Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

SURAT SULTAN MANSYURSYAH KEPADA SULTAN ABDUL MAJID DITURKY


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!
Terima kasih kepada Dr. Annabel Gallop dan kawan-kawannya yang telah mempublikasi naskah surat ini dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”, seraya sangat mengharapkan publikasi dokumen-dokumen yang lain menyangkut tanah negeri ini.
[1] بسم الله الرحمن الرحيم
[2] الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد
Adapun kemudian daripada itu maka inilah waraqah ikhlash
[3] wa tuhfatul ajnas yang termaktub dalamnya dengan beberapa sembah salam ta’zhim dan takrim yang keluar daripada qalbu yang nurani dan fu’ad yang haqiqi dan sir yang khafi dan rahsia yang terbunyi (?) yaitu ialah yang datang 
[4] daripada pihak hamba anak amas (emas?) yang hina dina lagi fana tiada menaruh daya dan upaya serta dengan tiada mengetahui adat dan majlis (?) lagi dha’if dengan miskin yaitu yang bernama Sultan Manshur Syah
[5] ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah yang ada hayyah duduk dengan (duka percintaan dan kesakitan?) yaitu yang memerintahkan hukum dan adat dalam daerah Negeri Aceh Bandar Darussalam maka barang disampaikan Allah Subhanahu
[6] wa Ta’ala datang mendapatkan ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat Penghulu hamba yang maha mulia lagi a’la dan fadhilah yang telah dikaruniai daripada Tuhan Yang Bernama Rabbukumul A’la, yaitu Saiduna wa Maulana Paduka Seri Sultan
[7] Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan Johan Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam yang tahta kerajaan daripada emas qudrati yang sepuluh mutu lagi yang bertatahkan ratna mutu manikam daripada intan dikarang dan
[8] zabarjad yang telah terseradi dalam daerah Negeri Rum Qustantin Bandar Darul Ma’mur wal Masyhuriyah yang memerintahkan amar bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar pada sekalian alam dunia laut dan daerah dengan sifat adilnya serta
[9] gagah dan kuat pada memegang syari’at Muhammad ahlussunah wal jama’ah dalam negeri Makkah Al-Musyarrafah dan Madinah Al-Munawwarah dan negeri yang lain jua adanya maka tiadalah patik perpanjangkan kalam melainkan seqadar patik mengadukan
[10] hal dengan ihwal yang maksud sahaja. Amin. Syahdan, patik beri ma’lum lah ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat adapun karena tentangan patik yang di Negeri Aceh sungguhlah anak amas Duli Hadarat
[11] daripada zaman dahulu hingga zaman sekarang tiadalah menaruh lupa dan lalai akan duli hadarat daripada tiap-tiap kutika dan masa pada siang dan malam, pada pagi dan petang. Adapun karena hal ihwal surat ini patik mengirimkan 
[12] ke bawah Duli dikarena tatkala dahulu Negeri Jawi sekaliannya orang Muslimin dan kuatlah dengan berbuat ibadah dan tetaplah agama Islam dan sambunglah kehidupan segala orang faqir dan miskin dan lainnya dan
[13] dan sekarang sudah binasa negeri karena sudah masuk orang kafir Belanda pada satu Pulau Jawa dan serta dengan Pulau Bugis dan Pulau Bali serta dengan Pulau Borneo dan serta dengan Pulau Aceh yang setengah
[14] sudahlah diambil oleh orang Belanda dan serta dengan Raja Minangkabau sudah ditangkapnya dan sudahlah dibawak ke negeri dianya pada tarikh sanah 1253 dan sampailah surat kepada patik ke Negeri Aceh daripada segala ulama
[15] dan orang-orang besar Minangkabau dia minta tolong bantu kepada patik, dan patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan orang besar-besar yang dalam Negeri Aceh pasal hal itu maka berkatalah segala hulubalang kepada patik, adapun
[16] sekarang ini karena kita hendak berlawanan perang dengan orang Belanda karena Belanda itu ada lah kapal perang, karena ... (?) kurang daripadanya, dan lagi pula kita ini di bawah perintah Sultan Rum sekarang, barang-barang hal pekerjaan
[17] wajiblah Tuanku kirimkan suatu surat kepada penghulu kita Sultan Rum dan hendaklah kita minta tolong bantu padanya lagi serta dengan kita minta kapal perang barang berapa yang memadai serta laskar dalamnya orang Turki
[18] sudah itu maka patik kirimlah suatu surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1253 dan adalah khabar dalam surat itu patik mengadukan sekalian hal ihwal orang Belanda yang dalam Negeri Jawi dan hal ihwal orang Muslim
[19] dan yang membawak surat itu orang Marikan namanya Kapitan Tun (Ton?) serta dengan persembahan tanda yaqin patik akan Duli Hadarat: lada putih adalah lima ribu (5000) rathl (ratl: 407, 695 g) dan kemenyan putih adalah tiga ribu (3000) rathl dan gaharu
[20] adalah dua ribu (2000) rathl dan kapur adalah dua ratus (200) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin, dan patik nantilah datang perintah dan 
[21] wasithah (perantara) dari Duli Hadarat hingga sampai empat tahun lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1257 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Patik kirimkan pada orang Prancis
[22] surat itu, namanya Kapitan Batkin (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih empat ribu (4000) rathl dan kemenyan putih dua ribu lima ratus (2500) rathl dan gaharu adalah seribu tujuh ratus lima puluh (1750)
[23] rathl dan kapur adalah seratus lima puluh (150) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin dan patik nantilah perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga sampai empat tahun
[24] lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1261 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Akan yang membawak surat itu orang Francis, namanya
[25] Kapitan Istilong (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih adalah tiga ribu lima ratus (3500) rathl dan kemenyan putih adalah dua ribu (2000) rathl dan gaharu adalah seribu lima ratus (1500) rathl dan kapur adalah seratus (100) 
[26] rathl dan lainnya pasal kain-kain Aceh adalah dua tiga helai karena patik orang miskin lagi hina, dan patik nantilah pula datang perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga empat tahun lamanya maka tiadalah datang perintah 
[27] dan wasithah dari Duli Hadarat. Sudah itu maka patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan segala orang yang besar-besar, bagaimanalah kita ini tiada datang perintah dan wasithah dari Penghulu kita di Negeri Rum. Adapun karena Negeri Rum terlalu
[28] sangat jauh barangkali tiada sampai surat yang kita kirim ke bawah Duli Hadarat Syah Alam. Sekarang, baiklah kita kirim satu orang Aceh ke Negeri Rum, kita suruh tanyakan surat yang dahulu ada sampai ke bahwa duli atau tiada?
[29] maka ialah pada tarikh sanah 1265 pada lima belas hari bulan Rabi’ul Awal pada hari Khamis pada dewasa itulah patik berbuat surat sekeping kertas ini tawakkal yaqin patik ke bawah lapik qadam tapak kawuh Duli Hadarat. 
[30] Amma Ba’du. Ampun Tuanku sembah ampun, ampun beribu kali ampun, patik anak amas Tuanku, Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah memohon ampun ke bawah qadam Duli Hadarat yang maha mulia,
[31] yaitu Sultan Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan. Syahdan, patik beri maklumlah ke bawah qadam Duli Hadarat, adapun karena patik sekarang ini sangatlah masygul (?) dan serta kesukaran karena 
[32] sebab Negeri Jawa dan Negeri Bugis dan Negeri Bali dan Negeri Borneo dan Negeri Palembang dan Negeri Minangkabau sudahlah dihukumkan oleh orang Belanda, dan sangatlah susah segala orang yang Muslim, lagi sangatlah
[33] kekurangan daripada agama Islam karena sebab keras orang kafir Belanda itu. Dan muwafaqah lah segala orang yang besar-besar segala rakyatnya yang di dalam negeri, semuhanya itu hendak melawan dia lagi hendak memukul dia maka dikirimlah 
[34] surat daripada tiap-tiap orang yang besar-besar dalam negeri semuhanya itu kapada patik ke Negeri Aceh karena Negeri Aceh yang dalam pegangan perintah patik belumlah dapat oleh Belanda segala negeri dan sekalian bandar. Dan sekarang 
[35] orang Belanda hendak memeranglah kepada patik ke Negeri Aceh dan sudahlah siapa dianya, dan patik pun ‘ala kulli hal siaplah akan melawan dia, dan segala hulubalang dan orang yang besar-besar pada negeri yang sudah dihukum oleh
[36] Belanda sudah sampai surat kepada patik ke Negeri Aceh dan muwafaqah lah dianya dengan patik, lagi satu batin dengan patik semuhanya orang itu, apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah 
[37] melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh dan tentangan patik pun
[38] menanti titah dan wasithah daripada Duli Hadarat yang di negeri Rum. Ampun Tuanku beribu kali ampun, kurnia sedekah Duli Hadarat kepada patik ke Negeri Aceh kapal perang alkadar dua belas serta laskar dalamnya barang
[39] berapa yang memadai dalam kapal itu dan tentangan belanja laskar dan belanja kapal sekaliannya di atas tanggungan patik. Jika sudah sampai ke Negeri Aceh adalah dengan ikhtiar patik semuhanya itu, dan hendaklah dengan izin
[40] Duli Hadarat kepada patik dan lainnya hendak memerang kafir Belanda itu pada tiap-tiap negeri dan tiap-tiap bandar. Dan hendaklah sedekah Duli Hadarat surat tanda alamah Duli Hadarat kepada kami semuhanya yang di dalam Negeri Jawi
[41] ilaihim Ajma’in supaya suka kami mati syahid. Itulah ihwalnya dan yang lain tiadalah patik sebutkan dalam waraqah ini melainkan Duli Hadarat periksa pada orang yang membawak surat ini karena dianya hulubalang
[42] patik lagi nasab dengan patik, namanya Muhammad Ghauts bin ‘Abdurrahim karena dianya amanah patik lagi badal ganti patik berjalan menjunjung ke bawah qadam Duli Hadarat ke Negeri Rum dan apa-apa khabarnya sungguhlah khabar
[43] patik dan pekerjaannya pun sungguh pekerjaan patik dan hendaklah dengan sekira-kira titah Duli Hadarat akan Muhammad Ghauts kembali ke Negeri Jawi dan tiadalah tanda hayyah patik melainkan ampun beribu-ribu kali ampun. Tamma Kalam sanah 1265.(musafir zaman via mapesa)

Rabu, 27 Mei 2015

CUMBOK PENGKHIANAT BANGSA?


Perang yang terjadi pada tahun 1946 hingga 1947 dan berpusat di Pidie ini, timbul karena adanya kesalahan peran dan tafsir dari kaum ulama dan Uleebalang (kaum bangsawan) terhadap proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945. Seperti disebut James T. Siegel, antropolog dari University of California, dalam bukunya The Rope of God.ketika Jepang masuk pada 1942, polarisasi lama mulai menampakkan wujud yang pukul rata: para uleebalang di satu pihak, rakyat bersama ulama di pihak lain. Lalu, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan menajamkan polarisasi itu.
Sang kabar tak cepat sampai, tapi segenap ulama Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)-dipimpin Teungku Daud Beureueh-lalu menyambutnya gegap-gempita, langsung menyatakan sumpah setianya. Namun, kubu uleebalang tak sejelas itu. Ada Teuku Nyak Arief, Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik. Tapi ada Teuku Daud Cumbok yang lebih merindukan kembali Kedaulatan Kerajaan Aceh seperti dahulu kala.Cumbok menolak dan Tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.Pihak uleebalang juga mengangkat T. Daud Cumbok selaku pucuk pimpinan.
pertikaian faham diantara golongan Ulama dan Ulebalang pada awalnya hanya terbatas pada sejumlah Uleubalang dan Ulama2 yang terkemuka;
pun terbatas hanya didaerah Pidie. Akan tetapi fihak Ulama dapat memperbesar jumlah pengikutnya, sehingga pada suatu sa'at fihak ini meliputi sebagian yang terbesar dari rakyat umum dan mengenai seluruh daerah aceh

perjuangan mereka adalah menuju kepada „Pembasmian pengkhianat Agama dan Bangsa". Mereka menyiarkan kabar, bahwa fihak cumbok (fihak Uleubalang) adalah kaki-tangan Belanda yang berusaha menumbangkan Republik;
bahwa fihak cumbok senantiasa berhubungan rapat dengan Belanda di Sabang ataupun dikapal2 Selam yang bersimpang-siur dipantei Aceh. Seterusnya, bahwa fihak cumbok tidak berTuhan, menginjak-injak dan merobek
Quran dan melarang rakyat bersembahyang. Segalanya
ini disebarkan oleh pengikut mereka diantara rakjat bodoh di-kampung2

slogan: „membasmi pengkhianat Agama dan Bangsa", mendapat sambutan yang hangat dari rakjat umum, istimewa kalangan rendahan. Siapa yang mula2
masih sangsi2 dalam memilih kawan, ataupun masih berpendirian
neutral dalam conflict yang tidak menyinggung kedudukannya,
lambat laun memilih fihak Ulama. Benar atau tidaknya tuduhan2 jang ditujukan oleh partai Ulama atas partai uleubalang itu, bagi mereka bukan menjadi soal

tuduhan2 mereka terhadap lawannya terbukti dengan terdapatnya sejumlah uang Belanda serta bendera Belanda didalam simpanan 
cumbok'. Mereka menerangkan bahwa bendera dan uang kedapatan sewaktu mereka memasuki markas Uleubalang di Lam Lo dan melakukan pemeriksaan dirumah Teuku Daud cumbok

tuduhan terhadap Uleubalang, sebagai „pengkhianat Agama dan Bangsa" adalah sekali-kali tidak berdasar atas kenyataan
Seorang, bernama Amir Husin al Mudjahid, berpendapat, bahwa pemerintahan belum sempurna, krn masih banyak„sisa feodal" yang harus disingkirkan
maka dikumpulkannya sejumlah besar orang2 yang „berdarah panas" dalam
suatu organisasi yang dinamakannya „T.P.R." (Tentara Perdjuangan Rakyat). Ia memulai gerakannya dari tempat tinggalnya di Idi. Dari tempat jang tersebut
ia menuju kearah Utara dengan melalui kota2 dipantai Timur Aceh, Lho Sukon, Lho Seumawe, Bireuen, Samalanga, Meuredu, Sigli, dan seterusnya sampai keibu kota keresidenan Aceh, Kotaradja.

Algodjo2 yang ikut serta dalam rombongan, menjalankan peranan yang tertentu. Bukan sedikit djiwa manusia yang tidak bersalah, selain oleh karena ia kebetulan terhitung dalam kaum yang disebut mereka „feodal", menjadi
korban. tdk sedikit pula mereka ditangkap dan kemudian diasingkan disuatu tempat

gerombolan ini memulai melakukan penangkapan; antara lain juga atas beberapa pembesar civil dan militer, sebagai T.Nja' Arif yang pada masa itu pimpinan tentara sebagai General Major dan T. Husin Trumon, Assistent Resident Aceh Besar. jabatan2 yang, sebagai akibat penangkapan2 pegawai
Negeri, jadi lowong, diisi oleh anggota2 golongan mereka sendiri.

gerombolan yang tersebut, setelah diperkuat oleh Pesindo dibawah pimpinan seorang yang bernama Nja' Neh, melanjutkan gerakan ke Aceh Barat, dimana
juga, sebagai di Timur dan Utara, setiap orang yang mereka anggap termasuk pada golongan „feodal" dan oleh karena itu „berbahaya", ditangkap dan kemudian disingkirkan

T. Nja' Arif yang sedjak mudanya, semasa Pemerintah Belanda,terkenal sebagai nasionalis sejati, ditahan dan disingkirkan kesuatu tempat, atas alasan ," berbahaya untuk keselamatan Negara, oleh karena ia berhubungan dengan Belanda
Gerakan Husin al Mudjahid dapat dianggap sebagai lanjutan peristiwa cumbok.fihak markas rakyat Umum dan pemerintah mengeluarkan sebuah maklumat mengenai hal hal yang berkaitan Dengan Persisitwa Cumboktersebut
ANCIEN REGIEM
Ditumbangkan di Aceh
Pada mulanya Markas Besar Rakyat Umum bermaksud akan membendung sedapat dapatnya arus Revolusi Desember itu dalam daerah Kabupaten Pidie saja dan sekali-kali tiada bermaksud akan mengadakan gerakan sapu bersih terhadap Uleebalang-uleebalang seluruh Aceh, walaupun bukti-bukti sudah nyata bahwa hampir semua mereka turut campur
tangan dalam Markas Uleebalang dan gerakannya. Hal turut campurnya hampir
semua Uleebalang, lebih jelas lagi diketahui oleh Markas Besar Rakyat Umum dari pemeriksaan dan pengakuan-pengakuan pengkhianat sendiri yang sudah tertawan.

Walaupun demikian Markas Besar Rakyat Umum masih mengharapkan keinsyafan mereka, moga moga kejadian yang telah terjadi di Kabupaten Pidie akan dapat memberikan pelajaran pada kaum Uleebalang di Kabupaten lain.
Tetapi ternyata anggapan dan harapan-harapan ini salah sekali, sebab Uleebalang uleebalang yang ada di Kabupaten-kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Tengah, dan Aceh Barat dengan diam-diam masih meneruskan gerakan mereka dan pada bulan Februari 1946 Uleebalang-uleebalang di Aceh Utara dengan berpusat di Lho'Seumawe dan di Aceh Timur dengan berpusat di Langsa mulai bertindak melakukan
tindakan-tindakan pembalasan terhadap gerakan kemerdekaan atas nama mengambil bela dari kawan-kawan mereka yang sudah dibasmi Rakyat di Kabupaten Pidie.

Tindakan repressaile dari mereka ini telah menyebabkan terjadinya insiden-insiden di Aceh Utara dan di Aceh Timur. Perbuatan-perbuatan mereka ini telah menyebabkan Rakyat bergerak pula menangkapi hampir seluruh mereka ini di seluruh Aceh. Sedangkan sebagian dari mereka diinternir
ke Takengen dan yang tiada bersalah dibebaskan.

Dengan demikian ancien regiem sudah ditumbangkan seluruhnya dari daerah Aceh dan dibangunkanlah suatu Pemerintahan baru oleh Rakyat, dari Rakyat dan untuk Rakyat.
Bekas daerah kekuasaan Uleebalang atau yang disebut, dalam zaman Belanda
"Landschap" ditukar namanya dengan Negeri dan dilakukan pemilihan Dewan Pemerintahan Negeri yang terdiri dari lima orang (seorang Ketua sebagai Kepala Negeri dan 4 orang Anggota).

Di tiap-tiap bekas Onderafdeeling dahulu, diadakan Komite Nasional
Wilayah dan dipilih seorang Kepala Wilayah, (Wedana). Seterusnya Afdeeling dahulu diubah menjadi Kabupaten dengan Komite Nasional Kabupatennya dan dipilih seorang Bupati.
Uleebalang-uleebalang di Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan dan lain-lain yang masih hidup yang ditangkap oleh Rakyat atau yang sadar atas perubahan masa, terus menyerahkan kembali kekuasaan pemerintahan yang mereka pegang di tiap-tiap Landschapnya kepada Rakyat yang diwakili oleh Komite Nasional di tiap-tiap wilayah.

Mereka berjanji pula akan mengembalikan harta-harta Rakyat yang sudah mereka rampas; demikian juga harta-harta dari Baitul Mal dan harta Negara yang mereka kuasai dengan jalan tidak syah di masa yang sudah-sudah
(Disalin dari buku Revolusi Desember '45 di Aceh, yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Aceh.)
gerakan Husin al Mudjahid atau dalam istilah mereka sendiri, adalah „membasmi sisa-sisa feodal jang masih ada." Dengan penjelesaian gerakan Husin Al Mujahid ini, dapat dikatakan, pemerintahan daerah Aceh seluruhnya berada ditangan mereka, golongan PUSA..pimpinan Teungku Daud Beureueh
pada tanggal 12 Januari 1946, sesuai dengan ultimatum yang diberikan pihak rakyat bersama TKR dan PUSA melakukan serangan umum ke Lam Meulo selaku benteng pertahanan terkuat pihak uleebalang.
Barisan rakyat Pusa baru berhasil memasuki Kota Lam Meulo pada tanggal 13 Januari 1946.

TEuku Daud Cumbok dan staf-stafnya berhasil melarikan diri. Ia baru berhasil ditangkap pada tanggal 16 Januari 1946 di atas Gunung Seulawah Aagam oleh barisan rakyat dari Seulimum pimpinan Tgk. Ahmad Abdullah.
Sementara T. Muda Dalam, uleebalang Bambi dan Unoe yang terlibat dalam pemberontakan tersebut melarikan diri ke rumah Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba untuk memohon perlindungan. Akan tetapi oleh Tgk H. Abdullah Ujong Rimba ia diserahkan kepada rakyat.
Ulama dibawah PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Uleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka,diantara nya adalah;
.Teuku raja Sabi putra ule balang keureuto (yang juga putra satu satu nya pahlawan nasional Cut nyak mutia.)
Teuku Muhammad Daud Ulee balang lam meulo.
Teuku laksamana Umar ulee balang njong
Teuku Pocut Umar Keumangan ule balang keumangan
Teuku Muda Dalam ule balang bambi dan Unoe
Teuku Muhammad Ali ule balang samaindra
Teuku Muhammad Ali ulee balang ie leubeu
Teuku Abdul Hamid ule balang gigieng
Teuku Cut Hasan dari keluarga Ulebalang meuraxa
Teuku Raja Said ule balang Cunda
Teuku banta ahmada dari ulebalang Glumpang payong
Teuku HUsen ule balang simpang Ulim
Teuku Pakeh sulaiman dari ulebalang Pidie,Kale dan laweung
Teuku Muhammad dari keumangan
TEuku Hasan dari keumala(adik ipar teuku muhammad panglima polem yang juga anak dari teuku Daaud cumbok.
TEuku chik meureudu dari ulebalang meureudu
Teuku Raja iskandar dari manggeng
Teuku M.Nur dari ule balang Kr.mane (putra teuku lotan)
Teuku Mahmud adik dari teuku Daud Cumbok.

Teuku Daud Cumbok sendiri memilih cara maut yang sangat mengangum kan.Ia berbaring di liang lahat yang sdh disediakan,mengucap dua kalimah syahdat dan terakhir memberi perintah daengan satu kata, "Tembak".(HT.jalan panjang menuju damai murizal hamzah)..
Sang patriot yang menolak mengakui kemardekaan indonesia ini merenggang nya bersama putra dan adik nya, mareka di kuburkan dalam satu liang.berakhir pula kekuasaan ulee balang yg sdh turun temurun dan digantikan oleh kaum bersorban dengan tertangkap nya Dud Cumbok dan pengikut nya pada tanggal 6 january 1946.pada tanggal 13 january 1946 kota lam meulo di ganti nama dengan nama Kota bakti oleh TM Amin yang memimpin penumpasan ulee balang yang mareka nama kan pengkhianat bangsa indonesia.
Harta Ule balang disita untuk modal perjuang menyokong indonesia,untuk selanjut nya diserahkan kepada majelis penimbang pimpinan Tengku Hasballah Seulimum.Teuku Daud Cumbok bisa di katakan Beliau adalah tokoh pemberontak pertama yang tdk mengingin kanAceh bergabung dengan indonesia mardeka.
ketika tokoh2 lain nya sedang eforia dan menjerumuskan diri ke dalam bingkai Ibu pertiwi.pilihan kaum Pusa memilih berdiri bersama indonesia penyesalan bagi mareka,tak lama setelah kekuasaan mareka di bonsai oleh indonesia,mareka pun menyatakan kekecewaannya dengan mengangkat senjata.Daud Cumbok seorang Nasionalis Aceh sejati sebelum Hasan tiro membangkitkan nasionalisme Aceh melalui Gerakan kemerdekaan yang beliau usung.

Minggu, 03 Mei 2015

RAJA BUJANG TRUMON


Raja Bujang adalah penguasa Trumon yang paling terkenal. Baginda dinilai Ritter sebagai seorang penguasa pribumi yang mempunyai otak dan lihai bermain politik, maka telah melakukanmanuver-manuver politik dan ekonomi (baik dengan Aceh, Belanda dan pedagang asing lainnya, seperti orang Inggeris dan orang Cina) dalam mengumpul uang untuk melanggengkan kuasanya. Baginda juga memiliki kapal untuk membawa lada dari Trumon ke Batavia, Pulau Penang dan Bengali dan balik dengan barang-barang impor (Ritter 1839: 11; Stibbe, Wintgens &Uhlenbeck 1919: 441).
Hubungan antara Sultan Aceh dengan Trumon sepanjang pemerintahanRaja Bujang mulai kurang mesra. Raja Bujang ingin lebih bebas dari hegemonikuasa Kutaraja yang sudah berabad-abad menaungi raja-raja kecil di pantai barat Aceh. Antara sebab utama rosaknya hubungan itu ialah perampasan kapal Anna milik Raja Bujang, disebut
Bagianna oleh orang Trumon sendiri, yang penuh dengan muatan yang dilakukan wakil Sultan Aceh dalam pelayarannya dari Bengali ke Trumon. Selepas itu, kapal itu dipakai Sultan Aceh untuk menyerang kapal-kapal dagang Eropah yang lalu di perairannya. Antara yang menjadi mangsa ialah kapal Inggeris.

Nasib kapal Bagianna yang dirampas penguasa Aceh itu dilaporkan dalam
the Asiatic Journal 
(jilid 24, bagian 2 New Series/September-December 1837, halaman 169 di bawah rubrik “DutchIndia”) yang berbunyi:
The notorious Achinese piratical statebark Bagianna which had recently been committingserious aggressions against the British flag, under the directions of the Rajah Moodah[Raja Muda; penulis] of Acheen, has, we learn, been captured by the Dutch men of war,which had been sent to Acheen to demand the restitution of the garda-costa schooner 
Dolphin, and the surrender of her crew (by whom she had been cut off from Padangroads, with treasure on board, and taken into Acheen), and taken away, in retaliation of the conduct of the rajah, in harbouring the crew of the
Dolphin and refusing to restorethe vessel. The gunner of the
Bagianna
was dismissed by the Dutch, and having madehis way to Penang, related the circumstance of the capture of the craf
W. L. Ritter (1839:9-13)

Juga melaporkan Raja Bujang telah memagariistananya dengan benteng yang tingginya 8-10 kaki, selain dikelilingi parit sertadilengkapi baluarti (
bastion ), besi runcing dan kanon untuk melindungi diri
terakhir masa kekuasaanRaja Bujang (1814-1835)

putera mahkota Trumon, Nyak Bata (beberapa sumber menuliskannya Nyak Batak), yang setelah kemangkatan ayahnya pada tahun 1835 langsung naik nobat dalam usia 12 atau 13 tahun. Setelah naik takhta, Nyak Bata bergela
Raja Muda, (“Radja Moeda van Troemoen” ) Oleh kerana masih muda, baginda diwakili pamannya yang menjadiraja di Singkel, Muhammad Arif (RajaAmaris) dengan dibantu lima orang wali, iaitu Teuku Haji Kotta, Teuku Moramdari Daing, Teuku Molaban, Teuku Haji Matinda, dan Teuku Lalumpa (Ritter 1839: 11; Von Rosenberg 1885).

Nyak Bata adalah putera Raja Bujang dari isterinya seorang wanita Indo
yang dipanggil orang Trumon sebagai Si Nonna (Si Nona). Ayah Si Nonna adalah orang Aceh dan ibunya wanita Eropah, namanya Kaatje Stoolte, anak seorang doktor di Padang (Ritter 1839: 11-12; Veth 1873: 94). Menurut Hoffman(1873: 7) Kaatje Stolte adalah “keturunan seorang wanita Kristen, anak seorang doktor yang pernah bekerja untuk VOC di Padang”. Kaatje dan pemuda Aceh yang dicintainya telah lari dari Padang semasa kota itu diserang bajak laut LeMême asal Perancis pada tahun 1793 (Netscher 1881: 112-22).

Pasangan itu menaiki sebuah kapal yang kebetulan sedang berlabuh di pelabuhan Muara.Kaatje tidak mahu kembali ke Padang. Pasangan yang kemabukan cinta itu akhirnya berkawin dengan Kaatje setelah memeluk Islam dan kemudian sampai di Trumon.Di Padang, kedengaran khabar angin yang mengatakan gadis Indo Aceh belanda itu telah diculik orang pribumi dan dijadikan budak.
Tidak lama kemudian, lahirlahseorang bayi Indo di Trumon, anak dari pasangan Kaatje Stolte dan pemuda Aceh itu, yang menjadi gadis yang sangat luar biasa cantiknya dan dipanggil Si Nonna oleh penduduk Trumon.
Gadis jelita itu dipersunting oleh Raja Bujang, penguasa Trumon. Dari perkahwinan itu, lahirlah putera mahkota Nyak Bata(Amran 1981: 346-50). Menurut Ritter (1839) Kaatje Stolte, suaminya dan anak perempuannya Si Nonna ingin naik haji ke Mekah. Namun, mereka terpaksa berhenti di Trumon beberapa lama dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci.Ketika itulah Raja Bujang melamar Si Nonna yang cantik itu untuk dijadikan permaisurinya. Akibatnya, mereka tidak meneruskan perjalanan ke Mekah. Padatahun 1837, Kaatje Stoolte sudah berumur kira-kira 70 tahun. Setelah kematiansuami, ia kadang-kadang tinggal di Trumon dan di Bulu Sama, kedua-duawilayah itu di bawah kekuasaan keluarga Raja Trumon (Veth 1837: 172
Semasa pemerintahan Raja Muda alias Nyak Bata, Kaatje Stolte telah memainkan pengaruhnya di istana Trumon untuk membuka jalan kepada orang Belanda untuk menguasai negeri itu (Kielstra 1888: 1194). Sebelum itu, semasa pemerintahan ayahnya, Raja Bujang, orang Belanda sudah berusaha memasukiTrumon: pada Oktober dan November 1830, lima tahun setelah penyerahan Bengkulu oleh Inggris kepada Belanda, H. MacGillavry, Residen Belanda diPadang mengunjungi Trumon.
Pada 25 November 1830, sudah ditandatangai perjanjian dengan Raja Bujang (Lange 1852). Walaupun perjanjian itu tidak begitu efektif, tetapi pengaruh sultan Aceh tetap kuat dalam masyarakat
Setelah Raja Bujang mangkat dan digantikan Nyak Bata, Trumon berhasil dikuasai Belanda. Satu perjanjian yang mengandungi enam pasal telah disodorkan Jenderal AV. Michiels (Gubernur Sumatra’s Westkust pada waktuitu yang berkedudukan di Padang) kepada Raja Muda (Kielstra 1888: 1199).

Penguasa Trumon yang muda itu tidak berkuasa untuk menolaknya. Sejak itu,ia memperoleh bayaran tahunan sebesar 2400 Gulden dari Belanda dengan imbalan kegiatan perdagangan kerajaannya harus berada di bawah kuasa Belanda.(komplek makam raja raja trumon,courtesy youtube

Minggu, 15 Maret 2015

KOELI JAWA DAN MARSOSE


Untuk membantu serangan ke Aceh, ratusan pekerja paksa dikirim dari Jawa. Belanda menyebutnya beer atau beeren. Orang Aceh menyebutnya Simeuranté. Orang-orang yang dirantai.
Di kota-kota terpenting di Jawa dibentuk depot narapidana kerja paksa. 
Gubernur Jenderal memberi kuasa bagi semua bangunan pekerjaan umum, yang 
hingga sekarang ini dikerjakan dengan bantuan tenaga narapidana, untuk 
mengambil kuli-kuli lepas. Siapa yang bernasib sial bagi narapidana pada 
Perang Aceh mendapat hukum-an tambahan untuk melakukan kerja paksa di luar daerah tempat tinggalnya, tinggal mati sajalah. Besa r sekali kebutuhan 
pengangkutan tenaga manusia. Kecuali jalan dari kota pelabuhan Olehleh ke Kutaraja, yang mempunyai jalan trem kecil, semua pengangkutan harus 
dilakukan oleh tukang pikul. Baik tenaga pasukan maupun tenaga narapidana kerja paksa Jawa tid ak dapat terus-menerus mengantar penyediaa yang di-serap oleh Aceh.

rang hukuman dari Pulau Jawa yang dibawa ke Aceh, tidak hanya menderita karena kerja paksa dan kelaparan. Sebagian ada yang meninggal karena dicambuk karena ketahuan mencuri.
H C Zentgraaff, manggambarkan penderitaan pekerja paksa tersebut, yang sehari-hari dipanggil dengan nama binatang; si babi lanang. Sebagian besar pekerja paksa pada kelompok ini mati secara mengenaskan di rimba-rimba Aceh. Mayat mereka pun dibiarkan tergeletak begitu saja di jurang-jurang bebatuan, menjadi santapan binatang buas.
Tahun 1876, akhir Perang Aceh kedua ini, memecah-kan semua rekor. Kekuatan 
pasukan Belanda di Aceh rata-rata terdiri dari tiga ribu pasukan Eropa, 
lima ribu pasukan pribumi, dan 180 orang pasukan Afrika. Sebagai 
tukang-pikul dan pekerja diturut-sertakan t iga ribu narapidana, dan lima 
ratus orang kuli lepas. Pada tahun itu meninggal dunia 1.400 orang anggota militer dan 1.500 orang narapidana kerja paksa. Karena sakit atau luka tidak kurang dari 7.599 orang militer harus diungsikan ke Padang atau 
Jawa.

Menurut Zentgraaff mereka yang dicambuk itu biasanya para beer yang kedapatan mencuri makanan atau barang-barang milik Belanda. Kadang-kadang mereka juga mencuri senjata untuk dijual kepada pejuang Aceh. “Penipu-penipu yang tak dapat dipercaya ini terdapat pula dalam pasukan, serta tidak dapat meninggalkan kebiasaan merampok dan mencuri,” lanjutnya.
Diantara beer-beer itu terdapat pula cukup banyak orang –orang pemberani, yang seringkali mendapat perintah–perintah berbahaya. Saat Belanda menerapkan taktik perbentengan terpusat untuk melawan pejuang Aceh, saban pagi para pekerja paksa itu menyusuri rel trem untuk memeriksa ganjalan-ganjalan rel dan memperbaiki sekrup yang longgar.
Hal itu harus mereka lakukan karena pasukan Aceh pernah sering meletakkan bahan peladak di rel trem, yang bila tersentuh roda tren akan meledak dan menyebabkan kematian di pihak Belanda. Bahan-bahan peledak itu didapatkan pejuang Aceh dari serdadu-serdadu Eropa bayaran Belanda yang menyebrang ke pejuang Aceh.
Untuk membersihkan ranjau-ranjau dan bahan peledak di rel trem, setiap malam para beer harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering kali mereka juga harus mengantarkan surat-surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasi gerilyawan Aceh.
Pembentukan pertama korps ini terdiri dari satu divisi yang terbagi dalam dua belas brigade, yang masing-mssing terdiri dari dua puluh orang serdadu Ambon dan Jawa dibawah pimpinan seorang sersan Eropa dan seorang kopral Indonesia. Pada iahun 1897 menyusul perluasan sampai dua divisi dan pada tahun 1899 sampai lima divisi; semuanya berjumlah seribu dua ratus orang. Kemudian ada lagi beberapa kompi yang berasal dari Jawa; dan pasukan inilah yang kemudian terkenal dengan pasukan Marsose.
Dalam kisah-kisah romantis perang Aceh biasanya digambarkan bahwa seakan-akan 1200 orang Marsose inilah yang membereskan apa yang tidak dapat dilakukan oleh bala tentara yang sepuluh kali lebih besar dulu. Ini tidak benar! Secara kekuatan efektif, kekuatan pasukan Belanda seluruhnya di Aceh di bawah van Heutsz lebih besar daripada kekuatan–kekuatan sebelumnya.
Di bawah pimpinan beberapa orang perwira telah dilakukan kekejaman-kekejaman yang tidak terlukiskan dengan pasukan-pasukan teror oleh brigade-brigade Marsose, yang mengakibatkan ratusan dan bahkan ribuan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang terbunuh secara menyedihkan.

Kemandirian brigade merupakan rahasia besar Marsose. Persenjataannya adalah sebaik-baik persenjataan pada masa itu, yakni karaben pendek (bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong) sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan topi. Memang brigade-brigade ini membawa beberapa narapidana untuk mengangkut perlengkapan mereka dalam setiap operasi militer, tetapi secara keseluruhan pasukan Marsose adalah hidup berdikari. Semangat pasukan senantiasa dipertinggi dengan berbagai cara: hadiah, kenaikan pangkat dan upacara.
Pasukan Marsose tahun 1890 dapat disamakan dengan anggota pasukan komando, pasukan payung, dan pasukan-pasukan khusus lainnya di kemudian hari. Mereka pun merasa sebagai pasukan istimewa. Adalah merupakan kehormatan bagi perwira untuk ditempatkan pada korps ini. Sebagian besar para perwira pribumi yang terkenal dan yang terjahat berasal dari pasukan Marsose, dan mereka sangat disanjung-sanjung oleh penguasa kolonial Belanda, dengan memberikan berbagai gelar militer kehormatan.(Foto van een groep koelies 1874.jpg)

SUSUNAN MAJELIS MAHKAMAH RAKYAT DIMASA RATU TAJUL ALAM

.
Pada tahun 1059 H. atau 1649 M. • Ratu Tadjul Alam Safiuddin
Sjah mengadakan perubahan susunan anggota badan legislatif atau
Madjelis Mahkamah Rakjat jang terdiri dari 73 orang tetapi jg didalam
nja ditempatkan 16 orang wanita turut duduk dalam madjelis itu untuk
turut sama2 dengan kaum pria mengatur urusan negara guna mempertimbangkan kebidjaksanaan Sulthanah
Adapun susunan Badan Perwakilan Rakjat Parlemen Atjeh adalah;
1. Sjahil
2. Budjang Djumat Turki)
3. Ahmad Bungsu
4. Ahmad Jatim
5. Abdul Rasjid
6. Faimis Said
7. Iskandar
8. Ahmad Dewan )
9. Majur Thalib (orang Turki)
10. Si Njak Bunga (wanita)
11. Si Halifah (wanita)
12. Ahdal
13. Abdul
14. Abdul Madjid
15. Si Sanah (wanita)
16. Gudjah Hamid
17. Isja
18. Hiajat
19. Si Njak Bunga (wanita)
20. Maimunah (wanita)
21. Siti Tjahja (wanita)
22. Mahkiah (wanita)
23. Buket
24. Manan
25. Ahmad Djalii
26. Ben Muhammad
27. Si Njak Apakat
28. Gudjah Nazir (orang Turki)
29. Si Njak Puan (wanita)
30. Abdul Hamfd
31. Malik Saleh Samir
32. Chatib Muadzam
33. Imam Muadzam
34. Abdul Rahman
35. Badaja
36. Budjang Aramsjah
37. Nadisah (wanita)
58.Majur Muhammad (orang turki)
39. Dapa Ahmad Sjah.
40. Penghulu Mu'aüm
41. Seri Dewa
42. Sjahad
43. Manjak
44. Njakti Tjaja (wanita)
45. Ahmad Ratib
46. Minhan
47. Si Habibah (wanita)
48. Mustafa.
49. Si Sjadin
50. Si Radjuna
51. Si Aman Pana
52. Si Njakrih
53.zamzami
54.gudjah ruhsia(orang turki)
55.raja megat
56.abu gaseh
57. Badal Mustup
58. Umi Puan (wanita)
59. Siti Awan (wanita)
60. Umi Njak Angka (wanita)
61. Si Aman
62. Si Njak Tjampli
63. Abdul Hakim
64. Si Mawar (wanita)
65. Si Manis (wanita)
66. Abdul Madjid
67. Ibrahim Rasia
68. Abdullah.
69. Umar
70.Abdul Rahim.
71. Mahjudin
72. Harun.
73.Abdul muthalib.
diantara 73 anggota dewan perwakilan itu 9 orang memegang
fungsi wazir atau menteri duduk dalam kabinet Sulthanah jaitu:
JANG PERTAMA : 1. Si Njak Tjampli, 2. Ibrahim Rasia, 3. Abdullah,
ketiga mereka itu masuk bahagian (seksi) Paduka Tuan: JANG KEDUA-
1. Umar, 2. Abdul Rahim, 3. Mahjudin, ketiga mereka ini masuk bahagian
Sri Rama; JANG KETIGA: 1. Harun, 2. Abdul Muthalib, 3. Abdul majid.
ketiga mereka ini fungsi martabat Wazir/Menteri, sedang jang
lain 64 orang sebagai anggota dewan perwakilan Rakjat,
nama tersebut dipetik dari naskah Qanun Al Asji Darussalam jang tersimpan dalam
chazanah kitab2 di dajah Marhum Tengku tanoh Abeë.(dikutip dari buku srikandi atjeh zainuddin)

TEUNGKU AMIR HUSEN AL MUJAHED,KETUA PENGURUS BRSAR PEMUDA PUSA

Teungku Amir Husin Al-Mujahid, selaku Ketua Pengurus
Besar Pemuda PUSA, datang ke Kutaraja dari Idi,
Aceh Timur, tidak lama sesudah proklamasi kemerdekaan.
Kedatangannya bertujuan untuk memimpin rapat Pemuda
PUSA seluruh Aceh, dalam rangka menyambut kemer-dekaan
Republik Indonesia. Rapat tersebut tidak dapat berjalan
seperti yang telah direncanakan. Ternyata jumlah undangan
yang hadir sangat jauh dari yang diharapkan.

Teungku Amir Husin Al-Mujahid dikenal sebagai
seorang yang militan dan ambisius, tetapi kontroversial. Ia
lahir di Idi, pendidikan terakhirnya pada suatu maktab di
Tanjung Pura, sebuah perguruan yang banyak menghasilkan
ahli agama yang kemudian menjadi ulama dan mubalig terkenal,
tapi juga menghasilkan ahli agama yang kemudian
menjadi tokoh komunis seperti Ali Hanafiah, tokoh PKI
Kalimantan Selatan; dan Samakidin, tokoh PKI di Kutaraja.
Amir Husin Al-Mujahid punya pergaulan yang luas.
Selain dengan para ulama, terutama ulama PUSA, ia juga
bergaul rapat dengan tokoh komunis seperti Nathar Zainuddin,
Xarim M . S, dan Sarwono. Pada masa pendudukan Jepang, Teungku Amir Husin Al-Mujahid membantu Ke -pala Jawatan Rahasia Jepang di daerah Langsa.

Dalam "Revolusi Sosial" ia mengambil alih pangkat
dan kedudukan Teuku Nyak Arief selaku anggota Staf
Umum Komandemen Sumatera. Tapi kemudian, setelah ia
memangku jabatan itu, ia tidak pernah tahu harus berbuat
apa selain menyandang pangkat Jenderal Mayor yang direbutnya
itu. Ia mengaku bahwa gerakannya untuk meng-hapuskan
feodal,

Tetapi di Kuala Simpang ia memperebutkan
seorang puteri kaum feodal dengan Nurdin Sufi, orang kepercayaannya
yang terdekat. Tentu saja dalam perebutan itu
Nurdin Sufi tersikut dan harus mengalah pada komandannya,
sang Jenderal Mayor Tituler Husin Al-Mujahid.
Amir Husin Al-Mujahid merasa telah mencapai
puncak kejayaan dengan pangkat dan kedudukan yang
tinggi dalam zaman revolusi fisik itu. Namun ia tidak punya
peran apa-apa lagi sesudah itu, kecuali ikut memperjuangkan
status tambang minyak Pangkalan Brandan serta ikutikutan
pula berbicara dalam mempertahankan provinsi
Aceh yang dihapuskan pemerintah pusat pada waktu itu

Ketika Teungku Daud Beureueh berontak dan mendirikan
Darul Islam di Aceh, Teungku Amir Husin Al-Mu -
jahid ditunjuk sebagai Ketua Majelis Syura (semacam
DPR) negara bagian dari NII (Negara Islam Indonesia).
Tetapi ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilancarkan
oleh Gani Usman dan Hasan Saleh terhadap
Teungku Muhammad Daud Beureueh selaku Wali Negara
Darul Islam, maka Teungku Amir Husin Al-Mujahid pun
segera saja meninggalkan Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Bersama A . Gani Usman serta Hasan Saleh.mareka membentuk Dewan Revolusi.

Semangat yang ada dalam diri para Pemuda PUS A
dimanfaatkan oleh Tengku Amir Husin Al-Mujahid. Mereka
membentuk Tentara Perjuangan Rakyat (TPR), di bawah
pimpinan Amir Husin Al-Mujahid. TPR lahir di Idi dan
bertujuan untuk memperbaiki Pemerintahan Daerah Aceh
yang masih labil, dan menurut mereka tidak dapat dipercaya
meneruskan revolusi nasional seperti yang dikehendaki
oleh rakyat banyak. Mereka menganggap dalam aparat
pemerintahan di Aceh masih terdapat anasir-anasir feodal
dan yang pro feodal, yang dikhawatirkan merupakan hambatan
bagi jalannya revolusi.

D i samping itu TPR juga bermaksud
menghapuskan sistem pemerintah feodal yang berjalan
berabad-abad di tanah Aceh dengan jalan menurunkan
seluruh Uleebalang yang masih ada, walaupun mereka tidak
segolongan dengan Uleebalang Cumbok(sumber biografi mayjen Syamaun Gaharu)

Kamis, 12 Februari 2015

SEJARAH TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN

Sekitar tahun 163O M, oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (1607 - I636 M. telah mengangkat salah seorang pahlawan mudanya menjadi Gubernur Sipil dan Militer yang berkedudukan diPariaman. Pahlawan Muda itu diberi gelar (Laksamana Muda Nanta", Laksamana Nanta menetap disana, kemudian kawin dengan salah seorang puteri Minang, beranak cucu dan akhirnya berkubur di Pariaman.
Setelah bertarung mati2an selama berpuluh2 tahun dengan Belanda yang mengerahkan seluruh potensinya, untuk menguasai Andalas Barat maka setelah berkuasa selama Ik. 130 tahun sejak tahun 15^0 M. hingga tahun 1670 M. berakhirlah kedaulatan Atjehdi Sum.Barat itu .
Akibat peperangan antara Atjeh/Minang melawan Belanda terjadilah perpindahan penduduk, terutama yang lemah2 dari sekitar pantai keudik dan diantara yang turut mengungsi itu termasuklah keturunan2 dari Laksamama Muda Nanta.
Teuku umar dan keluarganya dilampisang

Kemudian seorang diantara keturunan2 dari Laksamana MudaNanta sesudah dewasa di kenal dengan'gelar Datuk Sungsang Bulu ,seorang pahlawan gagah berani, ahli perang, serta menurut orang terkenal sakti . Datuk Sungsang Bulu mempunyai salah seorang putera yg banyak mewarisi sifat2 dan ilmu2 dari beliau dan sesudah dewasa digelarkan Datuk Machudum Sakti .
Disamping itu Datuk Machudum diketahui sebagai seorang ahli politik perang, dagang dan sangat benci kepada bangsa Belanda. Sejak kecil Datuk Machudum telah mendongar cerita neneknya tentang negeri asal .
kejayaan Atjeh dan kepopuleran Sultan2-nya.Karena didorong oleh satu dan lain sebab, Datuk Machudum Sakti lalu mengumpul teman2nya yang semudik dengan beliau dan teman2nya itu umumnya. berasal dari daerah berlain2an pula umpamanya dari lubuk sikaping pasaman pariaman Rao dan tiku. Dengan duabelas buah perahu merekapun meninggalkan andalas.
datuk machudum telah lama mendengar bahwa dipantai barat atjeh ada terdapat sebuah gunung mengandung emas malah sungai2nya pun mengalirkan emas .tujuan mereka persis disekitar muara sungai disitulah mareka melabuh jangkarnya.tempat sebelumnya disebut pasi karam sejak itu digelarkan oran nama meulaboh.Datuk Machudum pun berangkatlah ke Banda Atjeh Darussalam, untuk menghadap Sultan, dan menyampaikan maksudnya.
Sultan Djamalul Alam Sjarif Hasjim Badrul Munir disebut juga dengan sebutan Poteu Djamalooy - (1125 - 114-5 H, - 1713 - 1733 M.) berkenaan mengabuLkan permohonan Datuk, untuk mendirikan negeri dan membuka pertambangan emas ditempat dimaksud. Dan Sultanpun telah menamakan kampung (negori) tsb dengan "Woylom, maksudnya Datuk Machudum Sakti keturunan Atjeh telah kembali lagi kenegeri asalnya tetapi karena pengaruh dialek anak negeri, kalimat tsb dipermudah, dipersingkat dan diucapkan menjadi "Woyla ".
Datuk Machudum diangkat menjadi Kepala Negeri dan kepada beliau ditugaskan untuk menyetorkan pajak negeri dan tambang emas setiap tahunnya keperbendaharaan negara diibu kota, Datuk tetap setia melakukan tugasnya dengan baik selama beberapa tahun,
Tetapi dalam tahun2 berikutnya terjadilah kemelut diibu kota, dengan timbulnya pemberontakan rakyak yang menginginkan supaya Sultan Djamalooy turun tahta, Akibat suasana tsb Datuk Machudum menjadi enggan menyetor pajak dan tidak muncul2 keibu kota, Setelah melihat hal tsb Sultan Djamalooy memerintahkan T.Panglima Seri Setia Ulama Panglima Sagi 25 mukim yang masih setia kepadanya untuk datang dan menagih pajak negeri kepada Datuk Machudum diwoyla,kpd utusan itu oleh Datuk dipersembahkan sebuah peti besar dan katanya telah diisi penuh dgn uang pajak negeri Woyla, Sesampainya dihadapan Sultan diistana barulah peti itu dibuka dan rupa2nya isi peti tsb tak lain dari perca2 tua, besi2 buruk dan lain2. yang tak ada harga nya. Melihat hal tsb Sultan ' menjadi sangat marah pada Datuk Machudum dan terus memerintahkan salah seorang Pang Ule Peunaro seorang panglima yang gagah berani dan setia untuk menyampaikan dua kata kepada Datuk Machudum Sakti , yaitu 1.) Bayar lunas tunggakan pajak negeri woyla atau ?.,) ditangkap untuk diringkus dalam pendjara,
Karena tidak adanya jalan kompromi antara yang datang dengan yg didatangi, terjadilah perkelahian dan pertumpahan darah yang sia2 dan tidak diingini , setelah kedua belah pihak banyak yg tewas dan lain2 luka2 dengan suatu muslihat Datuk Machudum berhasil ditangkap dan ditawan.
Dgn badan jang penuh luka2 Machudum digiring keibu kota dan dihadapkan kedepan Sultan. Datuk Machudum lalu dijebloskan kedalam pendjara di Lam Nga.
Sewaktu Sultan Alaidin Achmadsjah, putera dari Sul tanah (Ratu) Nurul Alam Nakiatuddin (1676-.I678 M.) dan Laksamana Maharadja Lela naik tahta tahun 1733 M (1733 - 17^2 M) beliau lalu membebaskan Datuk Machudum Sakti , memberi persalin dan mengangkatnya menjadi salah seorang panglimanya dengan gelar Tok Panglima Eumping Beuso.
Lebih kurang100 tahun kemudian, oleh suatu kesalah faham antara Sultan Alaidin Sulaiman Ali Iskandarajah (1839 - l84l M„) dengan Panglima Polem Serimuda Perkasa. T.Mahmud Tjut Banta, istana Sultan telah dikepung oleh Polem. Sultan dan pengisi istana akhirnja hampir berputus asa dan tak mungkin lagi membebaskan diri dari kepungan tsb . Andaikata mereka mengetahui rahasia isi istana , pastilah dengan tempo.yang singkat saja istanadapat direbut dan Sultan berhasil ditawan,
Rupa2nya dewi fortuna masih berada dipihak Sultan, Ditengah malam yang pekat, masuklah sesosok tubuh manusia, tanpa memperkenalkan dirinya , lalu menerangkan sebuah rahsia dimaana kelemahan Panglima Polem,dengan itu pula Sultan berhasil memperkuat kedudukannya dan mengakibatkan Panglima Polem terpaksa membatalkan niatnya dan kembali dengan tangan hampa ke Lam Sie.Setelah kedudukan Sultan stabil kembali, beliaupun berusaha untuk mengetahui siapakah sebenarnya pemuda jang telah begitu sedia mengorbankan jiwa raganya demi keselamatan Sultan, rupa2nya pemuda tsb tak lain dari salah seorang cicit dari Datuk Machudum Sakti.Panglima Eumpieng Beso yang terkenal , tegasnya zuriat dar i T.Laksemana Muda Nanta,Panglima Angkatan Perang Atjeh di Andalas Barat lk200 tahun yang lalu.
Lalu Sultan mengangkat pemuda tsb menjadi saLah seorang Uleebalang Poteu/Panglima Sult an dan diberi gelar "Teuku Nanta Setia Radja.
Sultan menyerahkan hasil pulau2 sekitar VI mukim Meuraxa untuk nafkah hidup beliau dan mengawinkannya.dengan Tjut Ti Raja binti Potjut Daud, salah seorang familinya . Beliau inilah ayah T.Tjhik Nanta Setia dan T.Mahmud dan nenek dari T.Umar Djohan Pahlawan dan Tjut Njak ' Dien.
T.Umar Djohan dan Tjut Njak Dien, keduanya adalah satu nenek, sewali atau sepupu. Ayah mereka bersaudara kandung, yang tua T.Tjhik Nanta Setia adalah ayah dari Tjut Njak Dien dan yang muda T. Mahmud Nanta adalah ayah dari T.Umar,
Teuku Umar Johan pahlawan
Sepasang pahlawan terkenal ini adalah cucu kandung dari T.Nanta Setia Radja Tjhik, salah seorang Uleebalang Poteu (Panglima Sultan Atjeh), T.Tjhik Nanta Setia diangkat oleh Sultan Sulaiman Ali Iskandar sjah, menjadi uleebalang VI mukim dari sagi 25 mukim Atjeh Besar dan berkedudukah di Peukan Bada.
Beliau kawin dengan puteri T.Udjung Uleebalang Lam Nga dari 12 mukim Tungkop dari sago 26 mukim A.Besar. Dari perkawinan ini lahirlah Tjut Njak Dien. anak beliau yang ketiga yang bungsu dan satu2nja puteri beliau.Dan Tjut Njak Dien ditaksir lahir sekitar tahun 1857 M. T.Mahmud yang digelar T.Meulaboh, sewaktü mudanja pergi merantau ke Meulaboh, beliau kawin dengan Tjut Mahani puteri T.Suloh Keudjrun Tjhik Kaway 16 Meulaboh, beliau menetap sebagai saudagar dan menjadi tangan kanan mertuanya T.Suloh di Meulaboh.Dari perkawinan nya dengan Tjut Mahani itu lahirlah T.Umar Djohan Pahlawan ( tahun'1859 M.) sebagai anak kedua dari 4 orang putera dan 2 orang puteri beliau.

Rabu, 28 Januari 2015

PERJUANGAN POCUT MEURAH INTAN DAN PUTRA PUTRANYA


Pocut Meurah Intan adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga sultan Aceh. Ia juga biasa dipanggil dengan nama tempat kelahirannya. Biheue adalah sebuah kenegerian atau ke-uleebalangan yang pada masa jaya Kesultanan Aceh berada di bawah Wilayah Sagi XXXI Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, kenegerian itu menjadi bagian wilayah XII mukim : Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng.

Tuanku nurdin
Suami Pocut Meurah Intan bernama Tuanku Abdul Majid, Putera Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid adalah salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh yang pada mulanya tidak mau berdamai dengan Belanda. Karena keteguhan pendiriannya dalam menentang Belanda, ia disebut oleh beberapa penulis Belanda sebagai perompak laut, pengganggu keamanan bagi kapal-kapal yang lewat di perairan wilayahnya, sebutan ini berkaitan dengan profesi Tuanku Abdul Majid sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di pelabuhan Kuala Batee.
Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah Intan memperoleh tiga orang putera, yaitu #Tuanku Muhammad yang biasa dipanggil dengan nama Tuanku Muharnmad Batee,
1. Tuanku Budiman, dan
2. Tuanku Nurdin.

Dalam catatan Belanda, Pocut Meurah Intan termasuk tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Hal ini di sebutkan dalam laporan colonial "Kolonial Verslag tahun 1905", bahwa hingga awal tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalan Pocut Meurah Intan. Semangat yang teguh anti Belanda itulah yang kemudian diwariskannya pada putera-puteranya sehingga merekapun ikut terlibat dalam kancah peperangan bersama-sama ibunya dan pejuang-pejuang Aceh lainnya.

Tuanku Muhammad
Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda Pocut Meurah Intan mengajak putera-puteranya untuk tetap berperang. Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya, dalam rangka pengejaran dan pelacakan terhadap para pejuang, Pocut Meurah Intan terpaksa melakukan perlawanan secara bergerilya. Dua di antara ketiga orang puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi terkenal sebagai pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda. Mereka menjadi bagian dari orang-orang buronan dalam catatan pasukan Marsose.

Pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh satuan Marsose Belanda yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie. Pada tanggal 19 April 1900, karena dianggap berbahaya, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, dengan dasar Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25. pasal 47 R.R.
Peningkatan intensitas patroli Belanda juga menyebabkan tertangkapnya Pocut Meurah Intan dan kedua puteranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji. Namun, sebelum tertangkap ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak Belanda. la mengalami luka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, satu urat keningnya putus, terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur laksana setumpuk daging yang dicincang-cincang. Pada luka-lukanya itu disapukan setumpuk kotoran sapi, keadaannya lemah akibat banyak kehilangan darah dan tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan, luka-lukanya telah berulat. Mulanya ia menolak untuk dirawat oleh pihak Belanda, akhirnya ia menerima juga bantuan itu. Penyembuhannya berjalan lama, ia menjadi pincang selama hidupnya.
Pocut Meurah Intan sembuh dari sakitnya; bersama seorang puteranya, Tuanku Budiman, ia dimasukkan ke dalam penjara di Kutaraja. Sementara itu, Tuanku Nurdin, tetap melanjutkan perlawanan dan menjadi pemimpin para pejuang Aceh di kawasan Laweueng dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap Tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju, yang sebelumnya Belanda telah menangkap isteri dari Tuanku Nurdin pada bulan Desember 1904, dengan harapan agar suami mau menyerah. Tuanku Nurdin tidak melakukan hal tersebut.

Setelah Tuanku Nurdin di tahan bersama ibunya, Pocut Meurah Intan dan saudaranya Tuanku Budiman dan juga seorang keluarga sultan yang bernama Tuanku Ibrahim di buang ke Blora di Pulau Jawa berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda, tanggal 6 Mei 1905, No. 24. Pocut Meurah Intan berpulang ke-rakhmatullah pada tanggal 19 September 1937 di Blora, Jawa Tengah dan dimakamkan di sana.