Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Jumat, 15 Agustus 2014

QANUN MEUKUTA ALAM
Dalam Kanun Meukuta Alam ditetapkan, bahwa dasar Kerajaan Aceh Darussalam yaitu Islam dan bentuknya kerajaan, yang dengan ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut;
Negara berbentuk kerajaan, di mana Kepala Negara bergelar Sulthan yang diangkat turun temurun. Dalam keadaan dari keturunan tertentu tidak ada yang memenuhi syarat-syarat, boleh diangkat dari bukan turunan raja.
Kerajaan bernama Kerajaan Aceh Darussalam, dengan Ibukota Negara Bandar Aceh Darussalam.
Kepala Negara disebut Sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris Negara yang bergelar Rama Setia Keurukon Katibul Muluk.
Orang kedua dalam kerajaan, yaitu Qadli Malikul Adil, dengan empat orang pembantunya yang bergelar Mufti Empat.
Untuk membantu sulthan dalam menjalankan pemerintahan, kanun menetapkan beberapa pejabat tinggi yang bergelar Wazir (Perdana Menteri dan Menteri-Menteri).
Rukun Kerajaan
Kanun menetapkan empat Rukun Kerajaan, yaitu:
Pedang Keadilan ; Jika tiada pedang, maka tidak ada kerajaan.
Qalam ; Jika tidak ada kitab undang-undang, tidak ada kerajaan.
Ilmu ; Jika tidak mengetahui ilmu dunia-akhirat, tidak bisa mengatur kerajaan.
Kalam ; Jika tidak ada bahasa, maka tidak bisa berdiri kerajaan.
Untuk dapat terlaksana keempat rukun tersebut dalam kerajaan, maka kanun menetapkan empat syarat, yaitu:
Ilmu yang bisa memegang pedang,
Ilmu yang bisa menulis.
Ilmu yang bisa mengetahui mengatur dan menyusun negeri.
Ilmu bahasa.
Negara Hukum
" Dalam kanun ditetapkan, bahwa Kerajaan Aceh Darussalam adalah Negara Hukum yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri ditengah padang, akan tetapi rakyat seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, lagi besar matanya, lagi panjang sampai ke timur dan ke barat."
Sumber Hukum
Kanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu:
Al Quran.
Al Hadis.
Ijmak Ulama.
Qias.
Cap Sikureueng
Dalam kanun ditetapkan, bahwa cap (setempel) negara yang tertinggi, yaitu Cap Sikureueng (Setempel Sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling, ditengah-tengah nama sulthan yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang sulthan yang memerintah sebelumnya. Menurut kanun, bahwa delapan orang sulthan kelilingnya melambangkan empat dasar hukum (Al Quran, Al Hadis, IjmakUlama dan Qias) dan empat jenis hukum (Hukum, Adat, Kanun dan Resam), yang berarti bahwa sulthan dikelilingi oleh hukum.
PEJABAT2 YG BERDINAS DI BALAI FURDAH BESERTA GELAR NYA 1. Orangkaya Seri Maharaja Lela, orang kedua dalam kementerian,
kira-kira Sekjen kalau sekarang.
2. Penghulu Kawal 3. Syahbandar Muktabar Khan, pcjabat yang mengepalai pelabuhan-
pelabuhan.
4. Syahbandar Saiful Muluk, pejabat tinggi yang mengurus urusan
tera.
5. Syahbandar Seri Rama Setia,
6. Syahbandar Mu'izzul Muluk.
7. Penghulu Kerukon.
8. Seri Purba Khan.
9. Nadhar Majlis Khan.
10. Nadhar Maharaja Indera Dewa.
11. Nadhar Seri Maharaja Purba.
12. Nadhar Seri Muda Setia.
13. Nadhar Mahsur Diraja.
14. Seri Indera Suwara.
1 5. Keurukon Seri Indera Muda.
16. Kerukon Empat.
17. Kerukon Enam.
18. Bujang Tujuh.
19. Penghulu Kunci.
20. Penghulu Dacing.
21. Penghulu Furdhah.
22. Bendahara.
23. Tandil Ka wal.
24. Sagi Panglima.
25. Sagi Kawal.
26. Tandil Dacing.
27. Penghulu Cap.
28. Kerukon Bauwab.
29. Kejrun Kawal.
30. Bujang Dalam.
31. Tandil Menteri Dagang.
32. Lasykar Raja Tun Guna Setia Tandil. adifa(alihasyimy)

TERHENTINYA LANGKAH SANG MANGKUBUMI



Habib Abdurrahman Azzahir,pernah menjabat sebagai mangkubumi merangkap menteri luar negeri kesultanan Aceh menjelang belanda memerangi aceh beliau diutuskan oleh sultan untuk meminta bantuan kepada khalifah Turki.
sekembali dari Turkye pada tahun 1876 langsung memimpin perlawanan kepada belanda bersama Teungku chi ditiro dan berkedudukan di montasik Aceh rayeuk.disebab oleh perpecayan yg terjadi ditubuh pemerintahan kesultanan aceh dan usuha usaha menyudutkan diri nya setelah kekalah pasukan nya dalam perang besar di kamp seuneulop membawa akibat yg buruk bagi pribadi Habib
pada tanggal 13 oktober 1878 habib berdamai dengan belanda.dan akhir nya habib berangkat ke mekkah dan menetap disana dengan tunjangan 10.000 gulden pertahun dari pemerintah belanda.berakhir pula lah sepak terjang sang habib diaceh,dan sampai berakhir perang aceh,beliau dikenang sebagai habib yg berkhianat seperti hal nya panglima tibang serta teuku nek meuraxa.dan terekam sampai sekarang dalam fikiran orang aceh.adifa,

MAKAM SULTAN ALAIDIN MUHAMMAD MAHMUDSYAH


Setelah dua kali melakukan agresi, Belanda dapat menguasai kediaman Sultan Aceh (Dalam). Karena wabah kolera Sultan Alaiddin Mahmudsyah mangkat. Dalam kecamuk perang kuburannya di Pagar Aye dibongkar dan dipindah ke samahani
Ketika agresi Belanda kedua terhadap Kerajaan Aceh, Sultan, Panglima Polem, dan Teuku Baet menyingkir ke Lueng Bata.
Selain menghindari bombardir dari Belanda, kala itu wabah kolera pun sedang berjangkit. Salah satu korban adalah Sultan Mahmud Syah. Ia mangkat pada 29 Januari di Pagar Air atau Pagar Aye, tak jauh dari Lueng Bata. Sultan Mahmud dimakamkan di Cot Bada, Samahani, Aceh Besar. Setelah itu, langsung digantikan posisi sementara sultan oleh Tuwanku Hasyim Bantamuda.
Seharusnya posisi ini dijabat Tuwanku Muhammad Daud Syah yang dinobatkan sebagai sultan di Masjid Indrapuri pada 1878. Namun, Daud Syah dianggap belum cukup umur. Di masjid tuha Lueng Bata itulah, pelantikan Tuwanku Hasyim Bantamuda digelar.(foto sum;iskandar norman)

Selasa, 03 Juni 2014

BENDERA PERANG KERAJAAN ATJEH


Bendera perang kerajaan aceh bergambar pedang zulfikar ini terkena noda darah LETNAN pertama CH bischoff dan memiliki lubang peluru dibendera ini,letnan bischoff menyita dan merampas bendera perang kesultanan Aceh ketikadalam sebuah pertempuran dalam merebut sebuah banteng pasukan pejuang kerajaan aceh darussalam pada tahun 1840

Bischoff terkenang peluru pejuang aceh dan menderita luka luka.beberapa hari kemudian pada tanggal 3 mai 1840 bischoff tewas krn luka terkenang peluru dan klewang yg dialaminya.atas jasanya bisa merebut bendera ini ia di promosikan dari pangkat letnan menjadi kapten.sungguh mareka membayar mahal dalam
usaha menaklukkan aceh ( adifa)

Selasa, 20 Mei 2014

SULTAN ISKANDAR MUDA MENERIMA UTUSAN DARI PRANCIS


.Kedatangan Agustine Beaulieu ke Aceh 
de beaulieu ketika menghadap sultan
pada tahun 1619 disambut sangat baik sultan Aceh, terbukti dalam laporan Beaulieu menyelaskan penyambutan yg luar biasa dari sultan aceh.dia juga menjelaskan bentuk istana dan segala isinya seperti dinding , lantai yg dihiasai karpet yg didatangkan langsung dari Turki,serta disambut oleh
30 wanita cantik berpakain yg indah2 dengan dekoratif batik perak batu permata yang indah, yang menghibur kedatangan Beaulieu.diiringi dengan kesenian dan tari tarian khas aceh,kemudian Datang lah 15 gadis dengan gendang kecil terakhir muncul juga 2 gadis cantik yang sangat menakjubkan. betapa indah dan ramahnya negara aceh ini, Beaulieu benar-benar melihatnya. Hal ini juga membuktikan bahwa orang-orang dari aceh sangat memuliakan tamu istimewa
Beaulieu memberikan banyak hadiah kepada Sultan, dengan bingkisan yang tidak pernah ada di Acheh. Meskipun hari pertama kedatangan ke Aceh belum, diterima langsung oleh sultan. Karena pada saat itu sultan sedang sakit, baru setelah membaca surat dari Raja Prancis yg dibawanya,keesokan harinya sultan baru menerima beaulieu.
Beaulieu tiba di Aceh pada masa Kesultanan dipimpin oleh Sultan yang agung Iskandar Muda Meukuta Alam. Kesempatan yang lama di tanah Aceh itu digunakan oleh Beaulieu untuk mempelajari adat dan budaya Aceh.
Catatan perjalanan Beaulieu di Aceh hingga sekarang banyak yang dijadikan referensi ilmiah untuk mengetahui bagaimana kemajuan dan kejayaan Aceh pada masa itu. Beaulieu juga menceritakan bahwa Sultan Iskandar Muda telah membentuk orang Aceh kaarakter menjadi prajurit terbaik d kepulauan nusantara.Bealiu menuliskan bahwa kapal perang yang jauh lebih besar dari yang dibuat oleh kapal perang orang Eropa zaman itu. Kapal diurus oleh orang-orang khusus yg di dalamnya memuat sampai 800 tentara dengan 900 ekor gajah.
(sumber foto book World Voyage to East Indies 1762 )

KAPAL PERANG US POTOMAC MENYERANG KUALA BATE

Potomac tiba di Kuala Batee pada tanggal 5 Februari 1832. Di sana, Downes bertemu Poh Adam yang mengatakan bahwa penguasa setempat sama sekali tidak mau membayar ganti rugi atas serangan ke Friendship.
kapal perang US potomac

Komodor Downes kemudian memutuskan menyamarkan kapalnya sebagai kapal dagang Denmark agar tak dikenal oleh penduduk sekitar. Penyamaran itu berlangsung mulus sampai-sampai ketika beberapa penduduk sekitar menaiki Potomac untuk menjual sekargo lada, mereka ditahan mendadak agar penduduk Kuala Batee tidak sadar ada kapal Amerika Serikat yang mempersiapkan pembalasan. Downes kemudian mengirim sekelompok pengintai ke pelabuhan, namun berhasil diusir oleh penduduk setempat. Di samping 3 kapal di pelabuhan, 5 bentengdiketahui mengawal kota dekat pesisir.Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. Dari perahu itulah, para nakhoda dan marinir Potomac membakar kapal-kapal Aceh di pelabuhan Kuala Batee dan menyerang benteng kota sementara bantuan dari senapan-senapan Potomac sendiri digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee. Senapan modern yang digunakan AS jauh lebih baik dibandingkan dengan senapan kunci korek milik lawan yang sudah ketinggalan zaman, namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan di mana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya. Di pihak AS, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka.
comodore Downes
Setelah benteng pesisir tersebut jatuh, musuh yang tersisa melarikan diri ke pedalaman yang di situ ada benteng lain, namun alih-alih menggunakan benteng yang tersisa tersebut, AS menyerang kota itu sendiri. Perampokan dan penjarahan skala besar terjadi hampir di seantero kota disertai dengan banyaknya penduduk yang terbunuh. Downes kemudian memerintahkan anak buahnya kembali ke kapal dan mengebom benteng ke-5 dan juga kota itu sendiri hingga pimpinannya yang selamat setuju untuk menyerah. Serangan tersebut memakan korban 300 penduduk lainnya.
pihak aceh di pimpin oleh Raja po muhammad dengan kekuatan 500 laskar,sementara pihak USA dipimpin oleh laksamana komodor jhon downes dengan kekuatan 282 prajurit mariner,korban tewas dipihak aceh dalam serangan tersebut 450 jiwa,sementara pihak USA hanya 2 orang prajurit,termasuk seorang perwiranya dan 11 lainnya luka luka.pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 6-9 february 1832.penyerangan ini sebagai balas dendam dan hukuman terhadap aceh atas tindakan penguasa kuala batee menyerang dan menghancurkan kapal dagang USA dan membunuh anak buah kapal frenship milik maskapaj dagang USA.pembantai tersebut membuat presiden USA Andrew jackson marah dan mengirim kapal perang potomac unt menghukum aceh
.media bisnis amerika serikat Nilles weekly registre mengecam penyerangan brutal tersebut.namun presiden tetap mengizinkan peyerbuan tersebut.adifa
(sumber foto kapal fregat potomac. wikipedia ,komodore downes,usa archive)



Sabtu, 22 Maret 2014

Derita Pekerja Paksa dalam Perang Aceh

Tahun-tahun perang Aceh periode I dan II adalah neraka bagi para narapidana di Hindia Belanda. Para narapidana dengan klasifikasi hukuman tertentu akan dikirim ke Aceh sebagai pekerja paksa. Menjadi tenaga kerja paksa ditengah kecamuk perang yang berlangsung dengan liar di Aceh. Hukuman ini bisa disamakan dengan hukuman mati yang tertunda bagi si narapidana. Banyak dari para narapidana ini tewas secara mengenaskan di belantara Aceh. Ketika perang terbuka 1873-1880 tidak kurang dari 8.250 orang tenaga kerja paksa ini menemui ajalnya di aceh.

Beratnya medan tempur dan begitu drastisnya jatuh korban dikalangan pekerja paksa membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda merasa perlu menetapkan cadangan yang musti disediakan oleh depot-depot tahanan Hindia Belanda. Padang dan Semarang misalnya diwajibkan menyediakan cadangan 100 orang, Surabaya 150 orang dan Batavia sebagai bandar terbesar wajib menyediakan 250 orang setiap bulannya. Namun penetapan kuota cadangan itu segera pula terasa sangat tidak mencukupi kebutuhan dilapangan, maka pada bulan-bulan setelahnya jumlah itu naik dengan pesat.

Tidak banyak pekerjaan umum yang dikerjakan oleh para pekerja paksa di Aceh. Kebanyakan tugas mereka adalah menjadi tenaga pengangkutan militer yang sangat berbahaya. Kelewang, rencong dan senapan pejuang Aceh tidaklah pandai memilih sasaran, apa saja dan siapa saja yang bekerja dipihak Belanda adalah bagian dari kaphe yang wajib ditumpas. Para pejalan kaki yang seringkali dirantai ini adalah sasaran empuk dan menguntungkan pihak pejuang. Kematian para pekerja paksa adalah kematian pula bagi serdadu yang bergantung padanya.

Selain menghadapi ganasnya serangan dari pejuang Aceh, para pekerja paksa ini juga acapkali mengalami tindakan tidak senonoh dari para serdadu bawahan yang merasa dirinya lebih hebat satu derajat diatasnya. Para prajurit bawahan ini gemar sekali melecehkan para tahanan malang itu, menganggapnya sebagai manusia buangan yang tak lebih dari hewan pengangkut logistik. Bahkan di medan perang Aceh, harga hewan pengangkut beban lebih berharga dibanding nyawa para pekerja paksa.

Bukan tidak pernah militer Belanda mencoba memobilisasi logistik dengan menggunakan hewan pengangkut beban. Namun medan Aceh menyulitkan pergerakan hewan-hewan tersebut. Di Aceh tidak banyak terdapat kuda yang bisa mengangkut bermacam keperluan, kuda dan keledai didatangkan dari daerah lain. Tetapi mengingat medan yang sulit karena tidak tersedianya jalanan membuat pemanfaatan binatang itu tidak bisa diharapkan sama sekali. Antara satu basis dengan basis lainnya pejuang Aceh seringkali hanya bisa ditempuh dengan melewati pematang sawah yang sempit, bukit-bukit batu yang curam dan rawa-rawa yang luas maka para tahanan itulah yang lebih tepat untuk digunakan.

Manusia pengangkut beban itu juga tidak membutuhkan perlakuan khusus. Mereka tak butuh makanan spesial, makan mereka bahkan cukup dengan diberikan makanan sisa dari para prajurit. Atau mereka akan berusaha makan apa saja yang bisa ditemukan di sepanjang perkampungan yang dilalui. Pekerja paksa juga tidak membutuhkan tempat yang representatif bagi tempat tinggalnya. Cukup dengan gubuk-gubuk sederhana dari bambu dan ranting kayu mereka bisa tidur dan menyiapkan tenaga buat tugas berat pada hari berikutnya.

Adakalanya para narapidana ini membangkang, mereka menjadi tidak bisa diatur sedemikian rupa oleh para serdadu membutuhkannya. Maka cambukan rotan sekian puluh kali akan menjadi penyemangat yang tidak menyenangkan. Hukuman cambuk menjadi semacam kesenangan lain dari para serdadu yang frustasi dalam menghadapi maut di Aceh. Para narapidana ini sama sekali tidak punya hak membela diri. Karena status kebanyakan dari mereka adalah para bajingan berbangsa Jawa. Dalam hukum kolonial siapa saja yang terjajah dan menjadi bajingan adalah makhluk paling hina.

Tidak heran selama empat puluh tahun perang Aceh, ditaksir tidak kurang dari 25.000 pekerja paksa ini tamat hidupnya di Aceh. Kematian para manusia buangan ini tak lebih dari sekedar kematian tikus tak berguna (walaupun sebenarnya mereka sangat berjasa bagi pasukan Belanda). Mereka dilupakan oleh pemerintah Belanda dan serdadu-serdadu gila hormat yang satu bangsa dengan mereka.