Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sang Wali Nanggroe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sang Wali Nanggroe. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

CUMBOK PENGKHIANAT BANGSA?


Perang yang terjadi pada tahun 1946 hingga 1947 dan berpusat di Pidie ini, timbul karena adanya kesalahan peran dan tafsir dari kaum ulama dan Uleebalang (kaum bangsawan) terhadap proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945. Seperti disebut James T. Siegel, antropolog dari University of California, dalam bukunya The Rope of God.ketika Jepang masuk pada 1942, polarisasi lama mulai menampakkan wujud yang pukul rata: para uleebalang di satu pihak, rakyat bersama ulama di pihak lain. Lalu, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan menajamkan polarisasi itu.
Sang kabar tak cepat sampai, tapi segenap ulama Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)-dipimpin Teungku Daud Beureueh-lalu menyambutnya gegap-gempita, langsung menyatakan sumpah setianya. Namun, kubu uleebalang tak sejelas itu. Ada Teuku Nyak Arief, Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik. Tapi ada Teuku Daud Cumbok yang lebih merindukan kembali Kedaulatan Kerajaan Aceh seperti dahulu kala.Cumbok menolak dan Tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.Pihak uleebalang juga mengangkat T. Daud Cumbok selaku pucuk pimpinan.
pertikaian faham diantara golongan Ulama dan Ulebalang pada awalnya hanya terbatas pada sejumlah Uleubalang dan Ulama2 yang terkemuka;
pun terbatas hanya didaerah Pidie. Akan tetapi fihak Ulama dapat memperbesar jumlah pengikutnya, sehingga pada suatu sa'at fihak ini meliputi sebagian yang terbesar dari rakyat umum dan mengenai seluruh daerah aceh

perjuangan mereka adalah menuju kepada „Pembasmian pengkhianat Agama dan Bangsa". Mereka menyiarkan kabar, bahwa fihak cumbok (fihak Uleubalang) adalah kaki-tangan Belanda yang berusaha menumbangkan Republik;
bahwa fihak cumbok senantiasa berhubungan rapat dengan Belanda di Sabang ataupun dikapal2 Selam yang bersimpang-siur dipantei Aceh. Seterusnya, bahwa fihak cumbok tidak berTuhan, menginjak-injak dan merobek
Quran dan melarang rakyat bersembahyang. Segalanya
ini disebarkan oleh pengikut mereka diantara rakjat bodoh di-kampung2

slogan: „membasmi pengkhianat Agama dan Bangsa", mendapat sambutan yang hangat dari rakjat umum, istimewa kalangan rendahan. Siapa yang mula2
masih sangsi2 dalam memilih kawan, ataupun masih berpendirian
neutral dalam conflict yang tidak menyinggung kedudukannya,
lambat laun memilih fihak Ulama. Benar atau tidaknya tuduhan2 jang ditujukan oleh partai Ulama atas partai uleubalang itu, bagi mereka bukan menjadi soal

tuduhan2 mereka terhadap lawannya terbukti dengan terdapatnya sejumlah uang Belanda serta bendera Belanda didalam simpanan 
cumbok'. Mereka menerangkan bahwa bendera dan uang kedapatan sewaktu mereka memasuki markas Uleubalang di Lam Lo dan melakukan pemeriksaan dirumah Teuku Daud cumbok

tuduhan terhadap Uleubalang, sebagai „pengkhianat Agama dan Bangsa" adalah sekali-kali tidak berdasar atas kenyataan
Seorang, bernama Amir Husin al Mudjahid, berpendapat, bahwa pemerintahan belum sempurna, krn masih banyak„sisa feodal" yang harus disingkirkan
maka dikumpulkannya sejumlah besar orang2 yang „berdarah panas" dalam
suatu organisasi yang dinamakannya „T.P.R." (Tentara Perdjuangan Rakyat). Ia memulai gerakannya dari tempat tinggalnya di Idi. Dari tempat jang tersebut
ia menuju kearah Utara dengan melalui kota2 dipantai Timur Aceh, Lho Sukon, Lho Seumawe, Bireuen, Samalanga, Meuredu, Sigli, dan seterusnya sampai keibu kota keresidenan Aceh, Kotaradja.

Algodjo2 yang ikut serta dalam rombongan, menjalankan peranan yang tertentu. Bukan sedikit djiwa manusia yang tidak bersalah, selain oleh karena ia kebetulan terhitung dalam kaum yang disebut mereka „feodal", menjadi
korban. tdk sedikit pula mereka ditangkap dan kemudian diasingkan disuatu tempat

gerombolan ini memulai melakukan penangkapan; antara lain juga atas beberapa pembesar civil dan militer, sebagai T.Nja' Arif yang pada masa itu pimpinan tentara sebagai General Major dan T. Husin Trumon, Assistent Resident Aceh Besar. jabatan2 yang, sebagai akibat penangkapan2 pegawai
Negeri, jadi lowong, diisi oleh anggota2 golongan mereka sendiri.

gerombolan yang tersebut, setelah diperkuat oleh Pesindo dibawah pimpinan seorang yang bernama Nja' Neh, melanjutkan gerakan ke Aceh Barat, dimana
juga, sebagai di Timur dan Utara, setiap orang yang mereka anggap termasuk pada golongan „feodal" dan oleh karena itu „berbahaya", ditangkap dan kemudian disingkirkan

T. Nja' Arif yang sedjak mudanya, semasa Pemerintah Belanda,terkenal sebagai nasionalis sejati, ditahan dan disingkirkan kesuatu tempat, atas alasan ," berbahaya untuk keselamatan Negara, oleh karena ia berhubungan dengan Belanda
Gerakan Husin al Mudjahid dapat dianggap sebagai lanjutan peristiwa cumbok.fihak markas rakyat Umum dan pemerintah mengeluarkan sebuah maklumat mengenai hal hal yang berkaitan Dengan Persisitwa Cumboktersebut
ANCIEN REGIEM
Ditumbangkan di Aceh
Pada mulanya Markas Besar Rakyat Umum bermaksud akan membendung sedapat dapatnya arus Revolusi Desember itu dalam daerah Kabupaten Pidie saja dan sekali-kali tiada bermaksud akan mengadakan gerakan sapu bersih terhadap Uleebalang-uleebalang seluruh Aceh, walaupun bukti-bukti sudah nyata bahwa hampir semua mereka turut campur
tangan dalam Markas Uleebalang dan gerakannya. Hal turut campurnya hampir
semua Uleebalang, lebih jelas lagi diketahui oleh Markas Besar Rakyat Umum dari pemeriksaan dan pengakuan-pengakuan pengkhianat sendiri yang sudah tertawan.

Walaupun demikian Markas Besar Rakyat Umum masih mengharapkan keinsyafan mereka, moga moga kejadian yang telah terjadi di Kabupaten Pidie akan dapat memberikan pelajaran pada kaum Uleebalang di Kabupaten lain.
Tetapi ternyata anggapan dan harapan-harapan ini salah sekali, sebab Uleebalang uleebalang yang ada di Kabupaten-kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Tengah, dan Aceh Barat dengan diam-diam masih meneruskan gerakan mereka dan pada bulan Februari 1946 Uleebalang-uleebalang di Aceh Utara dengan berpusat di Lho'Seumawe dan di Aceh Timur dengan berpusat di Langsa mulai bertindak melakukan
tindakan-tindakan pembalasan terhadap gerakan kemerdekaan atas nama mengambil bela dari kawan-kawan mereka yang sudah dibasmi Rakyat di Kabupaten Pidie.

Tindakan repressaile dari mereka ini telah menyebabkan terjadinya insiden-insiden di Aceh Utara dan di Aceh Timur. Perbuatan-perbuatan mereka ini telah menyebabkan Rakyat bergerak pula menangkapi hampir seluruh mereka ini di seluruh Aceh. Sedangkan sebagian dari mereka diinternir
ke Takengen dan yang tiada bersalah dibebaskan.

Dengan demikian ancien regiem sudah ditumbangkan seluruhnya dari daerah Aceh dan dibangunkanlah suatu Pemerintahan baru oleh Rakyat, dari Rakyat dan untuk Rakyat.
Bekas daerah kekuasaan Uleebalang atau yang disebut, dalam zaman Belanda
"Landschap" ditukar namanya dengan Negeri dan dilakukan pemilihan Dewan Pemerintahan Negeri yang terdiri dari lima orang (seorang Ketua sebagai Kepala Negeri dan 4 orang Anggota).

Di tiap-tiap bekas Onderafdeeling dahulu, diadakan Komite Nasional
Wilayah dan dipilih seorang Kepala Wilayah, (Wedana). Seterusnya Afdeeling dahulu diubah menjadi Kabupaten dengan Komite Nasional Kabupatennya dan dipilih seorang Bupati.
Uleebalang-uleebalang di Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan dan lain-lain yang masih hidup yang ditangkap oleh Rakyat atau yang sadar atas perubahan masa, terus menyerahkan kembali kekuasaan pemerintahan yang mereka pegang di tiap-tiap Landschapnya kepada Rakyat yang diwakili oleh Komite Nasional di tiap-tiap wilayah.

Mereka berjanji pula akan mengembalikan harta-harta Rakyat yang sudah mereka rampas; demikian juga harta-harta dari Baitul Mal dan harta Negara yang mereka kuasai dengan jalan tidak syah di masa yang sudah-sudah
(Disalin dari buku Revolusi Desember '45 di Aceh, yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Aceh.)
gerakan Husin al Mudjahid atau dalam istilah mereka sendiri, adalah „membasmi sisa-sisa feodal jang masih ada." Dengan penjelesaian gerakan Husin Al Mujahid ini, dapat dikatakan, pemerintahan daerah Aceh seluruhnya berada ditangan mereka, golongan PUSA..pimpinan Teungku Daud Beureueh
pada tanggal 12 Januari 1946, sesuai dengan ultimatum yang diberikan pihak rakyat bersama TKR dan PUSA melakukan serangan umum ke Lam Meulo selaku benteng pertahanan terkuat pihak uleebalang.
Barisan rakyat Pusa baru berhasil memasuki Kota Lam Meulo pada tanggal 13 Januari 1946.

TEuku Daud Cumbok dan staf-stafnya berhasil melarikan diri. Ia baru berhasil ditangkap pada tanggal 16 Januari 1946 di atas Gunung Seulawah Aagam oleh barisan rakyat dari Seulimum pimpinan Tgk. Ahmad Abdullah.
Sementara T. Muda Dalam, uleebalang Bambi dan Unoe yang terlibat dalam pemberontakan tersebut melarikan diri ke rumah Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba untuk memohon perlindungan. Akan tetapi oleh Tgk H. Abdullah Ujong Rimba ia diserahkan kepada rakyat.
Ulama dibawah PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Uleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka,diantara nya adalah;
.Teuku raja Sabi putra ule balang keureuto (yang juga putra satu satu nya pahlawan nasional Cut nyak mutia.)
Teuku Muhammad Daud Ulee balang lam meulo.
Teuku laksamana Umar ulee balang njong
Teuku Pocut Umar Keumangan ule balang keumangan
Teuku Muda Dalam ule balang bambi dan Unoe
Teuku Muhammad Ali ule balang samaindra
Teuku Muhammad Ali ulee balang ie leubeu
Teuku Abdul Hamid ule balang gigieng
Teuku Cut Hasan dari keluarga Ulebalang meuraxa
Teuku Raja Said ule balang Cunda
Teuku banta ahmada dari ulebalang Glumpang payong
Teuku HUsen ule balang simpang Ulim
Teuku Pakeh sulaiman dari ulebalang Pidie,Kale dan laweung
Teuku Muhammad dari keumangan
TEuku Hasan dari keumala(adik ipar teuku muhammad panglima polem yang juga anak dari teuku Daaud cumbok.
TEuku chik meureudu dari ulebalang meureudu
Teuku Raja iskandar dari manggeng
Teuku M.Nur dari ule balang Kr.mane (putra teuku lotan)
Teuku Mahmud adik dari teuku Daud Cumbok.

Teuku Daud Cumbok sendiri memilih cara maut yang sangat mengangum kan.Ia berbaring di liang lahat yang sdh disediakan,mengucap dua kalimah syahdat dan terakhir memberi perintah daengan satu kata, "Tembak".(HT.jalan panjang menuju damai murizal hamzah)..
Sang patriot yang menolak mengakui kemardekaan indonesia ini merenggang nya bersama putra dan adik nya, mareka di kuburkan dalam satu liang.berakhir pula kekuasaan ulee balang yg sdh turun temurun dan digantikan oleh kaum bersorban dengan tertangkap nya Dud Cumbok dan pengikut nya pada tanggal 6 january 1946.pada tanggal 13 january 1946 kota lam meulo di ganti nama dengan nama Kota bakti oleh TM Amin yang memimpin penumpasan ulee balang yang mareka nama kan pengkhianat bangsa indonesia.
Harta Ule balang disita untuk modal perjuang menyokong indonesia,untuk selanjut nya diserahkan kepada majelis penimbang pimpinan Tengku Hasballah Seulimum.Teuku Daud Cumbok bisa di katakan Beliau adalah tokoh pemberontak pertama yang tdk mengingin kanAceh bergabung dengan indonesia mardeka.
ketika tokoh2 lain nya sedang eforia dan menjerumuskan diri ke dalam bingkai Ibu pertiwi.pilihan kaum Pusa memilih berdiri bersama indonesia penyesalan bagi mareka,tak lama setelah kekuasaan mareka di bonsai oleh indonesia,mareka pun menyatakan kekecewaannya dengan mengangkat senjata.Daud Cumbok seorang Nasionalis Aceh sejati sebelum Hasan tiro membangkitkan nasionalisme Aceh melalui Gerakan kemerdekaan yang beliau usung.

Minggu, 15 Maret 2015

SUSUNAN MAJELIS MAHKAMAH RAKYAT DIMASA RATU TAJUL ALAM

.
Pada tahun 1059 H. atau 1649 M. • Ratu Tadjul Alam Safiuddin
Sjah mengadakan perubahan susunan anggota badan legislatif atau
Madjelis Mahkamah Rakjat jang terdiri dari 73 orang tetapi jg didalam
nja ditempatkan 16 orang wanita turut duduk dalam madjelis itu untuk
turut sama2 dengan kaum pria mengatur urusan negara guna mempertimbangkan kebidjaksanaan Sulthanah
Adapun susunan Badan Perwakilan Rakjat Parlemen Atjeh adalah;
1. Sjahil
2. Budjang Djumat Turki)
3. Ahmad Bungsu
4. Ahmad Jatim
5. Abdul Rasjid
6. Faimis Said
7. Iskandar
8. Ahmad Dewan )
9. Majur Thalib (orang Turki)
10. Si Njak Bunga (wanita)
11. Si Halifah (wanita)
12. Ahdal
13. Abdul
14. Abdul Madjid
15. Si Sanah (wanita)
16. Gudjah Hamid
17. Isja
18. Hiajat
19. Si Njak Bunga (wanita)
20. Maimunah (wanita)
21. Siti Tjahja (wanita)
22. Mahkiah (wanita)
23. Buket
24. Manan
25. Ahmad Djalii
26. Ben Muhammad
27. Si Njak Apakat
28. Gudjah Nazir (orang Turki)
29. Si Njak Puan (wanita)
30. Abdul Hamfd
31. Malik Saleh Samir
32. Chatib Muadzam
33. Imam Muadzam
34. Abdul Rahman
35. Badaja
36. Budjang Aramsjah
37. Nadisah (wanita)
58.Majur Muhammad (orang turki)
39. Dapa Ahmad Sjah.
40. Penghulu Mu'aüm
41. Seri Dewa
42. Sjahad
43. Manjak
44. Njakti Tjaja (wanita)
45. Ahmad Ratib
46. Minhan
47. Si Habibah (wanita)
48. Mustafa.
49. Si Sjadin
50. Si Radjuna
51. Si Aman Pana
52. Si Njakrih
53.zamzami
54.gudjah ruhsia(orang turki)
55.raja megat
56.abu gaseh
57. Badal Mustup
58. Umi Puan (wanita)
59. Siti Awan (wanita)
60. Umi Njak Angka (wanita)
61. Si Aman
62. Si Njak Tjampli
63. Abdul Hakim
64. Si Mawar (wanita)
65. Si Manis (wanita)
66. Abdul Madjid
67. Ibrahim Rasia
68. Abdullah.
69. Umar
70.Abdul Rahim.
71. Mahjudin
72. Harun.
73.Abdul muthalib.
diantara 73 anggota dewan perwakilan itu 9 orang memegang
fungsi wazir atau menteri duduk dalam kabinet Sulthanah jaitu:
JANG PERTAMA : 1. Si Njak Tjampli, 2. Ibrahim Rasia, 3. Abdullah,
ketiga mereka itu masuk bahagian (seksi) Paduka Tuan: JANG KEDUA-
1. Umar, 2. Abdul Rahim, 3. Mahjudin, ketiga mereka ini masuk bahagian
Sri Rama; JANG KETIGA: 1. Harun, 2. Abdul Muthalib, 3. Abdul majid.
ketiga mereka ini fungsi martabat Wazir/Menteri, sedang jang
lain 64 orang sebagai anggota dewan perwakilan Rakjat,
nama tersebut dipetik dari naskah Qanun Al Asji Darussalam jang tersimpan dalam
chazanah kitab2 di dajah Marhum Tengku tanoh Abeë.(dikutip dari buku srikandi atjeh zainuddin)

TEUNGKU AMIR HUSEN AL MUJAHED,KETUA PENGURUS BRSAR PEMUDA PUSA

Teungku Amir Husin Al-Mujahid, selaku Ketua Pengurus
Besar Pemuda PUSA, datang ke Kutaraja dari Idi,
Aceh Timur, tidak lama sesudah proklamasi kemerdekaan.
Kedatangannya bertujuan untuk memimpin rapat Pemuda
PUSA seluruh Aceh, dalam rangka menyambut kemer-dekaan
Republik Indonesia. Rapat tersebut tidak dapat berjalan
seperti yang telah direncanakan. Ternyata jumlah undangan
yang hadir sangat jauh dari yang diharapkan.

Teungku Amir Husin Al-Mujahid dikenal sebagai
seorang yang militan dan ambisius, tetapi kontroversial. Ia
lahir di Idi, pendidikan terakhirnya pada suatu maktab di
Tanjung Pura, sebuah perguruan yang banyak menghasilkan
ahli agama yang kemudian menjadi ulama dan mubalig terkenal,
tapi juga menghasilkan ahli agama yang kemudian
menjadi tokoh komunis seperti Ali Hanafiah, tokoh PKI
Kalimantan Selatan; dan Samakidin, tokoh PKI di Kutaraja.
Amir Husin Al-Mujahid punya pergaulan yang luas.
Selain dengan para ulama, terutama ulama PUSA, ia juga
bergaul rapat dengan tokoh komunis seperti Nathar Zainuddin,
Xarim M . S, dan Sarwono. Pada masa pendudukan Jepang, Teungku Amir Husin Al-Mujahid membantu Ke -pala Jawatan Rahasia Jepang di daerah Langsa.

Dalam "Revolusi Sosial" ia mengambil alih pangkat
dan kedudukan Teuku Nyak Arief selaku anggota Staf
Umum Komandemen Sumatera. Tapi kemudian, setelah ia
memangku jabatan itu, ia tidak pernah tahu harus berbuat
apa selain menyandang pangkat Jenderal Mayor yang direbutnya
itu. Ia mengaku bahwa gerakannya untuk meng-hapuskan
feodal,

Tetapi di Kuala Simpang ia memperebutkan
seorang puteri kaum feodal dengan Nurdin Sufi, orang kepercayaannya
yang terdekat. Tentu saja dalam perebutan itu
Nurdin Sufi tersikut dan harus mengalah pada komandannya,
sang Jenderal Mayor Tituler Husin Al-Mujahid.
Amir Husin Al-Mujahid merasa telah mencapai
puncak kejayaan dengan pangkat dan kedudukan yang
tinggi dalam zaman revolusi fisik itu. Namun ia tidak punya
peran apa-apa lagi sesudah itu, kecuali ikut memperjuangkan
status tambang minyak Pangkalan Brandan serta ikutikutan
pula berbicara dalam mempertahankan provinsi
Aceh yang dihapuskan pemerintah pusat pada waktu itu

Ketika Teungku Daud Beureueh berontak dan mendirikan
Darul Islam di Aceh, Teungku Amir Husin Al-Mu -
jahid ditunjuk sebagai Ketua Majelis Syura (semacam
DPR) negara bagian dari NII (Negara Islam Indonesia).
Tetapi ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilancarkan
oleh Gani Usman dan Hasan Saleh terhadap
Teungku Muhammad Daud Beureueh selaku Wali Negara
Darul Islam, maka Teungku Amir Husin Al-Mujahid pun
segera saja meninggalkan Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Bersama A . Gani Usman serta Hasan Saleh.mareka membentuk Dewan Revolusi.

Semangat yang ada dalam diri para Pemuda PUS A
dimanfaatkan oleh Tengku Amir Husin Al-Mujahid. Mereka
membentuk Tentara Perjuangan Rakyat (TPR), di bawah
pimpinan Amir Husin Al-Mujahid. TPR lahir di Idi dan
bertujuan untuk memperbaiki Pemerintahan Daerah Aceh
yang masih labil, dan menurut mereka tidak dapat dipercaya
meneruskan revolusi nasional seperti yang dikehendaki
oleh rakyat banyak. Mereka menganggap dalam aparat
pemerintahan di Aceh masih terdapat anasir-anasir feodal
dan yang pro feodal, yang dikhawatirkan merupakan hambatan
bagi jalannya revolusi.

D i samping itu TPR juga bermaksud
menghapuskan sistem pemerintah feodal yang berjalan
berabad-abad di tanah Aceh dengan jalan menurunkan
seluruh Uleebalang yang masih ada, walaupun mereka tidak
segolongan dengan Uleebalang Cumbok(sumber biografi mayjen Syamaun Gaharu)

Kamis, 18 Desember 2014

INISIATOR PEMBENTUK LEMBAGA WALI NANGGRO


Sulthan Muhammad Daud Syah saat itu masih berusia 11 tahun diangkat menjadi raja. Karena sulthan masih muda maka dibentuklah lembaga wali nanggroë.
Pembentukan itu dilakukan pada 25 Januari 1874 melalui musyawarah Majelis Tuha peut yang terdiri dari, Tuwanku Muhammad Raja Keumala, Tuwanku Banta Hasjem, Teuku Panglima Polem Raja Kuala dan Teungku Tjik Di Tanph Abee Syech Abdul Wahab. Keputusan musyawarah tuha peut itu menarik semua kekuasaan ke hadapan tuha peut.
Tiga hari kemudian pada 28 Januari 1874, Ketua Majelis Tuha Peut Kerajaan Aceh Tuanku Muhammad Raja Keumala mengambil keputusan untuk mempersatukan rakyat Aceh diangkatlah Al Malik Al Mukarrah Tfk Tjik Di Tiro Muhammad Saman Bin Abdullah sebagai Wali Nanggroë Aceh yang pertama.
Di tempat upacara penobatan itu pula, Teuku Umar diangkat sebagai amirulbahri atau panglima laut untuk wilayah Aceh Barat dan Tuanku Mahmud Bangta Kecil, adik Tuanku Hasyim Bangta Muda, sebagai Wakil Sultan.adifa Pada kesempatan itu, Sultan berseru kepada para uleebalang agar meneruskan dan menggiatkan pengumpulan harta benda untuk keperluan perang sabil.Teungku Chik Di Tiro yang dipercaya oleh Sultan Muhammad Daud Syah untuk memimpin perlawanan
Pada tanggal 6 September 1903, bersama Tuanku Raja Keumala dan 150 orang pengikutnya, Teuku Panglima Polem berdamai dengan Belanda. Pada tanggal 6 September 1903 di Lhokseumawe, nota perdamaian ditanda tangani dihadapan Kapten Colijn.ketika TR keumala dan panglima polem menyerah,kepemimpinan kesultanan aceh dipegang oleh wali negera secara turun temurun dari keluarga tgk chik Ditiro sampai kepada wali negara terakhir TGk chik maat ditiro(dari berbagai sumber)foto TR keumala)

Jumat, 05 Desember 2014

4 DESEMBER LANJUTAN PERJUANG PERANG KEMERDEKAAN ACEH


4 Desember,Itu lah hari setelah Belanda menembak dan membunuh kepala negara Aceh sumatra yang terakhir,tgk Chik maat ditiro dan sebuah pertempuran sengit di alue bhot.Tangse 3 desember 1911.karena itulah belanda menganggap 4 desember 1911 sebagai hari berakhirnya kedaulatan negara aceh dan sebagai hari kemenangan terakhir Belanda atas kerajaan aceh sumatra.sebagaimana yg ditgas kan oleh Kolonel J schimidt,Komandan perang belanda dalam pertempuran alue bhot.
akan tetapi semua ini tdk benar,,,negara aceh tak pernah menyerah kepada Belanda baik secara de jure atau de facto.pemerintah aceh tdk pernah menanda tangani pasal pasal persetujuan penyerahan atau perdamain dengan Belanda.perjuangan tetapberlanjut,bendera aceh tetap berkibar setengah tiang untuk menghormati kenangan kepahlawanan Kepala negara aceh yang masih muda. TGK CHIK MAAT DITIRO yang gugur dalam mempertahan kan tanah airnya,pada umur yang masih sangat muda,16 tahun.
setelah TGK chik mayeddin ditiro dan istrinya Pocut putro Gambang wafat dan TGK Chik dibuket ditiro syahid di tangse pada tahun1910,dan setelah TGK maat ditiro syahid pada tgl 3 desember 1911.perlawanan rakyat aceh terhadap belanda berlanjut tanpa komando.
Sebelum sultan menyerah pada tahun 1903.sultan muhammad daudsyah telah mendelegasikan kepemimpinan negara aceh kepada Dewan konsersium kerajaan yang terdiri dari;
1. teuku panglima polim sri muda perkasa Muhammad daud.
2.Teuku raja Keumala.
3.Teungku chik Ditiro mahyeddin dan teungku dibuket(tgk muhammad ali zainal abidin sebagai mudabbirul mulki(kepala negara).adifa

Kemudian jabatan mudabbirul mulki ini jatuh ketangan teungku Chik maat ditiro,ketika panglima polem dan raja keumala menyerah pada tahun 1903.kepemimpinan secara praktis jatuh kepada Tgk mahyeddin dan teungku dibuket,dan ketika ulama ini syahid,kepemimpinan di ambil alih oleh Tgk Maat ditiro.pemuda berusia 16 tahun keturunan dari TGK chik ditiro.SELAMAT MILAD PERJUANGAN KEMERDEKAAN YG KE 38.hari ini bertepatan dengan hari wafat nya pahlawan Tgk maat ditiro. alfatihah untuk beliau.
'uronyo geutanyo angkatan aceh mardeka yang po tanggong jaweub,peuselamat pusaka iskandar mudanyo.uronyo,jeumnyo.gatakeuh yang po nibak ateuh pusaka nibak sultan iskandar muda,beutatupu yum,beutapham makna nibak pusaka rajanyo,(pidato HT pada hari peringatan 350 thn wafat nya iskandar muda)

Senin, 01 September 2014

SERANGAN BELANDA JANG KEDUA DAN KEKALAHANNJA JANG TERAKHIR

Sebagaimana jang terdjadi, sesudah kekalahannja dalam serangan pertama itu, Belanda melakukan
serangan jang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam, dengan tidak pernah mentjapai
kemenangan jang sesunguhnja terhadap bangsa Atjeh jang mempertahankan dirinja itu. Perang
Belanda (sebagai bangsa Atjeh melihatnja) atau Perang Atjeh (sebagai bangsa Belanda melihatnja)
berdjalan hampir satu abad, sehingga oleh madjallah Amerika, HARPER´S MAGAZINE, sudah
dinamakan sebagai perang “SERATUS TAHUN MASA INI”.

Achirnja bangsa Belanda sudah dikalahkan oleh bangsa Atjeh dalam pertempuran-pertempuran jang terdjadi di seluruh Atjeh pada bulan Mart, 1942, sebelum Djepang masuk ke Atjeh dalam perang Dunia ke-II demikianlah, Belanda tidak pernah mentjapai tudjuan perangnja di Atjeh: Negara Atjeh tidak pernah menandatangani surat menjerah kepada Belanda, dan perlawanan tidak pernah dihentikan sampai achirnja Belanda diusir dari bumi Atjeh dengan segala kehinaan.

Tetapi diantara dua tanggal itu, njakni antar tanggal 26 Mart, 1873 (ketika Belanda menjatakan
perang kepada keradjaan Atjeh jang merdeka dan berdaulat) dan bulan Mart 1942 (ketika semua
Belanda dan kaki-tangan-nja di usir dari Atjeh) Beland apernah membuat propaganda bohong jang
mengatakan bahwa mereka sudah dapat “menaklukan” Negara Atjeh dan bahwa mereka sudah sah
menduduki Atjeh, jaitu setjara “legal”. Propaganda Belanda ini adalah palsu dan bohong sama
sekali. Belanda tidak pernah dapat berbuat sebagai apa jang di propagandakanja itu Sebagaimana
sudah di ketahui, serangan Belanda jang pertama, dibawah pimpinan djenderal Kohler, sudah
dihantjur-leburkan oleh tentera Atjeh dan Kohler sendiri di hukum mati di Kuta Rdja. Serangan
Belanda jang kedua dibawah pimpinan djenderal Van Swieten, jang dimulai pada tanggal 25
Desember, 1873, dengan kekuatan jang djauh lebih besar lagi dari serangan pertama, djuga tidak
mendapat kemenangan, sebagai mana jang sudah diakui sendiri oleh Van Swieten dalam buku-nja.

Dalam bulan Djanuari, 1874, segera sesudah ia mendarat dipantai Atjeh,Van Swieten
menjatakan kepada dunia bahwa ia sudah mengambil (annexed) keradjaan Atjeh dan mamasukannja
kedalam Hindia Belanda (alias Indonesia). Ini telah dilakukannja untuk menjenangkan hati bangsa
Belanda jang telah begitu malu dimata dunia atas kekalahan-kekalahan jang mereka terima dari
tangan bangsa Atjeh. Tetapi karena Negara Atjeh dan Tentara Atjeh jang sangat kuat itu masih
berdiri dan mengalahkan tentara Belanda dalam setiap medan perang jang terdjadi sesudah nja,
maka propaganda bohong dari Van Swieten itu tidak dapat disembunjikan kebohongannja dimata
dunia, sehingga pernjatan Van Swieten itu mendjadi masjhur dengan nama “Van Swieten Illegal
Annexation of Acheh”.

Kemudian daripada itu, pada tahun 1879, Van Swieten sendiri mengaku bahwa ia sebenarnja tidak pernah dapat menaklukkan Atjeh, dan ia meminta kepada bangsa nja supaja ia djangan lagi dipanggil dengan nama djulukan “Penakluk Atjeh”sebab katanja ia malu - karena ia tidak pernah dapat menaklukan bangsa Atjeh. Berdasarkan atas pengalamannja sebagai panglima tertinggi Angkatan perang Belanda di Atjeh,

Van Swieten mengatakan bahwa ia sudah jakin bangsa Atjeh itu tidak mungkin dapat dikalahkan dalam medan perang. Sekarang ia mengatakan perang Atjeh itu satu satu kesalahan dari pemerintah Belanda. Belanda wadjib menarik diri dari Atjeh dan mengakui Atjeh sebagai Negara Merdeka kembali. Perang Atjeh bukan sadja menghancurkan tentera Belanda di Atjeh, tetapi akan menghantjurkan kekuasan Belanda di “Indonesia”. Van Swieten begitu jakin pada pendiriannja itu hingga ia menjusun satu gerakan politik di negeri Belanda untuk mempengaruhi pemerintahan Belanda supaja mengikuti kebidjaksanaan politik jang diandjurkannja.

Kata Van Swieten: “
une nation ne meurt pas de reconnaitre une faute, mais d’y persister” - satu bangsa tidak akan mati karena menginsafi satu.kesalahan jang sudah dibuatnja, tetapi akan mati djika bangsa itu terus menerus melakukan kesalahan itu! Seorang djenderal Belanda jang sudah menjatakan bahwa ia sudah “megambil” dan sudah “menaklukan” dan sudah “memasukkan” Negara Atjeh Merdeka kedalam “indonesia”-nja,kini menuntut supaja Atjeh diakui sebagai Negara Merdeka kembali! Pemerintah Belanda tidak mengikuti nasihatnja dan perang berdjalan terus.

Tetapi lagi-lagi, pada tahun 1881, pemerintah Belanda menjatakan bahwa Atjeh sudah dapat
ditaklukan dan bahwa perang Atjeh sudah selesai dengan kemenangan bagi pihak Belanda. “Ini
adalah angan-angan jang bukan-bukan, jang tidak berdasarkan kenjataan, jang dibikin-bikin oleh
kaum pendjadjah,” tulis Professor M.C. Ricklefs. Seterusnja ia memberi komentar sebagai berikut :
„Perang Atjeh adlah suatu peperangan jang lama dan pahit sekali. Ketika tentera Belanda madju
sambil mendjatuhkan bom dan membakar kampung- kampung, penduduk lari ke gunung-gunung
tetapi tetap meneruskan perlawanan mereka ….Perlawanan dipimpim oleh ulama-ulama dan jang
paling masjur adalah Tengku Tjik di Tiro (1836-91),dan perlawanan mendjadi perang sutji antara
umat Islam dan kafir. Achirnja Belanda mendjadi sadar bahwa mereka tidak menang apa-apa, dan
tidak menguasai sedjengkal tanah dari tangsi-tangsi mereka. Biaja peperangan ini besar sehingga
pada tahun 1884-5 Belanda terpaksa menarik mundur tenteranja ke benteng-benteng, dan dengan
demikian maka negeri Atjeh kembali ke dalam tangan bangsa Atjeh sendiri.”

Surat kabar London MORNING POST, menulis dalam editorialnja pada hari 2 Juli 1874 sebagai
berikut:
„Sudah mendjadi satu kenjataan bahwa bangsa Atjeh itu bukanlah satu bangsa jang mudah
dikalahkan orang. Mereka sudah memperlihatkan kekuatan dan kesangupan jang hampir-hampir
tidak ada tjontohnja dalam melawan dan menentang si pendjadjah negeri mereka. Laporan jang
terachir, jang kami terima dari suber-sumber jang di pertjajai, memperlihatkan betapa besar
kekuatan dan bagaimana keras tekad mereka untuk menerus peperangan: mereka muntjul kembali di
tempat-tempat dimana tadinja mereka sudah dikalahkan dan dan ditempat-tempat jang sama sekali
tidak di sangka-sangka oleh Belanda….

 Kabarnja kenjataan-kenjataan ini sudah begitu besar
mempengaruhi dan mengobah pendapat djenderal Van Swieten mengenai semangat perang bangsa
Atjeh. Satu bangsa jang sanggup berperang dengan semangat jang sematjam ini tidak akan segera
menjerah, dan kini sudah terang bahwa Belanda sudah salah terka dengan pernjataan-pernjataannja
jang mengatakan peperangan akan segera berachir.... Keberanian bangsa Atjeh memaksa kita
mengankat tangan, memberi hormat: dan ada sesuatu dalam semangat bangsa jang baik ini jang
menjebabkan mereka tidak mau merendahkan diri kepada sipendjadjah dan musuh-musuh mereka.
Dengan penuh kesabaran orang Atjeh memperbaiki kembali benteng-benteng mereka jang sudah
rusak, atau mendirikan jang baru ditempat benteng lama jang sudah roboh, dan dari sana membalas
tembakan-tembakan Belanda walaupun tidak kena, tetapi mesti ada balasan! Oleh karena itu apakah
perlu diherankan bahwa “kemenangan” Belanda itu begitu tidak menjakinkan? Ketika sedjarah
perang Belanda dengan Atjeh ini ditulis dan sibukukan, kita pikir, hal itu tidak akan menambah
kebesaran bangsa Belanda.”

Hal ini sebenarnja sudah kedjadian. Sampai sekarang sudah lebih 500 buku sedjarah ditulis dalam
bahasa Belanda mengenai Perang Belanda dengan Atjeh itu dan sungguhlah bangsa Belanda tidak
keluar dari halaman-halaman sedjarah itu lebih baik dari sudut moral dan militer. Sebaliknja bangsa
Atjeh-lah jang ternjata lebih besar dan lebih baik dari sudut moral dan militer, dalam tekadnja untuk
hidup sebagai bangsa jang merdeka. Dalam satu diantara buku-buku sedjarah Perang Atjeh (Perang
Belanda) jang terachir, pengarangnja,

Paul Van´t Veer, membuat kesimpulan sebagai berikut:
“Bangsa Belanda dan negeri Belanda tidak pernah menghadapi satu peperangan jang lebih besar
dari pada peperangan dengan Atjeh. Menurut pandjang waktunja, perang ini dapat dinamakan
perang delapan puluh tahun. Menurut djumlah korbannja - lebih seratus ribu orang jang mati
-perang ini ada satu kedjadian militer jang tidak ada bandingnja dalam sedjarah bangsa Belanda.
Untuk negeri dan bangsa Belanda, Perang Atjeh itu lebih dari pada hanja pertikaian militer: selama
satu abad inilah persoalan pokok politik Internasional, politik nasional, dan politik kolonial
Belanda.”
“Atjeh bukanlah Djawa. Sebenarnja sudahlah terang benderang bahwa dalam bagian dunia jang
setjara umum dan jang tidak berketentuan disebut Hindia Belanda („indonesia“) tidak ada satu
keradjaan jang dapat dibandingkan dengan Atjeh. Ini kita tahu sekarang ini. Satu peperangan jang
lamanja lebih setengah abad, seratus ribu orang mati, dan setengah miljar rupiah Belanda abad ke-
19 jang mahal itu, sudah mendjadi bukti dari hal ini. Kita sudah tahu ini sekarang, tetapi kita tidak
tahu itu di tahun 1873. Biarlah kenjataan-kenjatan ini tegak berdiri - djangan sembunjikan - supaja
orang-orang di negeri Belanda, atau lebih-lebih lagi di pulau Djawa, dapat mengetahui manusia jang
bagaimana bangsa Atjeh itu.

Paul Van´t Veer menulis dalam bukunja itu semua kedjadian-kedjadian di Atjeh antara tahun 1873
dan 1942 ketika bangsa Belanda diusir dari Atjeh untuk kali jang terachir. Ia membuat kesimpulan:
“Atjeh adalah jang paling achir ditaklukkan tetapi jang pertama sekali merdeka kembali!” - sebab
sehabis perang dunia jang ke-II , ketika Belanda kembali menduduki tanah djadjahan mereka jang
kini sudah diberi nama baru sebagai “indonesia” mereka tidak berani kembali ke-Atjeh. Sebab itu
adalah sebagai hak bangsa Atjeh untuk merdeka dan berdaulat kembali - seperti dimasa sebelum
Belanda datang menjerangnja. Tetapi hal jang adil dan lumrah ini tidak terdjadi karena kedustaan
dan tipuan bangsa Belanda dan bangsa djawa atas bangsa Atjeh(sumber perkara dan alasan.oleh Teungku Muhammad Hasan Ditiro)
Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah.Sultan Terakhir Kesultanan Atjeh Darussalam

Jumat, 15 Agustus 2014

TERHENTINYA LANGKAH SANG MANGKUBUMI



Habib Abdurrahman Azzahir,pernah menjabat sebagai mangkubumi merangkap menteri luar negeri kesultanan Aceh menjelang belanda memerangi aceh beliau diutuskan oleh sultan untuk meminta bantuan kepada khalifah Turki.
sekembali dari Turkye pada tahun 1876 langsung memimpin perlawanan kepada belanda bersama Teungku chi ditiro dan berkedudukan di montasik Aceh rayeuk.disebab oleh perpecayan yg terjadi ditubuh pemerintahan kesultanan aceh dan usuha usaha menyudutkan diri nya setelah kekalah pasukan nya dalam perang besar di kamp seuneulop membawa akibat yg buruk bagi pribadi Habib
pada tanggal 13 oktober 1878 habib berdamai dengan belanda.dan akhir nya habib berangkat ke mekkah dan menetap disana dengan tunjangan 10.000 gulden pertahun dari pemerintah belanda.berakhir pula lah sepak terjang sang habib diaceh,dan sampai berakhir perang aceh,beliau dikenang sebagai habib yg berkhianat seperti hal nya panglima tibang serta teuku nek meuraxa.dan terekam sampai sekarang dalam fikiran orang aceh.adifa,

Selasa, 05 November 2013

Wali Naggroe Tengku Tjhik Di Tiro Muhammad Saman




Tengku Tjhik Di Tiro Muhammad Saman
Riwayat Kematian Teungku Tjik Di Tiro yang terakhir menjadi sebuah bahan roman sejarah yang tertanam dalam riwayat perang Aceh sebagai sejarah kepahlawanan yang snagat agung, sangat berani dan sangat kaya sehingga taka da selain itu yang bisa memberi kebesaran untuk suatu bangsa
[W.A Goudoever dan H.C.Zentgraaf, Sumantraantjes :167]

Pada tanggal 9 desember 1873, sebanyak 8.000 serdadu Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Swieten dan Jenderal Van Spijck, menyatakan pernag kembali dengan aceh.
Pada tanggal 6 januari 1874, belanda masuk ke pante pirak, bagian barat kutaraja(banda aceh) maka nyatalah belanda dalam satu bulan berperang hanya sanggup maju 4 kilometer saja semntara perang berlangsung siang dan malam.
Pada tanggal 12 januari 1874, Belanda masuk ke Kuta gunongan hanya mampu bergerak maju kira-kira 750 meter setelah sepekan berperang. Jarak Kuta Gunongan dengan istana hanya 100 meter lagi. Walau demikian serdadu Belanda tidak sanggung bergerak lagi.
Setelah berperang 12 hari 12 malam, barulah belanda berhasil masuk ke istana, itupun terjadi karena keputusan  Sultan Mahmud sjah  untuk pergi meninggalkan istana sebab lingkungan istana terserang wabah kolera karena banyaknya mayat di setiap sudut kuta.
Ketika Van Swieten masuk ke kutaraja, kondisi kutaraja sudah dikosongkan oleh sultan aceh. Hamper sama situasinya ketika Napoleon Bonaparte masuk ke kota Moskow pada tahun 1812, saat itu kota Moskow sudah dikosongkan. Napoleon marah besar karena tidak ada satu orangpun dari pemerintah Rusia yang bias menandatangani surat pernyataan menyerah.
Sultan Mahmud Sjah  memahami betul terhadap undang-undang international yang berlaku saat itu bahwa suatu wilayah tidak bisa dikatakan berhasil ditaklukkan tanpa adanya tandatangan pernyataan menyerah kepada musuh. Oleh karena itu sang sultan menolak menandatangani surat menyerah dan lebih memilih meninggalkan istana untuk mengatur ulang srategi perang.
Ketika Sultan Mahmud Sjah wafat pada tanggal 28 januari 1874 tanpa meninggalkan keturunan. Maka kekuasaan kerajaan Aceh dpegang oleh Majelis Negara Aceh yang terdiri dari Tuanku Hasyem, Teungku Panglima Polem Muda Kuala dan Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abee.
Pada tahun 1874 setahun setelah wafatnya sultan, Majelis Negara Aceh memilih Tuanku Muhammad Daud, salah seorang family dari sultan yang masih kanak kanak  sebagai sultan Aceh dibawah  bimbingan Tuanku Hasyem.
Ketika perang semakin dahsyat, dalam keadaan terjepit maka kekuasaan kerjaan diamanahkan kepada panglima perang Aceh Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman sebagai wali nanggroe.
Dibawah pimpinan Wali Nanggroe sekaligus panglima perang  Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman keadaan berubah signifikan. Tentara Aceh yang telah selesai berperang ditata ulang sehingga menjadi lebih kuat dengan srategi perang yang lebih matang sehingga menjadi lebih kuat. Dalam keadaan ini bukan lagi Belanda yang meminta Aceh menyerah tetapi Aceh yang menyatakan perang Kembali kepada Belanda
Pada tahun 1884 belanda menyadari posisinya kian terjepit setelah melwati perang yang melelahkan melawan tentara Aceh pimpinan Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman. Belanda mulai berpikir untuk menyelamatkan diri mereka dan bertahan tanpa harus lari ke perairan seperti 11 tahun lalau saat mereka dikalahkan tentara aceh. Dengan maksud memprtahankan nama besar belanda sebagai pasukan yang kuat dimata dunia, maka semua pasukan belanda di Aceh memilih bertahan dalam suatu tenpat di Kuta Raja. Tempat tersebut diberi nama dalam bahsa Belanda dengan Geconcentreerde
Linie
atau Kuta meusapat.
Sejak tahun 1884-1896 atau selama 12 tahun berturut turut Belanda tidak berani keluar dari Kuta Meusapat untuk menghindarin Tentara Aceh.
Penulis Belanda bercerita :
“Hij vormde een vast leger….Hij liet onze geheele linie om-ringen door een kring van kleine zooveelmogelijk aan ons oog onttrokken bentengz, zoodat het er veel van had. Of hij het was, die ons met kracht van wapenen ingesloten ha “ J.Kreemer, Aceh ;27
Artinya  : Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman sudah berhasil mendirikan sebuah pasukan yang gagah dan berani. Beliau memerintahkan untuk membangun benteng benteng kecil disekeliling benteng kami. Dan jika memungkinkan benteng itu didirikan didapan mata kita, sehingga beliau mengurung kita dengan kekuatan senjata.
Dalam surat menyurat  Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman dengan pemerintah Belanda pada September 1885. Aceh memberi peluang kepada Belanda agar tidak malu didepan dunia, maka belanda diizinan berdagang di Aceh dan mengakui kedaulatan Aceh. Namun  pada tanggal 15 agustus 1888 kabinet Belanda di Den Haag menolak tawaran yang diberikan Aceh.
Maka sesudah itu tentara Aceh benar-benar membersihkan serdadu Belanda dari Kuta Meusapat. Tentarab Aceh menyerang Belanda siang dan malam. Dan ketika terlihat tanda Belanda akan kembali dikalahkan oleh tentara Aceh.
“Aan den vijand waren alle voordeelen van het initiatief in de hoogste mate verzekerd, thans was hij hefc, die offensief kon optreden,terwijl wij one tot lijdelijke afweer moisten bapalen’
Artinya ;
Semua keuntungan yang baik dalam situasi ini dimiliki oleh musuh ( Aceh). Sekarang mereka sudah menyatakan perang kembali kepada kita (Belanda) seperti yang mereka mau, akan tetapi kita hanya bias bertahan dalam satu tempat. J.Kreemer. aceh ;27

[sumber : Aceh Dimata Dunia. Hasan Tiro]