Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.
Tampilkan postingan dengan label Kiriman Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiriman Sahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2015

SURAT PADUKA SRI SULTAN MUHAMMAD DAUDSYAH KEPADA KHALIFAH TURKYE

Membaca surat ini sepintas lalu, maka kesan yang pertama sekali terbetik dalam benak: surat ini berisi keluhan. Apalagi di dalamnya, secara jelas, penulis surat menyatakan ia mengadukan perihal kesulitan dan kepedihan yang sedang dialami oleh diri dan bangsanya. Boleh jadi, karena itu, ada orang yang akan menganggap penulisnya adalah seorang yang berkepribadian lemah, tidak tegar, bukan pahlawan dan berbagai prasangka lain semisalnya. Namun apakah orang yang membuat penilaian demikian telah benar-benar membaca surat ini dan memahaminya? Saya menyangsikan hal itu, malah yakin ia belum benar-benar membacanya.
Sejatinya, penulis surat adalah seorang yang sangat tegar, kuat dan pahlawan dalam makna yang sesungguhnya. Bahkan lebih dari itu, ia adalah seorang yang amat setia. Setia kepada Agamanya, kepada umatnya, dan kepada rakyat bangsanya. Suatu sikap yang terus ia buktikan sampai nafas terakhirnya ia hembuskan di pembuangan. Dan tentu saja perayaan 17 Agustus akan melewatkan orang-orang semisal penulis surat ini, di samping saya yakin dia juga tidak pernah berharap dirinya dikenang dalam perayaan semacam itu. Batu pijakannya lain, arah haluannya lain, dan cita-citanya juga lain.
Bergunung kekecewaan dan ketidakberuntungan menindih perjalanan hidupnya namun harus diakui ia adalah seorang yang tegar, kuat dan setia. Lain dari itu tentang dirinya, saya tidak percaya. Sungguh tidak mudah bagi seseorang bertahan untuk melalui tahun-tahun kepedihan seperti yang ia lalui; saat tanah negerinya direbut oleh musuh Allah, saat bangsa-bangsa Islam kemudian harus kehilangan Amirul Mu'minin dan khilafahnya, dan saat ia melihat rakyatnya berangsur berpaling untuk mengikuti langkah musuhnya. Ia harus menahan perih fisik dalam pengasingan, sementara perih batinnya adalah sesuatu yang takkan terkira.
Dalam surat ini, Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud Syah melaporkan dan mengadukan perihal yang dialami oleh diri dan bangsanya kepada Khalifatul Muslimin dan Amirul Mu'minin.
Selain kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada siapakah lain yang layak ia lapor dan adukan halnya? Kepada Belanda seperti para raja negeri-negeri lain yang tunduk kepada Pemerintah Hindia-Belanda? Tentu tidak, dan tak pernah akan. Baginya, Belanda adalah kafir mal'un 'aduwullah (kafir terkutuk, musuh Allah).
Atau ia akan memilih berlayar dengan angin nasionalisme yang sudah mulai berhembus sejak penghujung abad ke-18 dan menguat di abad ke-19? Tentu, tidak. Ia sama sekali bukan pengagum Mustafa Kamal Ataturk (1881-1938), dan tidak pernah sepertinya! Malah, saya yakin sampai dengan wafatnya pada 6 Februari 1939, ia masih memimpikan kebangkitan Islam dan umatnya sebagaimana mimpi Sultan Abdul Hamid II (1842-1918) ke mana surat ini ditujukan pada tanggal 25 Muharram 1315 (26 Juni 1897).
Dengan demikian, bukankah ia seorang yang teguh dalam pendiriannya, seorang yang memiliki kepribadian kuat, dan lebih dari itu ia adalah orang yang setia kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada umat dan rakyatnya. Ia tetap berdiri dan melangkah di garis para leluhurnya, para sultan yang besar, dan tidak pernah menyimpang. Jika kemudian kita sering mendengar tentang cerita penyerahan diri Sultan Muhammad Dawud Syah, saya malah jadi bertanya-tanya kenapa hanya peristiwa ini yang sering diceritakan sementara perjalanannya yang panjang dalam tahun-tahun kepedihan justru seolah tersaput kabut. Lagi pula, setelah "penyerahan dirinya", ia tidak memerintah di bawah Belanda tapi justru dibuang ke Betawi, pusat pemerintahan kolonial. T. Ibrahim Alfian telah menuturkan sebab pembuangannya ke Betawi yang menjadi tanda dan bukti ia tidak pernah melepaskan kesetiaan kepada apa yang telah dijadikannya sebagai prinsip dalam hidupnya.
Hari ini, kita masih berkesempatan untuk menyimak kembali penuturan Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud tentang tahun-tahun kepedihan yang beliau lalui, tentang penyebab langsung perang Aceh-Belanda (panjangnya dapat dibaca dalam beberapa kepustakaan yang telah tersedia), tentang asal muasal kesetiaan Sultan Aceh kepada Khalifah Muslimin di Istambul dan hubungan di antara keduanya, tentang kebiadaban dan kekejian Belanda yang sampai pada tingkat menangkap, merampas dan membunuh nelayan yang pergi mencari ikan di laut. Dan pada saat beliau mengisahkan tentang bagaimana peluru yang ditembakkan dengan mesin menghujani beliau dan rakyat Aceh, saat beliau menuturkan itu, saya jadi seperti benar-benar menyaksikannya. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpahkan kepada beliau, Sultan dalam tahun-tahun kepedihan.
Berikut ini adalah surat Paduka Sri Sultan Muhammad Dawud Syah ditulis dalam Bahasa Jawi disertai cap mohor beliau:
Bahwa ini waraqah Al-Ikhlas yang dipesertakan di dalamnya dengan beberapa2 hormat dan selamat yaitu daripada hamba yang hina Sri Paduka Yang Dipertuan Raja 'Alauddin Muhammad Dawud Syah Ibnu As-Sultan Al-Marhum 'Alauddin Manshur Syah dan Sri Paduka Bangta Muda bersemayam di atas singgahsana tahta kerajaan Negeri Aceh Darussalam, yaitu Pulau Sumatera, barangdisampaikan Allah Tuhan seru sekalian alam datangkan mendapat kehadapan majlis hadrat Sri Paduka Yang Mulia Maulana Al-Khaqan Al-A'zham Al-Mu'azhzham Khadimul Haramain Asy-Syarifain Khalifatul Muslimin Amirul Mu'minin (Tuan kami Khaqan yang agung lagi dipertuan agung pelayan dua Tanah Haram yang mulia, khalifah Muslimin, Amirul Mu'mini--MZ.) Maulana Al-Mu'azhham Sultan Al-Ghaziy 'Abdul Hamid Khan Ibnu Al-Marhum Maulana Sultan Abdul Majid Khan yang ada sekarang di dalam Negeri Istambul yang memerintah Agama Allah dan Syari'at Muhammad bin 'Abdullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam--Sallamahullah fid darain (semoga Allah menyelamatkanya di dunia dan akhirat).
Wa Ba'dahu, daripada itu maka hamba merafa'kan (mengangkat/mengirim--MZ) secarik kertas ke hadapan Hadarat ke bawa cerpu (sandal kulit yang bentuknya seperti terompah--MZ) Sri Paduka Tuan hamba karana harap hamba bahwa akan tilik dan pandang dan kenangan Hadarat Sri Paduka hamba yang mahamulia di atas hamba satu raja Islam min ahli La Ilaha illal-Llah Muhammad Rasulullah (dari pemeluk La Ilaha illal-Llah Muhammad Rasulullah--MZ) yang dha'if, dan lagi vizir (wazir) hamba yang dha'if2 dan segala orang ra'yat hamba Islam yang ada mereka itu di dalam Negeri Aceh Darussalam yang telah dianiayai oleh kafir mal'un 'aduwullah (kafir terkutuk, musuh Allah--MZ.) Bangsa Belanda dengan tiada kesalahannya telah jadi peperangan dan bermusnah2an dengan beberapa2 negeri dan beberapa2 masjid dan segala zawiyah, dan sekalian makam aulia2 habis dibakarnya dan beberapa2 makam yang tinggi habis diratakannya, dan sekalian makam raja2 habis dibinasakannya diratakannya.
Demikianlah diperbinasakan di atas Agama Islam hingga sampai kepada tarikh surat ini kepada dua puluh lima tahun (25) lamanya tiada berhenti2 dengan perang. Tambah lagi sekarang ini diperanginya kita dengan peluru hujan tiada ada di dalam hadat (adat/kebiasaan) sekali kali. 
Dengan sebab hal ini hamba merafa'kan sembah ke hadapan Hadarat Sri Paduka Tuan hamba yang maha mulia daripada asalnya yang telah jadi demikian ini sebab seorang Hindu yang sudah masuk Islam namanya Panglima Tibang maka mereka itu telah dipercaya oleh ayahanda hamba yang bernama Sultan Mahmud Syah maka Hindu itulah membuat sepucuk surat kepada Hulanda diperbuatnya dengan nama ayahanda hamba itu Sultan Mahmud Syah serta diambil cap dengan tiada diketahui oleh saudara ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah maka Hindu itu pun keluarlah dari Aceh pergi ke Negeri Riau mendapatkan wakil Hulanda yang di situ lalu pergi ke Betawi kepada gubernur jendral yang besar daripada Raja Hulanda.

Maka dengan hal itu apabila Gubernur Jenderal mendapatkan surat yang ada dengan cap mohor ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah itu percayalah Gubernur Jenderal maka disuruhilah seorang wakilnya serta dengan berapa bacik (nakhoda--MZ.) kapal perang pergi di Aceh maka apabila sampai di Aceh baciklah wakil jenderal itu ke darat berjumpalah ia dengan pegawai yang kecil2. Maka Wakil Jenderal Hulanda pun menyatakan yang Gubernur Jenderal sudah menerima surat daripada Sultan Mahmud Syah. Sekarang ini ia hendak masuk ke Negeri Aceh.
Apabila diterima oleh wazir2 yang di dalam Negeri Aceh terkejutlah dengan hal itu. Bermusyawaratlah wazir2 Aceh yang besar2 itu. Setelah putus musyawaratnya dipinta tunggu tiga tahun kepada Hulanda oleh sebab wazir2 itu tiada berani menerima Hulanda masuk ke Negeri Aceh karana saudara ayahanda hamba Sultan Mahmud Syah umurnya pada masa itu tujuh belas (17) tahun, belum lagi sempurna aqalnya. Kedua perkara, wazir2 hendak merafa'kan sembah dahulu ke hadarat yang maha mulia Maulana Daulat Al-'Aliyyah Sultan Istambul dari karana pada zaman yaitu Daulat Al-Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghaziy Salim Khan, Nenekda hamba pada zaman masa dahulu yang bernama Sultan Iskandar Muda telah mengaku menjadi khadam serta menerima karuniai daripada Daulat Al-'Aliyyah Maulana Sultan AL-Ghaziy Salim Khan satu meriam tembak mirah panjang dua belas (12) hasta, dan nobat (gendang besar--MZ) dan satu (?) seruas (?) nafiri daripada perak, dan empat puluh empat (44) orang yang bersama2 [?] daripada Bangsa Turuki. Dan lagi kemudian daripada itu pada masa Nenekda hamba yang bernama Sultan Ibrahim Manshur Syah telah menyuruh seorang yang bernama Sayyid Muhammad Ghuts mengadap ke Hadarat Al-'Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghazi Abdul Majid Khan. Maka mekaruniakan [pada?] oleh Daulat Al-'Aliyyah Maulana Sultan Al-Ghazi 'Abdul Majid Khan kepada Nenekda hamba itu Sultan Ibrahim Manshur Syah suatu bintang Majidi (bintang kehormatan Sultan 'Abdul Majid Khan--MZ) serta sebilah pedang besarung emas. 
Dengan sebab itulah musyawarat wazir2 segala ada dipinta tunggu kepada Hulanda tiga (3) tahun maka permintaan itu tiada dikabulkan, kemudian lagi dipinta tunggu (tangguh) enam bulan tiada juga dikabulkan, kemudian dipinta tunggu (tangguh) tiga bulan tiada juga dikabulnya permintaan itu. Maka peranglah oleh Hulanda Negeri Aceh. Sampai tarikh surat ini, berperang bangsa Islam2 Aceh dengan bangsa kafir mal'un 'aduwullah Hulanda.

Lagi diperbuatnya macam2 di atas hamba yang tiada patut yang di dalam adat aturan di atas sekalian raja2 berperang dengan satu raja, diperbuatnya seperti seorang perempuan telah diikat dipukulnya, di atas hamba, satu raja Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah, yang tiada kuasa usahakan diwushul (dicapai) diperiksanya apa2 yang kurang yang tiada cukupnya pekakas itu peperangan, dan sekalian kuala2 jajahan hamba ditutup daripada awalnya dan sekalian saudagar2 yang ulang pergi datang berniaga barang makanan pun tiada boleh, habis ditangkap dibuangnya.
Maka dengan sebab itulah tiada boleh lepas bicara hamba mengadukan untungan hamba yang di dalam aniaya kafir Hulanda kepada Maulana Daulat Al-'Aliyyah Sultan Istambul dan kepada segala raja-raja Islam yang lain.
Dan ini tambahan lagi di dalam ini tahun makin berganda2 keras hukumnya hatta sekalian orang2 miskin mencari ikan di tepi laut pun habis ditangkap rampas dan bunuhnya. Demikianlah diperbuat zhalim di atas hamba, satu raja Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah. 
Dan bertambah lagi ini tahun dia ujani hamba dan rakyat2 hamba dengan ujan peluru dengan "engine" (mesin) hamba yang tiada kuasa. 
Maka sekarang ini berserahlah untung nasib sendiri kepada Allah dan Rasul Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan kepada Maulana Khalifatul Muslimin Amirul Mu'minin Maulana Sultan Al-Ghazi 'Abdul Hamid Khan di Istambul adanya.

Maka hamba haraplah diterima perserahan hamba ini oleh Tuan hamba yang maha mulia supaya terpeliharalah Agama Allah dan Syariat Al-Muhammadiyyah dan untungan hamba dan sekalian Islam min Ahli La Ilaha Illal-Llah Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang di dalam aniaya mal'un 'aduwullah kafir Hulanda ini.
Hendaklah dengan pertolongan Tuan hamba yang maha mulia di atas hamba yang dha'if, satu raja Islam dengan sekalian wazir2 Islam dan sekalian rakya2 Islam yang di dalam Negeri Aceh ini, yang telah haraplah hamba seperti langit dan bumi akan pertolongan Tuan hamba yang maha mulia Khalifatullah fil Ardh Amirul Mu'minin Maulana Sultan Al-Ghaziy 'Abdul Hamid Khan di atas hamba sekalian yang dha'if yang di dalam 'azaban syadidan ("siksa yang pedih") adanya. Wassalam, khitam. Tammatil Kalam bil khairi Ajma'in. Amin Allahumma Amin.
Tersurat di dalam Negeri Aceh Darussalam kepada 25 bulan Muharram kepada sanah 1315 (H)(Musafir zaman)


Rabu, 15 Juli 2015

SURAT SULTAN MANSYURSYAH KEPADA SULTAN ABDUL MAJID DITURKY


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!


Aceh Sultan Manshur Syah--rahimahullah
"Apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh."--Sultan Manshur Syah.
Salam ke atas Duli Hadarat Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul 'Alam Syah--semoga rahmat dan ampunan Allah tercurahkan kepada mereka sekalian.
Inilah teks naskah surat Sultan Manshur Syah bertarikh tahun 1265 H dalam bahasa Jawi ditujukan kepada Sultan Abdul Majid Khan di Istambul. Saya tampilkan tanpa komentar supaya dapat dicermati sendiri oleh para pembacanya karena inilah sejarah bangsa ini, Saudara-saudara!
Terima kasih kepada Dr. Annabel Gallop dan kawan-kawannya yang telah mempublikasi naskah surat ini dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”, seraya sangat mengharapkan publikasi dokumen-dokumen yang lain menyangkut tanah negeri ini.
[1] بسم الله الرحمن الرحيم
[2] الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد
Adapun kemudian daripada itu maka inilah waraqah ikhlash
[3] wa tuhfatul ajnas yang termaktub dalamnya dengan beberapa sembah salam ta’zhim dan takrim yang keluar daripada qalbu yang nurani dan fu’ad yang haqiqi dan sir yang khafi dan rahsia yang terbunyi (?) yaitu ialah yang datang 
[4] daripada pihak hamba anak amas (emas?) yang hina dina lagi fana tiada menaruh daya dan upaya serta dengan tiada mengetahui adat dan majlis (?) lagi dha’if dengan miskin yaitu yang bernama Sultan Manshur Syah
[5] ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah yang ada hayyah duduk dengan (duka percintaan dan kesakitan?) yaitu yang memerintahkan hukum dan adat dalam daerah Negeri Aceh Bandar Darussalam maka barang disampaikan Allah Subhanahu
[6] wa Ta’ala datang mendapatkan ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat Penghulu hamba yang maha mulia lagi a’la dan fadhilah yang telah dikaruniai daripada Tuhan Yang Bernama Rabbukumul A’la, yaitu Saiduna wa Maulana Paduka Seri Sultan
[7] Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan Johan Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam yang tahta kerajaan daripada emas qudrati yang sepuluh mutu lagi yang bertatahkan ratna mutu manikam daripada intan dikarang dan
[8] zabarjad yang telah terseradi dalam daerah Negeri Rum Qustantin Bandar Darul Ma’mur wal Masyhuriyah yang memerintahkan amar bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar pada sekalian alam dunia laut dan daerah dengan sifat adilnya serta
[9] gagah dan kuat pada memegang syari’at Muhammad ahlussunah wal jama’ah dalam negeri Makkah Al-Musyarrafah dan Madinah Al-Munawwarah dan negeri yang lain jua adanya maka tiadalah patik perpanjangkan kalam melainkan seqadar patik mengadukan
[10] hal dengan ihwal yang maksud sahaja. Amin. Syahdan, patik beri ma’lum lah ke bawah qadam tapak kawuh Duli Hadarat adapun karena tentangan patik yang di Negeri Aceh sungguhlah anak amas Duli Hadarat
[11] daripada zaman dahulu hingga zaman sekarang tiadalah menaruh lupa dan lalai akan duli hadarat daripada tiap-tiap kutika dan masa pada siang dan malam, pada pagi dan petang. Adapun karena hal ihwal surat ini patik mengirimkan 
[12] ke bawah Duli dikarena tatkala dahulu Negeri Jawi sekaliannya orang Muslimin dan kuatlah dengan berbuat ibadah dan tetaplah agama Islam dan sambunglah kehidupan segala orang faqir dan miskin dan lainnya dan
[13] dan sekarang sudah binasa negeri karena sudah masuk orang kafir Belanda pada satu Pulau Jawa dan serta dengan Pulau Bugis dan Pulau Bali serta dengan Pulau Borneo dan serta dengan Pulau Aceh yang setengah
[14] sudahlah diambil oleh orang Belanda dan serta dengan Raja Minangkabau sudah ditangkapnya dan sudahlah dibawak ke negeri dianya pada tarikh sanah 1253 dan sampailah surat kepada patik ke Negeri Aceh daripada segala ulama
[15] dan orang-orang besar Minangkabau dia minta tolong bantu kepada patik, dan patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan orang besar-besar yang dalam Negeri Aceh pasal hal itu maka berkatalah segala hulubalang kepada patik, adapun
[16] sekarang ini karena kita hendak berlawanan perang dengan orang Belanda karena Belanda itu ada lah kapal perang, karena ... (?) kurang daripadanya, dan lagi pula kita ini di bawah perintah Sultan Rum sekarang, barang-barang hal pekerjaan
[17] wajiblah Tuanku kirimkan suatu surat kepada penghulu kita Sultan Rum dan hendaklah kita minta tolong bantu padanya lagi serta dengan kita minta kapal perang barang berapa yang memadai serta laskar dalamnya orang Turki
[18] sudah itu maka patik kirimlah suatu surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1253 dan adalah khabar dalam surat itu patik mengadukan sekalian hal ihwal orang Belanda yang dalam Negeri Jawi dan hal ihwal orang Muslim
[19] dan yang membawak surat itu orang Marikan namanya Kapitan Tun (Ton?) serta dengan persembahan tanda yaqin patik akan Duli Hadarat: lada putih adalah lima ribu (5000) rathl (ratl: 407, 695 g) dan kemenyan putih adalah tiga ribu (3000) rathl dan gaharu
[20] adalah dua ribu (2000) rathl dan kapur adalah dua ratus (200) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin, dan patik nantilah datang perintah dan 
[21] wasithah (perantara) dari Duli Hadarat hingga sampai empat tahun lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1257 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Patik kirimkan pada orang Prancis
[22] surat itu, namanya Kapitan Batkin (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih empat ribu (4000) rathl dan kemenyan putih dua ribu lima ratus (2500) rathl dan gaharu adalah seribu tujuh ratus lima puluh (1750)
[23] rathl dan kapur adalah seratus lima puluh (150) rathl dan lainnya pasal kain-kain adalah dua tiga helai karena patik orang miskin dan patik nantilah perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga sampai empat tahun
[24] lamanya. Sudah itu maka patik kirim pula suatu lagi surat kepada Duli Hadarat pada tarikh sanah 1261 dan adalah khabar dalamnya seperti yang telah tersebut dahulu itu jua. Akan yang membawak surat itu orang Francis, namanya
[25] Kapitan Istilong (?) dan serta dengan persembahan tanda yaqin akan Duli Hadarat: lada putih adalah tiga ribu lima ratus (3500) rathl dan kemenyan putih adalah dua ribu (2000) rathl dan gaharu adalah seribu lima ratus (1500) rathl dan kapur adalah seratus (100) 
[26] rathl dan lainnya pasal kain-kain Aceh adalah dua tiga helai karena patik orang miskin lagi hina, dan patik nantilah pula datang perintah dan wasithah daripada Duli Hadarat hingga empat tahun lamanya maka tiadalah datang perintah 
[27] dan wasithah dari Duli Hadarat. Sudah itu maka patik berfikirlah dengan segala hulubalang dan segala orang yang besar-besar, bagaimanalah kita ini tiada datang perintah dan wasithah dari Penghulu kita di Negeri Rum. Adapun karena Negeri Rum terlalu
[28] sangat jauh barangkali tiada sampai surat yang kita kirim ke bawah Duli Hadarat Syah Alam. Sekarang, baiklah kita kirim satu orang Aceh ke Negeri Rum, kita suruh tanyakan surat yang dahulu ada sampai ke bahwa duli atau tiada?
[29] maka ialah pada tarikh sanah 1265 pada lima belas hari bulan Rabi’ul Awal pada hari Khamis pada dewasa itulah patik berbuat surat sekeping kertas ini tawakkal yaqin patik ke bawah lapik qadam tapak kawuh Duli Hadarat. 
[30] Amma Ba’du. Ampun Tuanku sembah ampun, ampun beribu kali ampun, patik anak amas Tuanku, Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah memohon ampun ke bawah qadam Duli Hadarat yang maha mulia,
[31] yaitu Sultan Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan. Syahdan, patik beri maklumlah ke bawah qadam Duli Hadarat, adapun karena patik sekarang ini sangatlah masygul (?) dan serta kesukaran karena 
[32] sebab Negeri Jawa dan Negeri Bugis dan Negeri Bali dan Negeri Borneo dan Negeri Palembang dan Negeri Minangkabau sudahlah dihukumkan oleh orang Belanda, dan sangatlah susah segala orang yang Muslim, lagi sangatlah
[33] kekurangan daripada agama Islam karena sebab keras orang kafir Belanda itu. Dan muwafaqah lah segala orang yang besar-besar segala rakyatnya yang di dalam negeri, semuhanya itu hendak melawan dia lagi hendak memukul dia maka dikirimlah 
[34] surat daripada tiap-tiap orang yang besar-besar dalam negeri semuhanya itu kapada patik ke Negeri Aceh karena Negeri Aceh yang dalam pegangan perintah patik belumlah dapat oleh Belanda segala negeri dan sekalian bandar. Dan sekarang 
[35] orang Belanda hendak memeranglah kepada patik ke Negeri Aceh dan sudahlah siapa dianya, dan patik pun ‘ala kulli hal siaplah akan melawan dia, dan segala hulubalang dan orang yang besar-besar pada negeri yang sudah dihukum oleh
[36] Belanda sudah sampai surat kepada patik ke Negeri Aceh dan muwafaqah lah dianya dengan patik, lagi satu batin dengan patik semuhanya orang itu, apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah 
[37] melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh dan tentangan patik pun
[38] menanti titah dan wasithah daripada Duli Hadarat yang di negeri Rum. Ampun Tuanku beribu kali ampun, kurnia sedekah Duli Hadarat kepada patik ke Negeri Aceh kapal perang alkadar dua belas serta laskar dalamnya barang
[39] berapa yang memadai dalam kapal itu dan tentangan belanja laskar dan belanja kapal sekaliannya di atas tanggungan patik. Jika sudah sampai ke Negeri Aceh adalah dengan ikhtiar patik semuhanya itu, dan hendaklah dengan izin
[40] Duli Hadarat kepada patik dan lainnya hendak memerang kafir Belanda itu pada tiap-tiap negeri dan tiap-tiap bandar. Dan hendaklah sedekah Duli Hadarat surat tanda alamah Duli Hadarat kepada kami semuhanya yang di dalam Negeri Jawi
[41] ilaihim Ajma’in supaya suka kami mati syahid. Itulah ihwalnya dan yang lain tiadalah patik sebutkan dalam waraqah ini melainkan Duli Hadarat periksa pada orang yang membawak surat ini karena dianya hulubalang
[42] patik lagi nasab dengan patik, namanya Muhammad Ghauts bin ‘Abdurrahim karena dianya amanah patik lagi badal ganti patik berjalan menjunjung ke bawah qadam Duli Hadarat ke Negeri Rum dan apa-apa khabarnya sungguhlah khabar
[43] patik dan pekerjaannya pun sungguh pekerjaan patik dan hendaklah dengan sekira-kira titah Duli Hadarat akan Muhammad Ghauts kembali ke Negeri Jawi dan tiadalah tanda hayyah patik melainkan ampun beribu-ribu kali ampun. Tamma Kalam sanah 1265.(musafir zaman via mapesa)

Jumat, 05 Desember 2014

IDEOLOGI TAK PERNAH MATI.


Mariyah seorang perempuan dari Nisam diaceh utara yang tdk tamat madrasha aliyah,menuliskan impian nya tentang masa depan aceh, pada tanggal 5 agustus 2003 yang lalu kepada penduduk jakarta .mengikuti metode ideologi yang diwariskan oleh hasan tiro.
" Lalu aku belajar tentang sejarah masa lalu aceh yang mardeka bersama dengan perempuan dari desa lain.Kami mulai merajut mimpi,andai kami nanti merasakan kemardekaan yang sebenar nya.rakyat aceh akan mengantur hidupnya sendiri dalam sebuah negara kecil,rakyat lebih cepat sejahtra dari hasil bumi yang ada,keadilan ditegakkan,satu orang mati dikampung"presiden" kami prihatin,dan polisi kami mengusut nya dengan sungguh sungguh".
Reflexi perasaan itu di pertontonkan kepada kita bahwa ideologi itu tdk pernah mati. sebagai mana gagasan ideologi yg disemaikan oleh Hasan tiro mulai tumbuh dan berkecambah sampai ke pelosok desa yg terpencil sekalipun diaceh,namun para pejuang ideologi tersebut sekarang sdh mulai luntur ketika mareka sudah mendapatkan kekuasan yang dulu mareka perjuangkan.berbeda dengan rakyat yg masih memimpikan sebuah kebebasan untuk menentukan nasib sendiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat,sebagai mana kerajaan aceh zaman dahulu yg gilang gemilang meucuhu ban sigom donya.ideologi ini tidak pernah mati dalam sanubari rakyat acehkarena UUD45 RI mengatakan bahwa penjajahn di atas dunia harus dimusnahkan.
Setiap bangsa berhak menentukan nasib nya sendiri.hari kemederkaan yg mareka peringatai setiap tahun nya pada tanggal 4 desember seperti nya sudah hambar dan tak bermakna,dulu mareka dengan ancaman dan pemaksaan kepada penduduk untuk mengibarkan bendera itu sebagai sebuah lambang kemerdekaan,sekarang mareka sendiri yang melarang dengan seruan2 yang selalu di ulang ulang,makna sebuah indentitas diri lenyap bersama nikmatnya kursi kekuasaan.bagi rakyat yg masih memiliki ideologi itu bendera adalah darah,the flag is blood,kata teman sayaadifa.SELAMAT MILAD YG KE 38,semoga perjuangan masih berlanjut dan damai selalu dalam bingkai NKRI,karena kita tdk lagi berjuang untuk kemardekaan teritory.mimpi untuk itu sdh kami hilangkan kan semenjak kursi kami dapat masih sangat empuk.

Jumat, 15 Agustus 2014

SEBUAH CATATAN UNTUK PAK DJOKOWI



Pak Djokowi, saya adalah salah satu orang yang memilih anda ketika pemilihan gubernur DKI dulu. Saya juga berupaya mempengaruhi beberapa kawan, termasuk tetangga saya yang betawi tulen dan sangat fanatik terhadap Foke untuk memilih anda. 
Kali ini, ketika seorang pengusaha asal Bugis meminta rumah saya dijadikam markas relawan Djokowi-JK, tanpa ragu saya mengiyakan.
Kenapa?

Karena saya melihat sosok anda yang merakyat dan bekerja untuk melayani rakyat
Saya pernah lihat dengan mata kepala sendiri pagi-pagi anda sudah berada di pintu air Manggarai untuk mengecek. Hal yang belum pernah saya lihat pada gubernur sebelum anda belasan tahun saya menjadi warga DKI.

Saya dan keluarga mendukung anda dan menjadikan rumah kami sebagai posko relawan dengan sukarela pak. Tanpa bayaran sesen pun. Bahkan kami menyediakan makan ala kadarnya bila para relawan berkumpul.
Walau didekat rumah saya ada pos pendukung lain dan mendapat dana untuk kegiatannya, namun pos relawan di rumah kami lebih banyak dikunjungi relawan karena mereka juga ikut karena keikhlasan semata.
Kami tidak mengharapkan apa-apa bila anda terpilih menjadi presiden kelak. Saya tidak mengharap jabatan, proyek atau apapun. Kami hanya berharap anda amanah.

Namun faktor lain saya mendukung anda adalah pendamping anda pak JK.
Pak JK sangat berjasa terhadap proses perdamaian di ACEH, tanah leluhur kami yang sudah puluhan tahun terjadi pertikaian antara GAM dengan Republik dan menelan korban ribuan nyawa.
Pak JK juga sangat berjasa ketika terjadi Tsunami di Aceh. Beliau langsung memerintahkan gubernur SUMUT untuk mendrop makanan lewat udara ke beberapa lokasi Tsunami yang tidak bisa dijangkau lewat darat. Ketika gubernur SUMUT mengatakan "Nanti makanannya jatuh ke tangan GAM" beliau dengan ketus menjawab "GAM juga manusia"
Banyak orang yang meragukan independensi anda dan pak JK bila terpilih kelak.

Namun saya katakan pada mereka bahwa anda dan pak JK bukanlah orang yang mudah disetir.
Terlebih pak JK yang orang Bugis asli. Saya memberi contoh bagaimana Syech Yusuf yang sangat keras pendiriannya sehingga bliau mungkin satu2nya anak negeri ini yang dibuang sangat jauh oleh Belanda.
Bila anda berpasangan dengan sosok lain yang tidak berkenan di hati saya, mungkin saya memilih untuk GOLPUT pak. Tapi itu bukan berarti saya membenci Prabowo-Hatta dan mendukung anda secara membabi buta.

Pak Djokowi.
Bila terpilih nanti, saya mengharap anda melaksanakan good governance dan clean goverment. 
Anda tahu bahwa republik ini didirikan diatas bujuk rayu sang pendiri terhadap tokoh2 dulu dan janji pada raja2 sebagai pemilik sah negeri ini.
Termasuk rayuan dan janji-janji pada sultan kami.
Jauh sebelum republik ini berdiri, Soekarno pernah berkata pada putra mahkota Sultan Aceh, "Dek Bram, kalau indonesia merdeka, semua harta milik kesultanan aceh akan abang kembalikan"
Anda tahu pak Djokowi? Sultan kami ditangkap dan dibuang oleh Belanda karena tidak mau menyerah. Beliau dibuang ke AMBON, kemudian ke Batavia sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjak tanah leluhurnya dan hidup miskin di negeri orang.
Bahkan makam beliau pun tidak layaknya seperti makam raja2 lain. Tak ada penghargaan sama sekali dari republik ini terhadap seorang penjuang yang berperang melawan belanda.
Pak Djokowi.
Kami para penerus tidak berharap agar beliau diangkat sebagai pahlawan. Begitu pula para cucu-cucu beliau.
Kami hanya berharap agar sukarno menepati janjinya untuk mengembalikan harta Sultan kami yang dirampas belanda kemudian setelah Indonesia merdeka harta itu di kuasai republik.
Anda adalah penerus Soekarno. Tentu anda merasa kasihan bila di akherat nanti Soekarno akan ditagih janjinya yang tak pernah ditepati oleh sang Khalik .

Saya akhiri catatan ini dengan Do'a semoga Allah memberikan amanah untuk memimpin negeri ini pada Anda.
Ingat pak, bila anda tidak amanah, kami akan angkat senjata melawan anda. Senjata kami bukan pedang tajam atau M16 atau AK 47. Senjata kami adalah 
do'a.
(ditulis oleh teuku fahrur rizal .tulisan ini juga dimuat di Kompasiana)



Rabu, 06 November 2013

Sebuah Analisa, Wali Negara atau Wali Nanggroe?

Hasan Di Tiro
MEMBACA beberapa tulisan yang mengulas tentang Wali Nanggroe termasuk pandangan beragam yang berkembang selanjutnya yang dinisbahkan kepada Tgk Hasan Tiro, saya ingin menambahkan informasi mengenai makna kata "Wali Nanggroe" itu sendiri yang cendrung a historis karena tidak merujuk pada buku atau tulisan Tgk Hasan Tiro itu sendiri dimana beliau tidak pernah mengatakan sebagai Wali Nanggroe melainkan sebagai Wali Negara. 

Secara singkat, padat dan hematnya sebagai berikut:
Sepengetahuan saya, kata "Wali Nanggroe" dengan "Wali Negara" adalah berbeda maknanya. Sebutan "Wali Nanggroe" tidak lepas dari konteks sejarah Aceh, sehingga dari pada itu kata "Nanggroe" bukan bahasa Aceh terjemahan yang tepat untuk "Negara", karena kata "Negara" bahasa Acehnya adalah ”Neugara”, sedangkan kata "Negeri" terjemahan kedalam bahasa Acehnya adalah "Nanggroe". (Sumber Kamus Indonesia–Aceh, oleh M Hasan Basri, hlm 626, yayasan Cakra Daru 1994).


Istilah tersebut dalam konteks sejarah Aceh lebih jelas jika seandainya difahamkan kedalam bahasa Inggris ”Head of state” untuk "Wali Negara" dan "Guardian" untuk "Wali Nanggroe". Contoh pemahaman lainnya, kata ”Wali Negara” dan ”Wali Nanggroe” hampir sama kata namun berbeda maknanya sama seperti kata ”Country” dan ”County” dalam bahasa Inggris. Almarhum Tgk Hasan di Tiro sendiri tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Wali Nanggroe melainkan sebagai Wali Negara sejak 1976. (Sumber: buku "The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tgk Hasan di Tiro”, kolom "The Genealogy of the Tengku Chik di Tiro, hlm: 141 dan juga terjemahan buku ""Jum Meurdéhka, Seuneurat Njang Gohlom Lheuëh" pada kolom yang sama).


Silsilah sebagai Wali Negara tersebut sebagai berikut: 1. Tgk. Sjech Muhammad Saman (1874-1891) 2. Tgk. M. Amin (1891-1896) 3. Tgk. Bèd/Ubaidullah (1896-1899) 4. Tgk. Lambada (1899-1904) 5. Tgk. Mahjeddin (1904-1910) 6. Tgk. Ma'at (1910-1911) 7. Tgk. M. Hasan (1976 – 2010).


Sedangkan informasi yang terdapat dalam buku beliau yang lain di antaranya, “Acheh – New Birth of Feedom” yang diterbitkan oleh parlemen Inggris House of Lords, 1 Mei, 1992, dalam appendix II, nama Tengku Hasan di Tiro termaktub sebagai penguasa (ruler) Aceh yang ke 41 yang dimulai pada Sultan Ali Mughayat Syah (1500 - 1530) sampai kepada dirinya (1976 - 2010). Sekali lagi, dari semua tulisan buku beliau, almarhum Tgk Hasan di Tiro cendrung mengatakan kalau dirinya sebagai Wali Negara bukan Wali Nanggroe.


Sedikit tambahan, sebutan Wali Negara juga pernah dialami oleh Tgk Daud Beureuéh saat mendirikan gerakan Darul Islam, yang berlanjut pada pendirian Republik Islam Aceh (RIA), namun suksesi Wali Negara setelah beliau almarhum tidak berlanjut. Hampir sama kejadiannya, sejak Tgk Hasan di Tiro wafat, belum ada seorang pun, baik yang berasal dari keturunan keluarga di Tiro maupun bukan, yang mengklaim dirinya sebagai pengganti Wali Negara. Penurunan makna pemahaman kata Wali Negara menjadi Wali Nanggroe serupa seperti pemaksaan kata Aceh yang beridentitas sebagai sebuah bangsa kini menjadi sebuah suku, padahal suku di Aceh itu misalnya Suku Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Gayo Luwes, Kluet, Simeulue, Singkil, Tamiang.


Seyogyanya, opini yang berkembang menyangkut kontroversial klaim seseorang sebagai Wali Nanggroe ke 9 perlu dikaji ulang menurut sejarah Aceh atau referensi dari buku karya Tgk Hasan Di Tiro. Demikian juga, patut dipertanyakan atas dasar hukum apa, oleh siapa, dimana dan kapan Malik Mahmud diangkat langsung sebagai Wali Nanggroe ke 9 sedangkan dalam berhitung saja dimulai dengan angka 1, bukan 9.


Dalam dinamika politik, informasi yang diulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari meskipun keliru akan menjadi sebuah kebenaran, meskipun ditoreh sebagai bagian dalam sejarah. Walaupun demikian, tidak boleh menjadi sebuah justifikasi fakta karena sembari mengutip para mubaligh yang sering mengatakan bahwa “Qul al haqq wa law kana murran” (Katakan yang benar walaupun pahit--akibatnya).


Asnawi Ali
Örebro, Swedia