Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.
Tampilkan postingan dengan label ACEH DIMATA MUSUH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACEH DIMATA MUSUH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2015

RAJA BUJANG TRUMON


Raja Bujang adalah penguasa Trumon yang paling terkenal. Baginda dinilai Ritter sebagai seorang penguasa pribumi yang mempunyai otak dan lihai bermain politik, maka telah melakukanmanuver-manuver politik dan ekonomi (baik dengan Aceh, Belanda dan pedagang asing lainnya, seperti orang Inggeris dan orang Cina) dalam mengumpul uang untuk melanggengkan kuasanya. Baginda juga memiliki kapal untuk membawa lada dari Trumon ke Batavia, Pulau Penang dan Bengali dan balik dengan barang-barang impor (Ritter 1839: 11; Stibbe, Wintgens &Uhlenbeck 1919: 441).
Hubungan antara Sultan Aceh dengan Trumon sepanjang pemerintahanRaja Bujang mulai kurang mesra. Raja Bujang ingin lebih bebas dari hegemonikuasa Kutaraja yang sudah berabad-abad menaungi raja-raja kecil di pantai barat Aceh. Antara sebab utama rosaknya hubungan itu ialah perampasan kapal Anna milik Raja Bujang, disebut
Bagianna oleh orang Trumon sendiri, yang penuh dengan muatan yang dilakukan wakil Sultan Aceh dalam pelayarannya dari Bengali ke Trumon. Selepas itu, kapal itu dipakai Sultan Aceh untuk menyerang kapal-kapal dagang Eropah yang lalu di perairannya. Antara yang menjadi mangsa ialah kapal Inggeris.

Nasib kapal Bagianna yang dirampas penguasa Aceh itu dilaporkan dalam
the Asiatic Journal 
(jilid 24, bagian 2 New Series/September-December 1837, halaman 169 di bawah rubrik “DutchIndia”) yang berbunyi:
The notorious Achinese piratical statebark Bagianna which had recently been committingserious aggressions against the British flag, under the directions of the Rajah Moodah[Raja Muda; penulis] of Acheen, has, we learn, been captured by the Dutch men of war,which had been sent to Acheen to demand the restitution of the garda-costa schooner 
Dolphin, and the surrender of her crew (by whom she had been cut off from Padangroads, with treasure on board, and taken into Acheen), and taken away, in retaliation of the conduct of the rajah, in harbouring the crew of the
Dolphin and refusing to restorethe vessel. The gunner of the
Bagianna
was dismissed by the Dutch, and having madehis way to Penang, related the circumstance of the capture of the craf
W. L. Ritter (1839:9-13)

Juga melaporkan Raja Bujang telah memagariistananya dengan benteng yang tingginya 8-10 kaki, selain dikelilingi parit sertadilengkapi baluarti (
bastion ), besi runcing dan kanon untuk melindungi diri
terakhir masa kekuasaanRaja Bujang (1814-1835)

putera mahkota Trumon, Nyak Bata (beberapa sumber menuliskannya Nyak Batak), yang setelah kemangkatan ayahnya pada tahun 1835 langsung naik nobat dalam usia 12 atau 13 tahun. Setelah naik takhta, Nyak Bata bergela
Raja Muda, (“Radja Moeda van Troemoen” ) Oleh kerana masih muda, baginda diwakili pamannya yang menjadiraja di Singkel, Muhammad Arif (RajaAmaris) dengan dibantu lima orang wali, iaitu Teuku Haji Kotta, Teuku Moramdari Daing, Teuku Molaban, Teuku Haji Matinda, dan Teuku Lalumpa (Ritter 1839: 11; Von Rosenberg 1885).

Nyak Bata adalah putera Raja Bujang dari isterinya seorang wanita Indo
yang dipanggil orang Trumon sebagai Si Nonna (Si Nona). Ayah Si Nonna adalah orang Aceh dan ibunya wanita Eropah, namanya Kaatje Stoolte, anak seorang doktor di Padang (Ritter 1839: 11-12; Veth 1873: 94). Menurut Hoffman(1873: 7) Kaatje Stolte adalah “keturunan seorang wanita Kristen, anak seorang doktor yang pernah bekerja untuk VOC di Padang”. Kaatje dan pemuda Aceh yang dicintainya telah lari dari Padang semasa kota itu diserang bajak laut LeMême asal Perancis pada tahun 1793 (Netscher 1881: 112-22).

Pasangan itu menaiki sebuah kapal yang kebetulan sedang berlabuh di pelabuhan Muara.Kaatje tidak mahu kembali ke Padang. Pasangan yang kemabukan cinta itu akhirnya berkawin dengan Kaatje setelah memeluk Islam dan kemudian sampai di Trumon.Di Padang, kedengaran khabar angin yang mengatakan gadis Indo Aceh belanda itu telah diculik orang pribumi dan dijadikan budak.
Tidak lama kemudian, lahirlahseorang bayi Indo di Trumon, anak dari pasangan Kaatje Stolte dan pemuda Aceh itu, yang menjadi gadis yang sangat luar biasa cantiknya dan dipanggil Si Nonna oleh penduduk Trumon.
Gadis jelita itu dipersunting oleh Raja Bujang, penguasa Trumon. Dari perkahwinan itu, lahirlah putera mahkota Nyak Bata(Amran 1981: 346-50). Menurut Ritter (1839) Kaatje Stolte, suaminya dan anak perempuannya Si Nonna ingin naik haji ke Mekah. Namun, mereka terpaksa berhenti di Trumon beberapa lama dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci.Ketika itulah Raja Bujang melamar Si Nonna yang cantik itu untuk dijadikan permaisurinya. Akibatnya, mereka tidak meneruskan perjalanan ke Mekah. Padatahun 1837, Kaatje Stoolte sudah berumur kira-kira 70 tahun. Setelah kematiansuami, ia kadang-kadang tinggal di Trumon dan di Bulu Sama, kedua-duawilayah itu di bawah kekuasaan keluarga Raja Trumon (Veth 1837: 172
Semasa pemerintahan Raja Muda alias Nyak Bata, Kaatje Stolte telah memainkan pengaruhnya di istana Trumon untuk membuka jalan kepada orang Belanda untuk menguasai negeri itu (Kielstra 1888: 1194). Sebelum itu, semasa pemerintahan ayahnya, Raja Bujang, orang Belanda sudah berusaha memasukiTrumon: pada Oktober dan November 1830, lima tahun setelah penyerahan Bengkulu oleh Inggris kepada Belanda, H. MacGillavry, Residen Belanda diPadang mengunjungi Trumon.
Pada 25 November 1830, sudah ditandatangai perjanjian dengan Raja Bujang (Lange 1852). Walaupun perjanjian itu tidak begitu efektif, tetapi pengaruh sultan Aceh tetap kuat dalam masyarakat
Setelah Raja Bujang mangkat dan digantikan Nyak Bata, Trumon berhasil dikuasai Belanda. Satu perjanjian yang mengandungi enam pasal telah disodorkan Jenderal AV. Michiels (Gubernur Sumatra’s Westkust pada waktuitu yang berkedudukan di Padang) kepada Raja Muda (Kielstra 1888: 1199).

Penguasa Trumon yang muda itu tidak berkuasa untuk menolaknya. Sejak itu,ia memperoleh bayaran tahunan sebesar 2400 Gulden dari Belanda dengan imbalan kegiatan perdagangan kerajaannya harus berada di bawah kuasa Belanda.(komplek makam raja raja trumon,courtesy youtube

Minggu, 15 Maret 2015

KOELI JAWA DAN MARSOSE


Untuk membantu serangan ke Aceh, ratusan pekerja paksa dikirim dari Jawa. Belanda menyebutnya beer atau beeren. Orang Aceh menyebutnya Simeuranté. Orang-orang yang dirantai.
Di kota-kota terpenting di Jawa dibentuk depot narapidana kerja paksa. 
Gubernur Jenderal memberi kuasa bagi semua bangunan pekerjaan umum, yang 
hingga sekarang ini dikerjakan dengan bantuan tenaga narapidana, untuk 
mengambil kuli-kuli lepas. Siapa yang bernasib sial bagi narapidana pada 
Perang Aceh mendapat hukum-an tambahan untuk melakukan kerja paksa di luar daerah tempat tinggalnya, tinggal mati sajalah. Besa r sekali kebutuhan 
pengangkutan tenaga manusia. Kecuali jalan dari kota pelabuhan Olehleh ke Kutaraja, yang mempunyai jalan trem kecil, semua pengangkutan harus 
dilakukan oleh tukang pikul. Baik tenaga pasukan maupun tenaga narapidana kerja paksa Jawa tid ak dapat terus-menerus mengantar penyediaa yang di-serap oleh Aceh.

rang hukuman dari Pulau Jawa yang dibawa ke Aceh, tidak hanya menderita karena kerja paksa dan kelaparan. Sebagian ada yang meninggal karena dicambuk karena ketahuan mencuri.
H C Zentgraaff, manggambarkan penderitaan pekerja paksa tersebut, yang sehari-hari dipanggil dengan nama binatang; si babi lanang. Sebagian besar pekerja paksa pada kelompok ini mati secara mengenaskan di rimba-rimba Aceh. Mayat mereka pun dibiarkan tergeletak begitu saja di jurang-jurang bebatuan, menjadi santapan binatang buas.
Tahun 1876, akhir Perang Aceh kedua ini, memecah-kan semua rekor. Kekuatan 
pasukan Belanda di Aceh rata-rata terdiri dari tiga ribu pasukan Eropa, 
lima ribu pasukan pribumi, dan 180 orang pasukan Afrika. Sebagai 
tukang-pikul dan pekerja diturut-sertakan t iga ribu narapidana, dan lima 
ratus orang kuli lepas. Pada tahun itu meninggal dunia 1.400 orang anggota militer dan 1.500 orang narapidana kerja paksa. Karena sakit atau luka tidak kurang dari 7.599 orang militer harus diungsikan ke Padang atau 
Jawa.

Menurut Zentgraaff mereka yang dicambuk itu biasanya para beer yang kedapatan mencuri makanan atau barang-barang milik Belanda. Kadang-kadang mereka juga mencuri senjata untuk dijual kepada pejuang Aceh. “Penipu-penipu yang tak dapat dipercaya ini terdapat pula dalam pasukan, serta tidak dapat meninggalkan kebiasaan merampok dan mencuri,” lanjutnya.
Diantara beer-beer itu terdapat pula cukup banyak orang –orang pemberani, yang seringkali mendapat perintah–perintah berbahaya. Saat Belanda menerapkan taktik perbentengan terpusat untuk melawan pejuang Aceh, saban pagi para pekerja paksa itu menyusuri rel trem untuk memeriksa ganjalan-ganjalan rel dan memperbaiki sekrup yang longgar.
Hal itu harus mereka lakukan karena pasukan Aceh pernah sering meletakkan bahan peladak di rel trem, yang bila tersentuh roda tren akan meledak dan menyebabkan kematian di pihak Belanda. Bahan-bahan peledak itu didapatkan pejuang Aceh dari serdadu-serdadu Eropa bayaran Belanda yang menyebrang ke pejuang Aceh.
Untuk membersihkan ranjau-ranjau dan bahan peledak di rel trem, setiap malam para beer harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering kali mereka juga harus mengantarkan surat-surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasi gerilyawan Aceh.
Pembentukan pertama korps ini terdiri dari satu divisi yang terbagi dalam dua belas brigade, yang masing-mssing terdiri dari dua puluh orang serdadu Ambon dan Jawa dibawah pimpinan seorang sersan Eropa dan seorang kopral Indonesia. Pada iahun 1897 menyusul perluasan sampai dua divisi dan pada tahun 1899 sampai lima divisi; semuanya berjumlah seribu dua ratus orang. Kemudian ada lagi beberapa kompi yang berasal dari Jawa; dan pasukan inilah yang kemudian terkenal dengan pasukan Marsose.
Dalam kisah-kisah romantis perang Aceh biasanya digambarkan bahwa seakan-akan 1200 orang Marsose inilah yang membereskan apa yang tidak dapat dilakukan oleh bala tentara yang sepuluh kali lebih besar dulu. Ini tidak benar! Secara kekuatan efektif, kekuatan pasukan Belanda seluruhnya di Aceh di bawah van Heutsz lebih besar daripada kekuatan–kekuatan sebelumnya.
Di bawah pimpinan beberapa orang perwira telah dilakukan kekejaman-kekejaman yang tidak terlukiskan dengan pasukan-pasukan teror oleh brigade-brigade Marsose, yang mengakibatkan ratusan dan bahkan ribuan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang terbunuh secara menyedihkan.

Kemandirian brigade merupakan rahasia besar Marsose. Persenjataannya adalah sebaik-baik persenjataan pada masa itu, yakni karaben pendek (bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong) sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan topi. Memang brigade-brigade ini membawa beberapa narapidana untuk mengangkut perlengkapan mereka dalam setiap operasi militer, tetapi secara keseluruhan pasukan Marsose adalah hidup berdikari. Semangat pasukan senantiasa dipertinggi dengan berbagai cara: hadiah, kenaikan pangkat dan upacara.
Pasukan Marsose tahun 1890 dapat disamakan dengan anggota pasukan komando, pasukan payung, dan pasukan-pasukan khusus lainnya di kemudian hari. Mereka pun merasa sebagai pasukan istimewa. Adalah merupakan kehormatan bagi perwira untuk ditempatkan pada korps ini. Sebagian besar para perwira pribumi yang terkenal dan yang terjahat berasal dari pasukan Marsose, dan mereka sangat disanjung-sanjung oleh penguasa kolonial Belanda, dengan memberikan berbagai gelar militer kehormatan.(Foto van een groep koelies 1874.jpg)

Jumat, 05 Desember 2014

IDEOLOGI TAK PERNAH MATI.


Mariyah seorang perempuan dari Nisam diaceh utara yang tdk tamat madrasha aliyah,menuliskan impian nya tentang masa depan aceh, pada tanggal 5 agustus 2003 yang lalu kepada penduduk jakarta .mengikuti metode ideologi yang diwariskan oleh hasan tiro.
" Lalu aku belajar tentang sejarah masa lalu aceh yang mardeka bersama dengan perempuan dari desa lain.Kami mulai merajut mimpi,andai kami nanti merasakan kemardekaan yang sebenar nya.rakyat aceh akan mengantur hidupnya sendiri dalam sebuah negara kecil,rakyat lebih cepat sejahtra dari hasil bumi yang ada,keadilan ditegakkan,satu orang mati dikampung"presiden" kami prihatin,dan polisi kami mengusut nya dengan sungguh sungguh".
Reflexi perasaan itu di pertontonkan kepada kita bahwa ideologi itu tdk pernah mati. sebagai mana gagasan ideologi yg disemaikan oleh Hasan tiro mulai tumbuh dan berkecambah sampai ke pelosok desa yg terpencil sekalipun diaceh,namun para pejuang ideologi tersebut sekarang sdh mulai luntur ketika mareka sudah mendapatkan kekuasan yang dulu mareka perjuangkan.berbeda dengan rakyat yg masih memimpikan sebuah kebebasan untuk menentukan nasib sendiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat,sebagai mana kerajaan aceh zaman dahulu yg gilang gemilang meucuhu ban sigom donya.ideologi ini tidak pernah mati dalam sanubari rakyat acehkarena UUD45 RI mengatakan bahwa penjajahn di atas dunia harus dimusnahkan.
Setiap bangsa berhak menentukan nasib nya sendiri.hari kemederkaan yg mareka peringatai setiap tahun nya pada tanggal 4 desember seperti nya sudah hambar dan tak bermakna,dulu mareka dengan ancaman dan pemaksaan kepada penduduk untuk mengibarkan bendera itu sebagai sebuah lambang kemerdekaan,sekarang mareka sendiri yang melarang dengan seruan2 yang selalu di ulang ulang,makna sebuah indentitas diri lenyap bersama nikmatnya kursi kekuasaan.bagi rakyat yg masih memiliki ideologi itu bendera adalah darah,the flag is blood,kata teman sayaadifa.SELAMAT MILAD YG KE 38,semoga perjuangan masih berlanjut dan damai selalu dalam bingkai NKRI,karena kita tdk lagi berjuang untuk kemardekaan teritory.mimpi untuk itu sdh kami hilangkan kan semenjak kursi kami dapat masih sangat empuk.

Senin, 01 September 2014

SERANGAN BELANDA JANG KEDUA DAN KEKALAHANNJA JANG TERAKHIR

Sebagaimana jang terdjadi, sesudah kekalahannja dalam serangan pertama itu, Belanda melakukan
serangan jang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam, dengan tidak pernah mentjapai
kemenangan jang sesunguhnja terhadap bangsa Atjeh jang mempertahankan dirinja itu. Perang
Belanda (sebagai bangsa Atjeh melihatnja) atau Perang Atjeh (sebagai bangsa Belanda melihatnja)
berdjalan hampir satu abad, sehingga oleh madjallah Amerika, HARPER´S MAGAZINE, sudah
dinamakan sebagai perang “SERATUS TAHUN MASA INI”.

Achirnja bangsa Belanda sudah dikalahkan oleh bangsa Atjeh dalam pertempuran-pertempuran jang terdjadi di seluruh Atjeh pada bulan Mart, 1942, sebelum Djepang masuk ke Atjeh dalam perang Dunia ke-II demikianlah, Belanda tidak pernah mentjapai tudjuan perangnja di Atjeh: Negara Atjeh tidak pernah menandatangani surat menjerah kepada Belanda, dan perlawanan tidak pernah dihentikan sampai achirnja Belanda diusir dari bumi Atjeh dengan segala kehinaan.

Tetapi diantara dua tanggal itu, njakni antar tanggal 26 Mart, 1873 (ketika Belanda menjatakan
perang kepada keradjaan Atjeh jang merdeka dan berdaulat) dan bulan Mart 1942 (ketika semua
Belanda dan kaki-tangan-nja di usir dari Atjeh) Beland apernah membuat propaganda bohong jang
mengatakan bahwa mereka sudah dapat “menaklukan” Negara Atjeh dan bahwa mereka sudah sah
menduduki Atjeh, jaitu setjara “legal”. Propaganda Belanda ini adalah palsu dan bohong sama
sekali. Belanda tidak pernah dapat berbuat sebagai apa jang di propagandakanja itu Sebagaimana
sudah di ketahui, serangan Belanda jang pertama, dibawah pimpinan djenderal Kohler, sudah
dihantjur-leburkan oleh tentera Atjeh dan Kohler sendiri di hukum mati di Kuta Rdja. Serangan
Belanda jang kedua dibawah pimpinan djenderal Van Swieten, jang dimulai pada tanggal 25
Desember, 1873, dengan kekuatan jang djauh lebih besar lagi dari serangan pertama, djuga tidak
mendapat kemenangan, sebagai mana jang sudah diakui sendiri oleh Van Swieten dalam buku-nja.

Dalam bulan Djanuari, 1874, segera sesudah ia mendarat dipantai Atjeh,Van Swieten
menjatakan kepada dunia bahwa ia sudah mengambil (annexed) keradjaan Atjeh dan mamasukannja
kedalam Hindia Belanda (alias Indonesia). Ini telah dilakukannja untuk menjenangkan hati bangsa
Belanda jang telah begitu malu dimata dunia atas kekalahan-kekalahan jang mereka terima dari
tangan bangsa Atjeh. Tetapi karena Negara Atjeh dan Tentara Atjeh jang sangat kuat itu masih
berdiri dan mengalahkan tentara Belanda dalam setiap medan perang jang terdjadi sesudah nja,
maka propaganda bohong dari Van Swieten itu tidak dapat disembunjikan kebohongannja dimata
dunia, sehingga pernjatan Van Swieten itu mendjadi masjhur dengan nama “Van Swieten Illegal
Annexation of Acheh”.

Kemudian daripada itu, pada tahun 1879, Van Swieten sendiri mengaku bahwa ia sebenarnja tidak pernah dapat menaklukkan Atjeh, dan ia meminta kepada bangsa nja supaja ia djangan lagi dipanggil dengan nama djulukan “Penakluk Atjeh”sebab katanja ia malu - karena ia tidak pernah dapat menaklukan bangsa Atjeh. Berdasarkan atas pengalamannja sebagai panglima tertinggi Angkatan perang Belanda di Atjeh,

Van Swieten mengatakan bahwa ia sudah jakin bangsa Atjeh itu tidak mungkin dapat dikalahkan dalam medan perang. Sekarang ia mengatakan perang Atjeh itu satu satu kesalahan dari pemerintah Belanda. Belanda wadjib menarik diri dari Atjeh dan mengakui Atjeh sebagai Negara Merdeka kembali. Perang Atjeh bukan sadja menghancurkan tentera Belanda di Atjeh, tetapi akan menghantjurkan kekuasan Belanda di “Indonesia”. Van Swieten begitu jakin pada pendiriannja itu hingga ia menjusun satu gerakan politik di negeri Belanda untuk mempengaruhi pemerintahan Belanda supaja mengikuti kebidjaksanaan politik jang diandjurkannja.

Kata Van Swieten: “
une nation ne meurt pas de reconnaitre une faute, mais d’y persister” - satu bangsa tidak akan mati karena menginsafi satu.kesalahan jang sudah dibuatnja, tetapi akan mati djika bangsa itu terus menerus melakukan kesalahan itu! Seorang djenderal Belanda jang sudah menjatakan bahwa ia sudah “megambil” dan sudah “menaklukan” dan sudah “memasukkan” Negara Atjeh Merdeka kedalam “indonesia”-nja,kini menuntut supaja Atjeh diakui sebagai Negara Merdeka kembali! Pemerintah Belanda tidak mengikuti nasihatnja dan perang berdjalan terus.

Tetapi lagi-lagi, pada tahun 1881, pemerintah Belanda menjatakan bahwa Atjeh sudah dapat
ditaklukan dan bahwa perang Atjeh sudah selesai dengan kemenangan bagi pihak Belanda. “Ini
adalah angan-angan jang bukan-bukan, jang tidak berdasarkan kenjataan, jang dibikin-bikin oleh
kaum pendjadjah,” tulis Professor M.C. Ricklefs. Seterusnja ia memberi komentar sebagai berikut :
„Perang Atjeh adlah suatu peperangan jang lama dan pahit sekali. Ketika tentera Belanda madju
sambil mendjatuhkan bom dan membakar kampung- kampung, penduduk lari ke gunung-gunung
tetapi tetap meneruskan perlawanan mereka ….Perlawanan dipimpim oleh ulama-ulama dan jang
paling masjur adalah Tengku Tjik di Tiro (1836-91),dan perlawanan mendjadi perang sutji antara
umat Islam dan kafir. Achirnja Belanda mendjadi sadar bahwa mereka tidak menang apa-apa, dan
tidak menguasai sedjengkal tanah dari tangsi-tangsi mereka. Biaja peperangan ini besar sehingga
pada tahun 1884-5 Belanda terpaksa menarik mundur tenteranja ke benteng-benteng, dan dengan
demikian maka negeri Atjeh kembali ke dalam tangan bangsa Atjeh sendiri.”

Surat kabar London MORNING POST, menulis dalam editorialnja pada hari 2 Juli 1874 sebagai
berikut:
„Sudah mendjadi satu kenjataan bahwa bangsa Atjeh itu bukanlah satu bangsa jang mudah
dikalahkan orang. Mereka sudah memperlihatkan kekuatan dan kesangupan jang hampir-hampir
tidak ada tjontohnja dalam melawan dan menentang si pendjadjah negeri mereka. Laporan jang
terachir, jang kami terima dari suber-sumber jang di pertjajai, memperlihatkan betapa besar
kekuatan dan bagaimana keras tekad mereka untuk menerus peperangan: mereka muntjul kembali di
tempat-tempat dimana tadinja mereka sudah dikalahkan dan dan ditempat-tempat jang sama sekali
tidak di sangka-sangka oleh Belanda….

 Kabarnja kenjataan-kenjataan ini sudah begitu besar
mempengaruhi dan mengobah pendapat djenderal Van Swieten mengenai semangat perang bangsa
Atjeh. Satu bangsa jang sanggup berperang dengan semangat jang sematjam ini tidak akan segera
menjerah, dan kini sudah terang bahwa Belanda sudah salah terka dengan pernjataan-pernjataannja
jang mengatakan peperangan akan segera berachir.... Keberanian bangsa Atjeh memaksa kita
mengankat tangan, memberi hormat: dan ada sesuatu dalam semangat bangsa jang baik ini jang
menjebabkan mereka tidak mau merendahkan diri kepada sipendjadjah dan musuh-musuh mereka.
Dengan penuh kesabaran orang Atjeh memperbaiki kembali benteng-benteng mereka jang sudah
rusak, atau mendirikan jang baru ditempat benteng lama jang sudah roboh, dan dari sana membalas
tembakan-tembakan Belanda walaupun tidak kena, tetapi mesti ada balasan! Oleh karena itu apakah
perlu diherankan bahwa “kemenangan” Belanda itu begitu tidak menjakinkan? Ketika sedjarah
perang Belanda dengan Atjeh ini ditulis dan sibukukan, kita pikir, hal itu tidak akan menambah
kebesaran bangsa Belanda.”

Hal ini sebenarnja sudah kedjadian. Sampai sekarang sudah lebih 500 buku sedjarah ditulis dalam
bahasa Belanda mengenai Perang Belanda dengan Atjeh itu dan sungguhlah bangsa Belanda tidak
keluar dari halaman-halaman sedjarah itu lebih baik dari sudut moral dan militer. Sebaliknja bangsa
Atjeh-lah jang ternjata lebih besar dan lebih baik dari sudut moral dan militer, dalam tekadnja untuk
hidup sebagai bangsa jang merdeka. Dalam satu diantara buku-buku sedjarah Perang Atjeh (Perang
Belanda) jang terachir, pengarangnja,

Paul Van´t Veer, membuat kesimpulan sebagai berikut:
“Bangsa Belanda dan negeri Belanda tidak pernah menghadapi satu peperangan jang lebih besar
dari pada peperangan dengan Atjeh. Menurut pandjang waktunja, perang ini dapat dinamakan
perang delapan puluh tahun. Menurut djumlah korbannja - lebih seratus ribu orang jang mati
-perang ini ada satu kedjadian militer jang tidak ada bandingnja dalam sedjarah bangsa Belanda.
Untuk negeri dan bangsa Belanda, Perang Atjeh itu lebih dari pada hanja pertikaian militer: selama
satu abad inilah persoalan pokok politik Internasional, politik nasional, dan politik kolonial
Belanda.”
“Atjeh bukanlah Djawa. Sebenarnja sudahlah terang benderang bahwa dalam bagian dunia jang
setjara umum dan jang tidak berketentuan disebut Hindia Belanda („indonesia“) tidak ada satu
keradjaan jang dapat dibandingkan dengan Atjeh. Ini kita tahu sekarang ini. Satu peperangan jang
lamanja lebih setengah abad, seratus ribu orang mati, dan setengah miljar rupiah Belanda abad ke-
19 jang mahal itu, sudah mendjadi bukti dari hal ini. Kita sudah tahu ini sekarang, tetapi kita tidak
tahu itu di tahun 1873. Biarlah kenjataan-kenjatan ini tegak berdiri - djangan sembunjikan - supaja
orang-orang di negeri Belanda, atau lebih-lebih lagi di pulau Djawa, dapat mengetahui manusia jang
bagaimana bangsa Atjeh itu.

Paul Van´t Veer menulis dalam bukunja itu semua kedjadian-kedjadian di Atjeh antara tahun 1873
dan 1942 ketika bangsa Belanda diusir dari Atjeh untuk kali jang terachir. Ia membuat kesimpulan:
“Atjeh adalah jang paling achir ditaklukkan tetapi jang pertama sekali merdeka kembali!” - sebab
sehabis perang dunia jang ke-II , ketika Belanda kembali menduduki tanah djadjahan mereka jang
kini sudah diberi nama baru sebagai “indonesia” mereka tidak berani kembali ke-Atjeh. Sebab itu
adalah sebagai hak bangsa Atjeh untuk merdeka dan berdaulat kembali - seperti dimasa sebelum
Belanda datang menjerangnja. Tetapi hal jang adil dan lumrah ini tidak terdjadi karena kedustaan
dan tipuan bangsa Belanda dan bangsa djawa atas bangsa Atjeh(sumber perkara dan alasan.oleh Teungku Muhammad Hasan Ditiro)
Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah.Sultan Terakhir Kesultanan Atjeh Darussalam

Senin, 04 November 2013

INONG ACEH DIMATA BELANDA

gambar 0.1 cover buku atjeh
Berbicara sejarah aceh yang begitu panjang, tidak akan juga kita melupakan pejuang perempuan aceh yang begitu tangguh berjuang berbarengan dengan suami-suami mereka. dimata mereka terpancar sebuah kebencian yang sangat besar terhadap kaphe Belanda. tidak ada kata menyerah bahkan perempuan-perempuan aceh yang tangguh ini mengutuk suami mereka sendiri jika suami mereka lari dari pertempuran,

‘Wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya dalam keberanian dan tidak gentar mati bahkan merekapun melampui kaum lelaki. Bukan sebagai wanita yang lemah dalam mempertahankan cita-cita dan agama mereka, menerima hak asasi di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka diantara dua serbuan penyergapan.”
(sebuah ungkapan kekaguman HC Zentgraff, seorang kopral marsose veteran Perang Aceh, dalam bukunya ‘De Atjeh’)

gambar 0.2 tjut tjak meutia



kita tidak akan melupakan bagaimana pejuang perempuan aceh, Tcut Meutia,istri dari Teuku Chik di Tunong yang berperang bertahan-tahun di Keureutoe dan syahid pada tahun 1910 dalam usia 40 tahun. bahkan nisannya pun tidak diketahui keberadaannya. inilah pejuang sejati, wanita pemberani dari bumi rencong.



Begitu juga dengan Tjut Tjak Dhien, istri Teuku umur di meulaboh yang bertahun-tahun menghabiskan hidupnya untuk berperang melawan kaphe Belanda bahkan ketika suami nya telah syahid. wanita tangguh ini tetap tegar dalam memimpin pasukan pejuang aceh mempertahankan kedaulatan aceh. Menderita dalam lebatnya hutan belantara aceh hingga rambutnya beruban, mata nya tak lagi tajam menatap, kulitnya telah keriput bagaikan kulit kayu kering, namun semangat juangnya begitu luar biasa bahkan kaphe Belanda tidak berani menatap mata wanita tua ini. 

zentgraaff mengatakan " men kan gissen naar de grootte van het offer dat zij har nationale gedachte bracht " ( siapa yang melihat perjuangan Tjut Tjak Dhien, bisa memperkirakan seberapa besar pengorbanan yang sudah diberikan olehnya untuk pemikiran kebangsaan aceh)

gambar 0.2 tjt tjak dhien
satu lagi contoh pejuang wanita aceh yang begitu tangguh, beliau adalah Tjut Tjak Gambang anak dari Tjut Tjak Dhien dan istri dari Teuku Chik majet Di Tiro yang bersama suami nya berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa aceh. beliau syahid dalam peperangan di gunung Alimon pada tahun 1910. 

penulis Belanda mengatakan 
" saya berpikir tidak ada satu contoh yang sangat menyedihkan hati kita dari pada meninggalnya istri Teungku Tjhik Di tiro pada tahun 1910 yang membuktikan bagaimana wanita aceh berperang. bagaimana mereka tidak takut pada musuh dan memandang hina musuh dan tak akan pernah mau berdamai.

pada tahun 1909, kita (Belanda) mulai memerangi siapapun yang tersisa dari famili di Tiro yang sangat mahsyur dipenggunungan Tangse. Schmidt, panglima Belanda mencari bekas jejaknya dan selalu menunggu seperti anjing menuggu rusa.

pada akhir tahun 1910 mereka hampir tertangkap. Schmidt berhasil memerangi mereka yang masih bertahan. namun Teuku Tjhik majet di Tiro berhasil lolos. sementara istrinya Tjut Tjak Gambang berada dalam tangan kita dengan luka parah. beliau ditemukan setelah pembersihan medan perang. beliau menggunakan celana hitam dan baju hitam, masih sangat muda, kira-kira umur nya 30 tahun.

beliau terlentang dengan perut luka parah akibat tembakan walaupun kondisi sangat mengenaskan,raut wajahnya  terlihat sombong dan berani. tidak ada ketakutan dimatanya meski sekelilingnya dikuasai musuh. beliau menunggu ajalnya dengan tenang. 

Schmidt mendekatinya dan menawarkan air. dengan penuh hormat Schimidt bertnya dalam bahasa aceh, jika diizinkan dia akan membalut lukanya. ketika mendengar tawaran itu, beliau memalingkan wajahnya dan memarahinya " bek kamat kee kaphe ceulaka" (jangan sentuh aku hai kafir celaka )  beliau lebih memilih mati dari pada menerima pertolongan dari musuh yang ditatapnya seperti anjing. H.C. Zentgraaff, ace:63-64