaknya penduduk yang terbunuh. Downes kemudian memerintahkan anak buahnya kembali ke kapal dan mengebom benteng ke-5 dan juga kota itu sendiri hingga pimpinannya yang selamat setuju untuk menyerah. Serangan tersebut memakan korban 300 penduduk lainnya.
pihak aceh di pimpin oleh Raja po muhammad dengan kekuatan 500 laskar,sementara pihak USA dipimpin oleh laksamana komodor jhon downes dengan kekuatan 282 prajurit mariner,korban tewas dipihak aceh dalam serangan tersebut 450 jiwa,sementara pihak USA hanya 2 orang prajurit,termasuk seorang perwiranya dan 11 lainnya luka luka.pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 6-9 february 1832.penyerangan ini sebagai balas dendam dan hukuman terhadap aceh atas tindakan penguasa kuala batee menyerang dan menghancurkan kapal dagang USA dan membunuh anak buah kapal frenship milik maskapaj dagang USA.pembantai tersebut membuat presiden USA Andrew jackson marah dan mengirim kapal perang potomac unt menghukum aceh
.media bisnis amerika serikat Nilles weekly registre mengecam penyerangan brutal tersebut.namun presiden tetap mengizinkan peyerbuan tersebut.adifa
(sumber foto kapal fregat potomac. wikipedia ,komodore downes,usa archive)



Selasa, 05 November 2013

Kepahlawanan Bangsa ACEH di mata sejarawan Belanda

gambar. peta atjeh dalam buku zentgraaf
"De waaheid is dat de atjehers mannen eb vrouwen in het algemeen schitfcerend hebben gevochten voor wat zij zagen als hun nationaal of religieue ideaal. Er is onder die atrijdera een zeer grootaantal mannen en vrouwen die den trots van elk volk zouden uitmaken ; zij doen voor de schitterendste van onze oorlogsfiguren niet onder" H.C Zentgraaf, Atjeh : 1

Nyatalah sebuah kebenaran yang harus diakui bahwa bangsa Aceh ( laki laki dan perempuan ) telah berperang dengan sangat berani demi mempertahankan cita cita kebangsaan dan nilai agamanya. Dalam gelombang itulah, banyak pejuang-pejuang Aceh baik laki-laki maupun perempuan yang menjadi kebanggaan bangsanya. mereka terlebih baik dari pahlawan-pahlawan tinggi kita ( Belanda )

ACEH dimata Ahli Sejarah M.C Ricklef


cover buku M.C Ricklefs
............Perlawanan perjuangan bangsa Aceh dipimpin oleh ulama ulama, dan ulama yang paling mahsyur adalah Teungku Tjik di Tiro (1836-1891). perlawanan menjadi perang suci antara umat Islam dan kafir. akhirnya Belanda menjadi sadar bahwa mereka tidak memenangi apa-apa dan tidak menguasai sejengkal tanah pun dari tangsi-tangsi mereka. biaya peperangan ini sangat besar sehingga pada tahun 1884-1885 Belanda terpaksa menarik mundur pasukannya ke benteng-benteng. dan dengan demikian maka negeri Aceh kembali kedalam tangan bangsa Aceh sendiri [M.C Ricklefs, A history of modern Indonesia]..........

ACHEH dan AMERIKA

President America Ulysses S. Grant
......... Pernyataan berdiri sama tengah yang tidak memihak ( Proclamation of Imparcial Neutrality ) dalam perang antara ACHEH dan Belanda. dalam pernyataan ini dinyatakan pula bahwa Amerika Serikat tidak mau membenarkan serangan belanda atas ACHEH. 
(President America; President Ulysses S.Grant. MESSAGE AND PAPES OF THE PRESIDENT,Washington DC.1874)

ACHEH dalam HARPERS MAGAZINE, AMERIKA EDISI AGUSTUS 1905

Harpers magazine1905
,,,,,,,Pada waktu yang sama belanda mulai menelan pulau jawa. usaha penjajahan mereka sedikit demi sedikit diperluas dari jawa ke sumatra. tetapi belanda tidak pernah berani bergerak ke ke wilayah orang-orang pemberani di utara (The Fighting North) dimana bangsa aceh yang mulia masih cukup jantan untuk melawan penjajah... ("the one hundred year warof today" Harper Magazine august 1905)

Senin, 04 November 2013

Acheh Dalam The New York Times, edisi 15 mei 1873

the new york times
,, Sekarang boleh dikatakan bahwa sudah dimulai pendidikan Acheh kepada keturunan Kristen yang baru. " Segera akan diketahui umum bahwa bangsa Acheh itu bukanlah bangsa biadap yang tak berurat saraf (tidak pandai berfikir) tetapi mereka adalah bangsa Islam yang baik sekali dan bangsa pahlawan "
(the new york times edisi 15 mei 1873 dalam acheh dimata dunia. Hasan Tiro)