Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Rabu, 15 Oktober 2014

PERJUANGAN TEUNGKU RAJA SILANG ( T.ACHMAD SYAILANI) MELAWAN PENJAJAH BELANDA

Paduka Raja Silang
Awal sejarah Belanda ikut campur dalam urusan pemerintahan di Tamiang, dikarenakan terjadinya perpecahan atau perang saudara antara T. Achmad dengan T. Usman di Kerajaan Bendahara, hingga mengakibatkan tewasnya Raja Usman pada tahun 1864, istri & puteranya T Sulung lari ke Langkat meminta bantuan kepada Tengku Musa ( Pangeran Langkat ). Sejak kejadian tersebut, Belanda mulai berkuasa di Sumatera Timur ( disebabkan mulai terpecahnya kerajaan-kerajaan di Tamiang) dan adanya hubungan T Sulung Laut degan Langkat, maka Negeri Seruway yang selama ini menjadi bagian dari Kerajaan Bendahara ingin menjadi bagian dari kerajaan Langkat.
Langkat yang semula merupakan bagian dari Kerajaan Siak telah memutuskan diri dari kerajaan tersebut dan Belanda menetapkan Langkat menjadi sebuah kesultanan, maka Langkat di jadikan Belanda sebagai pintu gerbang agar dapat masuk dan mencampuri urusan pemerintahan di bumi Tamiang secara bertahap.
Peristiwa ini sungguh mengecewakan raja-raja di Tamiang, akan tetapi T. Sulung Laut tidak menyadari, sebenarnya dia telah di jadikan umpan oleh Sultan Langkat untuk kepentingan ekspansi kolonial Belanda. Hasil kesepakatan yang di lakukan semua raja Tamiang, memutuskan hubungan dengan T. Sulung. Raja-raja Tamiang juga menghubungi Teuku Itam yang pada masa itu menjadi wakil Sultan Aceh, agar dapat hadir dalam pertemuan di pulau Kampai guna membahas kapal-kapal perang Belanda yang dengan leluasa melalui perairan laut Tamiang dan teluk Haru serta menangkap kapal-kapal tongkang milik nelayan pribumi pada saat itu melakukan pelayaran perdagangan ke Malaka dan Penang ( malaysia ).
Tindakan belanda sudah sangat melampaui batas, melalui T. Sulung dan Sultan Langkat, Belanda dan raja-raja Tamiang mengadakan pertemuan di atas kapal perang Belanda. Dalam pertemuan tersebut di putuskan bahwa belanda tidak mencampuri urusan dalam negeri kerajaan – kerajaan yg ada di Tamiang, akan tetapi Belanda meminta kepada raja-raja Tamiang untuk untuk menyetujui beberapa kata sepakat antara lain :
1. Mengakui T. Sulung Laut sebagai Raja Seruway dan bergabung dengan Kesultanan Langkat dan         terpisah dari Kerajaan Bendahara.
2. Kerajaan Bendahara harus bertanggung jawab atas kematian T. Usman.
3. Raja-Raja Karang wajib membayar pajak kepada Belanda atas perdangan luar negeri (ekspor )
Kerjasama yang di tawarkan Belanda kepada raja- raja Tamiang di tolak dgn tegas oleh raja-raja Tamiang, maka pertemuan tersebut tidak mencapai kata sepakat, Raja Bendahara ( T. Achmad ) bersama Raja Muda Wakil dari Sungai Iyu tetap melakukan perniagaan dengan kerajaan tetanga ( Malaysia ) dan sering terjadi bentrokan dengan tentara patroli Belanda di perairan Tamiang. Untuk kedua kalinya pertemuan dengan raja- raja Tamiang di lakukan, kali ini pertemuan di adakan di pulau Kampai. Wakil dari Kerajaan Karang Raja Ben Raja, wakil dari Kejuruan Muda Raja Nyak Cut, hasil kesepakatan dari pertemuan tersebut adalah :
1. Raja Tamiang Hulu dan Raja Karang mengakui t sulung laut Bergelar Sultan Muda Indera Kesuma       II sebagai Raja Tamiang Hilir/ Seruway
2. Raja-raja Tamiang bekerjasama dengan belanda hanya dalam urusan dagang
Raja Bendahara menolak kata kesepakatan, maka situasi di perairan tamiang kurang kondusif dan belanda meningkatkan patrolinya di perairan tersebut. Dalam rangka perang melawan Aceh, Belanda juga memutuskan melakukan penyerangan ke daerah Karang, Kejuruan Muda dan Bendahara, dengan mengharapkan bantuan dari Sultan Muda Seruway. Maka pada tahun 1874, peperangan di Tamiang mulai terjadi. pada bulan januari 1874, pemerintah Belanda memilih seruway sebagai Controleur yang mewakili Belanda dan menyatakan seruway masuk ke Sumatera Timur (Deli)
Controleur tersebut ialah “Neuman” di bawah Asisten Resident Van Deli. Belanda mulai membangun benteng-benteng pertahanan. melihat situasi seperti ini, Raja Karang dan Bendahara mulai meminta bantuan dari Lamnga dan Peurelauk jika Belanda melakukan penyerangan. Pada bulan Desember 1878 secara mendadak Laskar Tamiang melakukan penyerangan dan menewaskan 14 orang serta 5 orang luka-luka dari pihak tentara belanda di bukit selamat.dari peristiwa ini belanda memperkuat pasukannya dan aktif melakukan patroli, tetapi Belanda belum mampu melewati sungai Tamiang untuk dapat mendarat di bagian utaranya.
Pada tanggal 8 Desember 1885 Laskar Tamiang melakukan penyerangan ulang di seruway. penyerangan kantor pabean Belanda di pulau Kampai dan pos Belanda di salah haji. belanda segera mengerahkan personilnya sebanyak 42 Opsir,1 pasukan Brigade atas 3 orang personil dan 121 serdadu bumi putera. terjadi peperangan yang sangat dasyat, laskar tamiang maju tanpa takut, karena telah mendapat dukungan dari aceh yaitu kedatangan panglima nyak makam dari lam-nga. belanda menambah pasukannya sebanyak 200 personil serta senjata lengkap.sebuah stombargs milik militer belanda di tembaki oleh laskar tamiang di seruway, rumah penduduk yg selama ini membantu belanda juga di bakar oleh laskar tamiang,3 sekoci yang berisi serdadu belanda yang akan mendarat di seruway dari kapal HM Sindoro di Rantau Pakam di tenggelamkan dan semua personil tewas tak luput juga rumah kapten cina Seruway ( Lie Sen Se ) di bakar Laskar Tamiang.
Melihat situasi Belanda telah memperkuat pasukannya di seruway dan Kuala Tamiang, pada tanggal 16 november 1889 Raja Silang memutuskan perdagangan dan menyatakan angkat senjata melawan Belanda. Raja Umar adik dari Raja Silang yang beribu orang Gayo meminta bantuan pasukan dari Gayo ( pinding & lokop ) bersama dengan raja silang melawan Belanda. pada tanggal 13 febuari 1893 puluhan sekoci Belanda mendarat di seruway beserta team kesehatan dan senjata lengkap. pada hari jumat pagi, tanggal 13-2-1925, telah berpulang kerahmatullah di kota Tanjung Karang, Paduka Tengku Raja Silang bergelar Kejuruan Karang

TEUKU MUHAMMAD DAUD CUMBOK,.

Teuku Muhammad Daud Cumbok


Dia sangat berani, kalau tidak boleh dibilang nekat dan sembrono," kata Reid, Direktur Asia Research Institute (ARI), Singapura. Di tengah-tengah suasana gandrung kemerdekaan, Daud Cumbok malah gembar-gembor Indonesia belum siap merdek. Desember 1945, pemerintah pusat memaklumkan Teuku Daud Cumbok pengkhianat Republik dan harus dihukum. Daud cumbok menyangkal semua tuduhan pemerintah RI tersebut.
Alasan alasan terjadi nya perang cumbok tersebut adalah;  T Cumbok memprakarsai perang karena uleebalang saat itu menginginkan Status Quo sebagai Landlord dan elit politik ingin mempertahankan "kekuasaannya" terlebih banyak Uleebalang (Teuku) merupakan 'gelar pemerintahan militer Hindia Belanda' sebagai penguasa lokal / administratif (politik Belanda untuk memecah struktur masyarakat di Aceh atas anjuran Snouck Hargrunje) yang disuplai sebelumnya (persenjataan dan legitimasi) oleh Belanda sehingga khawatir apabila NKRI merdeka , peranan dan kepentingan sosial politik dan kekuasaannya menjadi terganggu; atau
 T. Cumbok tidak setuju atas bergabungnya Aceh kepada NKRI, yang sewaktu itu didukung PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang didukung penuh oleh Tgk Daud Beureueh
Pada 10 Januari 1946, ribuan rakyat, ulama, dan tentara Angkatan Perang Indonesia (API)-sebagian komandannya kaum ningrat menyerang markas Cumbok di Lam Meulo. Tiga hari pertempuran sengit berlangsung. Senapan, meriam saling berbalas. Hari ke-empat, mereka kabur ke hutan. Pertempuran resmi berakhir 17 Januari 1946. Nama Lam Meulo diganti menjadi "Kota Bakti" guna menghormati ratusan orang yang gugur di sana.
Tapi, kemarahan massa tak lekas reda, revolusi sosial meletup. Rumah indah milik Teuku Oemar Keumangan beserta seluruh isinya-senilai Rp 12 juta saat itu-dibakar habis. Tapi Teuku Ahmad Jeunib, yang jelas-jelas menyatakan setia pada Republik-tidak luput dari pembantaian. Para korban termasuk orang tua dan anak-anak uleebalang yang tak berdosa.
Pada 10 Januari 1946, Pidie dikepung dari berbagai penjuru. Perang besar-besaran antara kedua kubu tak lagi terhindarkan. Dengan dukungan yang besar, hanya dalam tiga hari, pasukan ulama berhasil menguasai Pidie. Daud Cumbok pun berhasil ditangkap pada 16 Januari 1946 di kaki Gunung Seulawah

TEUKU MUHAMMAD JOHAN ALAMSYAH AMPON CHIK PEUSANGAN


Teuku Muhammad Johan Alamsyah dan  Gen.Swart
Setelah menamatkan pendidikan di kuta raja atas bimbingan guru muhammad djam Teuku Muhammad Djohan Alamsjah serta kawan dan pengawalnya yang setia diantar kembali ke Nanggroe Peusangan. Jenderal van Heutz menganggap uleebalang muda Aceh ini sudah cukup berhasil dijinakkannya. Kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dipercayakan kembali jabatan uleebalang Peusangan yang dipangkunya sesuai sarakata Sultan Aceh. Dalam pelaksanaan tugasnya uleebalang muda ini dibimbing oleh pamannya, Teuku Djeumpa. Pada hakekatnya pamannya inilah yang bertindak selaku uleebalang Nanggroe Peusangan.
Teuku Djeumpa dengan cermat mulai memutar roda pemerintahan Nanggroe Peusangan sepeninggal Teuku Tjhik Sjamaun. Kepada kemenakannya, Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah, dijelaskannya posisi Peusangan dalam peta politik terbaru tanah Aceh. Walaupun dikemas dalam untaian kata-kata yang indah, bahwa Kerajaan Belanda bersahabat dengan Nanggroe Peusangan melalui Korte Verklaaring, tak berarti Nanggroe Peusangan masih berkedaulatan penuh seperti yang tercantum dalam surat sarakata Cap Sikureung Sultan Aceh. Secara militer, Nanggroe Peusangan sudah terkalahkan oleh Kerajaan Belanda. Teuku Djeumpa juga menjelaskan kepada Teuku Djohan Alamsjah, kekalahan nanggroe–nanggroe uleebalang lain di tanah Aceh hanya tinggal menunggu waktu saja. Perlawanan secara terbuka terhadap Belanda akan mengorbankan seluruh rakyat Peusangan baik harta maupu nyawa, dan cara ini harus dihindari.
Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah yang masih belia itu, duduk terpukau merenungkan posisi Negara Aceh yang lemah berhadapan dengan Belanda. Uleebalang muda bersama pamannya yang bijak itu berkesimpulan, tak ada jalan lain menghabisi Belanda kecuali melalui pendekatan diplomatis. Maka, uleebalang muda itu bertekad akan menghabisi Belanda dengan ilmu Belanda itu sendiri. Dalam perjalanan sejarah Aceh tercatat, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah terkenal selalu bersikap lemah-lembut dan lugas terhadap siapapun, baik terhadap Belanda sebagai musuh maupun terhadap rakyat Peusangan yang dibelanya.

Hingga akhir hayatnya, rakyat Peusangan menganggap Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah sebagai bapaknya, tempatnya berlindung. Sebaliknya Belanda, sebagai musuhnya, menganggap uleebalang Peusangan ini sebagai sahabatnya. Sebagai uleebalang di dalam surat “Cap Sikureung” ditegaskan bahwa Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dengan pangkat Kejreuen berhak mengambil hasil dari laut, darat, dan hutan di wilayah Nanggroe Peusangan

TEUKU MUDA DAWOT ULEE BALANG SEULIMEUM XXII MUKIM


Teuku Moeda Dawud
Awal bulan Juli 1896 kawasan XXII Mukim, tempat dimana Sultan Muhammad Daud Syah berada mendapat serangan besar-besaran dari pihak Belanda. Penyerangan ini memaksa Sultan Aceh mengundurkan diri ke Pedalaman Seulimeum pada tanggal 29 Juli 1896 Panglima Polim-dan penasihatnya T. Moeda Ali bin T. Ayer-Alang, para Imam Gle jueng dan Tanah-Abe, selain T Musa Anak-Bate,  Brahim-Montassik T. dan T. Moeda-Daud membuatpertahanan. sementara sultan ke Padang-Tidji di VII Moekims Pedir ikut serta T. Mahmood Tjoet-Lam-Tengah, dengan anak-anak Toekoe Moeda-Baid dan T. Rajoet, berada di pegunungan barat pada Gle-Moenda
Pihak Belanda dengan kekuatan 1,5 batalion infantri kemudian menyerang kawasan Seulimeum setelah mengetahui keberadaan Sultan Aceh di sana. Mendapatkan penyerangan itu, pada bulan September Sultan hijrah ke Pidie. Bersamaan dengan menyingkirnya Sultan Muhammad Daud Syah ke Pidie, maka demi menegakkan hak, martabat dan harga diri rakyat Aceh, Panglima Polem bersama pasukannya langsung menuju ke pegunungan XXII Mukim. Mereka berusaha memperkuat benteng pertahanan di wilayah itu.

Sejak awal September hingga akhir bulan Oktober 1896 Belanda rnenyerang XXII Mukim. Belanda dapat mendesak dan menghancurkan kubu-kubu pertahanan Aceh, hingga mereka berhasil menduduki Jantho. Menghadapi kenyataan itu Panglima Polem bersama pasukannya mulai membuat perhitungan dengan pasukan Belanda, terutama dengan cara bergrilya sambil mendirikan kubu-kubu pertahanan di pegunungan Seulimeum, seperti di Gle Yeueng. Dari sini Panglima Polem berhasil menduduki Kuta Ba’Teue  (Adi Fa )

Selasa, 07 Oktober 2014

ALMANAK/PENANGGALANpenangglan atjeh BANGSA ATJEH

penanggalan atjeh

Menurut Snouck Hurgronje dalam bukunya “The Atjeher” Snouck menyatakan bahwa keunong diawali dengan keunong dua ploh lhee (23 Jumadil Akhir, menurut tahun Hijriah). Pada keunong ini, biasanya padi-padi di sawah mulai menguning, banyak yang rebah dan menjadi puso karena angin timur yang sangat kencang
Dalam membagi bulan, musim dan iklim, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu mempunyai penanggalan tersendiri, yang disebut dengan keunong atau keuneunon

keunoeng dua ploh sa (21 Ra’jab). Pada musim ini biasanya padi di sawah mulai panen, atau khanduri blang (kenduri turun ke sawah) untuk memulai penyemaian benih. Dekade ini sering juga disebut sebagai musem luah blang dalam artian sawah-sawah sudah selesai panen
keunong sikureung blah, biasanya keadaan iklimnya hampir sama dengan keunong dua ploh sa. Para petani mulai turun ke sawah.
keunong tujoh blah, pada dekade ini awal bertiupnya angin barat. Mengawali musim ini, para nelayan biasanya mengadakan khanduri laot (kenduri turun ke laut) karena pada musim barat ombak tidak besar.
keunong limong blah. Pada musim ini sawah-sawah sudah siap digarap dan siap tanam dan di laut mulai ada badai. Pada pertengahan bulan Zulkaidah akan beralih ke keunoeng lhee blah, berlanjut ke keunong siblah dan terus ke keunong sikureung. Suatu hal yang sangat ganjil, mungkin juga fenomena alam, keunong sikureung ini menurut masyarakat pedesan, ditandai dengan banyaknya keureungkong (ketam darat) yang keluar dari lubangnya (keureungkong woe), entah sejauh mana korelasi antara keunong sikureung ini dengan keureungkong woe, tapi yang jelas pada dekade ini, suhu sangat panas.
Keunong tujoh lain lagi, pada dekade ini, ditandai dengan banyaknya anjing yang menggonggong di malam hari. Karena biasanya jatuh pada bulan Safar, pada keunong tujoh biasanya tidak diadakan acara-acara pesta pernikahan, khitanan dan lain sebagainya, karena dianggap bulan yang naas. pada akhir bulan ini masyarakat biasanya manoe rabu abeh.
keunong limong, ditandai dengan mulai bertiupnya angin timur dan para nelayan mulai melaut kembali. Terus beralih ke keunong lhee. Terakhir keunong sa, pada musim ini, hujan sangat lebat dan cangguek poe (katak) akan bersuara di setiap kubangan.
Keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung rata-rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba.

Selain keunong ada juga penanggalan Aceh yang berdasarkan tahun Hijriah. Bisa dikatakan penanggalan ini adalah penanggalan Arab yang di-Aceh-kan, yaitu; Bulan Muharram, menurut penanggalan Arab dalam penaggalan Aceh disebut Asan-Usen, hal ini diambil dari nama cucu nabi Hasan dan Husen. Bulan Safar menurut tahun Hijriah di Aceh disebut Safa. Bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Aceh disebut buleun Molot, diambil dari kata maulud yakni memperingati hari lahirnya nabi Muhammad. SAW
Rabiul Akhir, dalam bahasa Aceh disebut adoe molot atau rabi’oy akhe.

Jumadil Awal dalam penanggalan Aceh disebut molot seuneulheuh.
Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriah, dalam bahasa Aceh disebut buleun khanduri boh kayee yaitu kenduri atau persembahan buah-buahan secara keagamaan. Bulan Rajab tahun Hijriah, dalam penanggalan Aceh disebut buleun khanduri apam, yaitu bulan kenduri kue apam. Bulan Sya’ban disebut buleun khanduri bu (kenduri nasi,

Bulan Ramadhan, dalam bahasa Aceh disebut langsung buleun puasa, karena pada bulan inilah puasa diperintahkan. Bulan Syawal, disebut uroe raya, karena pada awal bulan inilah perayaan hari raya idul fitri dilaksanakan. Selanjutnya bulan Zulkaidah, dalam bahasa Aceh disebut sebagai buleun meuapet.seuneleuh adalah bulan haji
berikut nama nama bulan dalam bahasa aceh:
1.Asan-Usen (nama untuk memperingati
Hasan dan Husein pada tanggal 10 Muharram)

2. Sapha
3. Mo'lot (dari Maulud: memperingati hari lahir Muhammad. Ada kalanya disebut: Rabi'öy away).
4. Adoë mo'lot (yaitu adik lelaki Mo'lot, sebab lahirnya Nabi juga diperingati
dalam bulan ini. Ada kalanya disebut: Rabi'öy akhe)

5.Mo'löt Seuneulheiïh (yakni akhir Mo'lot, sebab bulan inipun masih dipakai
untuk memperingati lahirnya Muhammad. Kaum wanita sebagai pemelihara
segala sesuatu yang lama atau kuno di Aceh, menamakan pula bulan ini
Madika phön, berarti "yang pertama
bebas": asal-usulnya tidak jelas .Adakalanya disebut: Jamadoaway

6. Kanduri boh kayeë (yakni kanduri atau persem
penanggalan atjeh
bahan buah-buah secara keagamaan.( Madika Seuneuheuëh) yaitu Jamadi akhe
7.Kanduri Apam ('kanduri kueh apam', juga Rajab atau Ra'ja
8.Kanduri Bu (kanduri nasi', juga disebut Sya'ban
9.Puasa atau Ramalan 
10. Syawwal Uroë Raya (bulan perayaan) atau Syaway
11.Meu'apet (terjepit/terhimpit, terkurung atau Dul ka'idah
12.buleun haji atau dulhijah.

Adapun nama nama hari dalam bahasa aceh adalah;
Aleuhat= Minggu
Seunayan= Senin
Seulasa= Selasa
Rabu- Rabu
Hameh =Kemis
Jeumeu'ah= Jum'at
Sabtu=sabtu(almanak aceh col tropen musium

Kamis, 25 September 2014

KISAH DIBALIK DIBUANGNYA SULTAN

Pada 6 Januari 1903, sultan mengirim surat kepada Van Heutsz bahwa ia bersedia tunduk pada tekanan Van Heutsz meminta anak dan keluarganya tidak diganggu. Van Heutsz sangat gembira mendapat surat dari Sultan dan Muhammad Daudsyah. Diperintahkanlah Van Der Maaten menjemput sultan di Sigli dan dibawa ke Kuta Raja. Sultan terkejut setelah bertemu istri-istri dan anaknya, Tuanku Raja Ibrahim, bahwa kondisinya sehat dan dalam keadaan baik .
Rabu tanggal 21 Agustus 1907 Vaan daalen sibuk dengan pelaksanaan rencana penangkapan Sultan aceh Tuanku Muhammad dausyah yang telah menyerahkan diri kepada Belanda.Melalui sebuah jebakkan yang sudah direncanakan melalui Sultan tidak akan merasa curiga sedikit pun. Secepatnya Rijckmans menyanggup, terlaksananya perintah ini, lalu Van Daalen memerintahkan asisten  Belanda untuk Banda aceh L JF Richjkmans.pembesar sipil bawahan ini diperintahkan untuk mengundang sultan pagi harinya kekantor  asisten residen. Perintah itu diingini oleh van Daalen agar dijalankan sedemikian hati-hatinya sehingga kepada bawahan supaya menyampaikan instruksi kepada komanda meliter kota kuta raja Letnan Kolonel R G Doorman agar menyiapkan dua brigade morsese yang dipimpin oleh seorang Letnan dan berbaris menunggu di depan kantor komandan.Van Daalen berbohong dengan mengatakan bahwa atase militer Jepang Mayor Inouye akan di perkenalkan kepada korp morsase

Mayor Inouye melalkukan kunjungan muhibbah nya dari padang pada tanggal 19 agustus dan menginap dihotel aceh.Tidak seorang pun curiga atas tipu daya Van Daalen bahkan dari kalangan Belanda sendiri.karena memang Mayor Inouye sudah berada diaceh. Diperintahkan oleh van Daalen supaya persis pada jam 9 pagi besoknya, Doorman harus sudah melapor dengan telepon kepada van Daalen bahwa instruksi menyiap sediakan dua brigade pasukansudah dijalankan. van Daalen memerintahkan Doorman supaya datang ke tempat kediamannya.Ketika Doorman tiba di depan rumah van Daalen, sudah siap berbaris seluruh komandan pasukan yang berada di Kutaraja, dalam keadaan siap untuk "diperkenalkan" dengan mayor Inouye.

Tapi berlainan dari apa yang sudah disebutkan kepada Doorman kemarennya, van Daalen pun memerintahkan Doorman supaya membawa pasukannya untuk menangkap sultan, yang ketika itu sepanjang kata van Daalen sedang berada di kantor asisten residen. Sebuah kereta api ekstra sudah diperintahkan  olehvanDaalen supaya disediakan menunggu padawaktunya di stasiun, ke mana Doorman haru membawa sultanselanjutnya dengan kereta api itu (tanpa singgah di halte Uleulhue) langsung ke pelabuhan.

Di sana sudah menunggu stoombargas yang akan membawa Doorman dan orang yang ditangkapnya(sultan) naik ke kapal. Sebab kenapa sultan harus ditangkap tidak diberitahukan kepada Doorman. Menurut kisah Doorman sendiri yang menulis peristiwa ini dalam suatu majalah Belanda kepadanya diserahkan pula sepucuk surat penangkapan ("bevel tot arrestatie"). Ketika mana (sebagai biasa dilakukan oleh seorang
atasan militer kepada bawahannya ketika memberi instruksi) van Daalen bertanya: masih ada sesuatu yang hendak kau Tanya.

            Doorman pun membawa pasukannya ke kantor asisten residenRijckmans. Sambil mengepung kantor itu diperintahkannya letnanJ.E. Scheffers supaya masuk dengan sebagian pasukan dengan pedang terhunus menyerbu ke kamar langsung ke dekat meja dimana asisten residen duduk dan sedang bercakap-cakap di depannya sultan Aceh, Tuanku Muhammad Dawot. pembantunya Scheffers telah menyerahkan surat, tangkap dan diperintahkannya supaya sultan jangan melawan. Sultan terkejut karena sama sekali tidak menyangka akan terjadi perbuatan sekhianat dan sepengecut itu atas dirinya Setelah dibacakan surat tangkapan atas dirinya, dia pun berteriak keras: "Saya tidak bersalah, tidak mau ditangkap Sultan melawan ketika hendak ditangkap
tapi Scheffers segera mengancam dan menyuruh supaya sultan meletakkan kerisnya ke atas meja. Dia dikepung dan ditodong dengan bajonet terhunus lalu didorong terus keluar, di tengah tengah teriakan sultan yang terus mengatakan tidak mau ikut.Doorman mengancam akan menembak sultan jika tidak menurut dan melawan terus menerus.dlama keadaan diancam sultan berhasil dinaikan kedalam kereta api.lalu berangkat menuju ke pelabuhan ole lheu.Sultan didudukan di dalam coupe kelas satu ,tapi beliau menolak,karena beliau hanya seorang kecil yang bukan lagi Sultan,dan beliau memilih duduk dikelas ekonomi. setelah kereta-api tiba di pelabuhan, sultan dipaksamasuk bargas untuk naik ke kapal gubernemen "Java". Setiba di sana dia menolak untuk masuk ke kamar yang ditunjuk padanya sebelum keluarganya naik ke kapal. Doorman menyatakan bahwa keluarganya dan rombongannya akan turut serta menemani sultan.
Jakarta .Pukul 12 istri bersama rombongan serta barang barang diangkut dari kediaman sultan.dan kapal pun berlayar menuju Batavia.di dalam kapal tersebut sudah ada Teuku johan dan Teuku Husin dan empat orang anak nya.mareka mengalami nasib seperti sultan.tiba di Jakarta sultan dan rombongan nya tdk di perlalkukan secara terhormat sebagai Sultan,tapi diperlalkukan sebagai seorang tahanan.

            Pada tanggal 30 agustus Sultan di periksa (diperbal) oleh residen Betawi J Hofland.Didepan asisten residen L.J.F Rickjmans.Yang ikut serta membawa Sultan ke Batavia bersama sekretaris H Van santwijk.dalam pemeriksaan itu ternyata Van daalen telah menyusun alas an alas an kenapa sultan harus di internirkan dan harus di singkirkan dari kutaraja.

Van Daalen menuduh Sultan melakukan kegiatan subversive.Sultan dituduh sering bertemu dengan panglimanya untuk meneruskan perjuangan anti Belanda yaitu bertemu dengan keuchik seuman dan Panglima usoih.dikatakan oleh Van daalen Sultan juga menghimpun kekuatan dengan mengadakan pertemuan di Kuala aceh di dekat rumah kepala kampong kuala keuchik Syeh. menurut tuduhan tersebut di bulan Sa'ban, ketika diadakan kenduri, sultan mengadakan perundingan di makam Teungku Musapi di Kuala Musapi. Ketika itu hadir Teuku Djohan, Teuku Meurah Lamgapong, Teuku Sjech Tjut Putu, Teuku Berahim Tigang, Teuku Daud Silang. Juga hadir isteri sultan, Potjut Di Murong, Panglima Ma Asan dan Nya' Abaih.Selanjut nyan malam berikut nya Sultan bertemu dengan seorang saudagar cina     dikuta Bum bongki,tempat dimana sultan juga bertemu dengan Keuchik seuman dan Panglima usoih.ketika itu lah Sultan memrintahkan Keuchik seuman dan pang usoih berserta pejuang pejuang untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda.disebutkan juga bahwa Sultan telah memberikan Uang sebesar 270 dollar melalui perantara  pang Asan dan si Mega kali.

Didalam pemeriksaan perbal tersebut,sultan membantah semua tuduhan dari fihak Belanda.Sultan hanya membenarkan bahwa beliau pernah ke Kuala untuk berburu.tuduhan selanjut nya didakwakan bahwa Sultan telah memungut uang dana sabil dengan perantara Teungku Mat Said dan Bung cala. Tuduhan lainnya lagi mengatakan bahwa pada suatu ketika ditahun 1906, tidak berapa lama sehabis bulan puasa sultan telah menyatakan kepada Ngah Arsjad, Keutjhi' Tjot Lamgua ucapanucapan yang membusuk-busukkan van Daalen. Antara lain menurut keterangan itu, sultan telah mengatakan bahwa van Daalen adalah seorang penjahat, karena di Gayo banyak laki-laki dan perempuan dibunuhnya. Di Pidie dan di Peusangan, demikian menurut tuduhan itu telah dikatakan oleh sultan, bahwa van Daalen telah menindas. Dikatakannya bahwa van Daalen pasti akan mengalami kesulitan. Karena van .Daalen terus membunuh kaum Muslimin maka dia kelak akan dicerca oleh dunia     luar berhubung karena dunia luar bakal mengetahuinya. Tanggal 7 September sultan mendapat kesempatan untukmengirimkan "memorie Van verdediging" kepada gubernur jenderal van Heutsz, yaitu suatu pembelaan yang rupanya ada juga dibenarkan menurut ketentuan undang-undang kolonial Belanda, tapi pada perakteknya hanya sekedar pro forma belaka.

Sultan telah mempergunakan kesempatan ini, tapi berhubungan karena dipakainya seorang pokrol Belanda untuk menyusun memorie pembelaan tersebut maka lebih banyaklah dikemukakan bagian bagian yang tujuannya merupakan kepentingan pribadi.biaya pembelaan yang sultan keluarkan sebesar tiga ratus ribu gulden dan sultan bayar dengan emas hanya sia sia.Belanda tidak menghiraukan pembelaan dari sultan. Harian Bataviaasch-Niewusblad di Jakarta yang mencoba menempatkan tajuk rencana yang berupa kecaman dalam penerbitan tanggal 20 Januari 1908, telah membanding peristiwa Tuanku Muhammad Dawot dengan peristiwa perkara Dreyfuss yang pernah terjadi di Perancis, peristiwa seorang perwira yang harus dijahanamkan
(walau pun dia tidak bersalah) demi. Kepentingan prestise tokoh-tokoh atasan.

Harian Belanda itu mengupas adanya kekuasaan istimewa bagi seorang gubernur jenderal "Hindia Belanda" yang berhak menangkap dan menahan seseorang menurut pasal 47 "regeeringsreglement", walau pun belum terdapat tindak pidana dilakukannya. Kekuasaan gubernur jenderal dimaksud demikian luasnya, karena asal saja dianggapnya membahayakan keselamatan
umum dia boleh mengasingkan seseorang. Terhadap peristiwa Tuanku Muhammad Dawot, tajuk rencana harian "Bataviaasch Hieuwsblad" tidak melihat adanya bahaya itu, tapi dikatakannya bahwa "er schijn alle reden te zijn om te nemen dat de leer "macht boven recht" wederom gehuldigd is in het drama, dat wij onbewogen in ons midden het eerste bedrijf een einde neemt. Dat drama heet: de verbanning van den pretendent sultan van Atjeh, Tuanku Muhammad Dawot, naar Amboina." ("Nampaknya "kekuasaan di atas keadilan" kembali merupakan pedoman dalam drama yang telah berlangsung secara tak kentara di tengah-tengah kita, yang babak pertamanya sedang berakhir. Drama itu ialah terbuangnya sultan Aceh ke Ambon).

Setelah penulis tajuk rencana dimaksud mengingatkan tulisan berupa kecaman dari Wekker yang mengatakan bahwa di Aceh hanya berlaku kesewenang-wenangan, lalu si penulis pun menyingkap keburukan penangkapan tersebut. Dikemukakannya bahwa menurut peraturan bahwa orang yang hendak diasingkan harus diberi kesempatan membela diri sebelum ditangkap, tapi kejadian dengan sultan tidaklah demikian.kepada sultan tdk di tunjukkan surat penagkapan.

Sultan telah ditipu dan di tangkap semena mena dengan todongan bayonet naik ke kapal unt dibawa ke Batavia. Setelah penulis tajuk rencana dimaksud mengingatkan tulisan berupa kecaman dari Wekker yang mengatakan bahwa di Acehhanya berlaku kesewenang-wenangan, lalu si penulis pun menyingkap keburukan penangkapan tersebut. Dikemukakannya bahwa menurut peraturan bahwa orang yang hendak diasingkan harus diberi kesempatan membela diri sebelum ditangkap, tapi kejadiandengan sultan tidaklah demikian. Sehubungan dengan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan, sultan menangkis yang sasarannya ditujukan kepada van Daalen dan Tuanku Mahmud.

 Sultan memungkiri bahwa dia pernah mengadakan pertemuan dengan Keutjhi' Seuman dan Pang Usoih. Keterangan dari Nia' Abaik yang mengatakan bahwa dia mengetahui pertemuan itu ternyata
merupakan keterangan yang dibikin-bikin hasil pemerasan van Daaen. Nja' Abaih mengatakan bahwa dia takut karena dipukul kalau tidak membuat keterangan. Sultan mungkir bahwa dia baik langsung maupun tidak
langsung pernah mengadakan hubungan dengan s-iapa pun juga yang menyebabkan terjadinya penyerangan Keutjhi' Seuman dan pasukannya terhadap Kutaraja tanggal 6 Maret 1907. sultan mengatakan bahwa Sultan telah menyerah kepada Belanda menurutnya karena menginsafi bahwa pribadinya yang tidak berarti itu tidaklah memungkinkan Beliau akan bisa menjalankan peranan sebagai pahlawan rakyat.

 Selama di Kutaraja sultan berselisih dengan Habib Badai, yang kawin dengan seorang janda Teuku Husin, pengikut Teuku Umar Teuku Husin pernah berhutang uang tunai kepada sultan sebanyak
$ 1000. Sesudah Teuku Husin meninggal dunia, hutang itu dibayar oleh jandanya dengan barang-barang perhiasan. Tapi ketika Habib Badai mengawini janda Husin, Habib Badai mempengaruhi isterinya supaya meminta barang-barang perhiasan itu kembali dari sultan.Menurut sultan, Tuanku Mahmudlah yang menjadi gara-gara dan mencelakakannya. Seorang puteri Tuanku Mahmud dikawini oleh sultan, kemudian diceraikannya. Perceraian ini tidak menyenangkan Tuanku Mahmud karena memalukannya. Mahmud kepada van Daalen, dengan surat bertanggal 7 Pebruari 1907, van Daalen memaksa sultan supaya merujuki jandanya. Sultan tidak mau, sebab tidak bisa dirujuki lagi, kecuali, katanya, jika pendapat para ulama membenarkan perujukan sedemikian. Karena sultan berani menentang putusan van Daalen, itulah sebabnya van Daalen
benci kepada sultan. Lalu setiap jalan digunakan oleh van Daalen untuk menyulitkan sultan, jalan mana tidak susah diperoleh bagi seorang pembesar yang berkuasa sebagai van Daalen
Tuanku Mahmud mendapat kabar dari gubernur bahwa sultan ada memperoleh tanah seluas lima bahu dari mayor van der Maaten. Tanah itu diolah oleh sultan dan untuk kepentingan ini sudah mengeluarkan ongkos sebanyak $ 2000. Tiba-tiba Potjut Meurah (isteri Tuanku Mahmud) mendakwa bahwa tanah itu miliknya, dan wakil sultan yang menyelenggarakan tanah itu dituntutnya supaya keluar. Terhadap sengketa ini van Daalen campur tangan, yaitu dipengaruhinya sultan supaya berdamai dengan Potjut Meurah. Kepada sultan dibayar ganti kerugian
sebanyak $ 900,- tapi karena jumlah itu amat sedikit, sultan tidak bersedia berdamai. Akibat van Daalen bertambah benci sultan.

Persengketaan lain dengan Potjut Meurah, ialah mengenain tanah yang telah diberikan oleh Teuku Husin di Geudong uleebalang Sigli, terletak di Ptukan Pidie. Tanah ini dapat dimiliki oleh Potjut Meurah dengan bantuan van Daalen. Itulah antara lain beberapa fakta di mana ternyata adanya gencatan van Daalen terhadap pribadi sultan  pembelaan sultan fihak Belanda baik di Jakarta maupun di Den Hague tidak mengubris tentang nasib Sultan.

Menurut cerita Dr. Snouck Hurgronje menjelang Tuanku Muhammad Dawot menyerah lebih dulu telah ditanyakan oleh sultan ini kepada mayor van der Maaten, pembesar militer yang bertugas di Sigli, apakah Belanda akan
membuangnya keluar daerah Aceh bila umpamanya dia menyerah, sebab kalau toh dia akan terbuang keluar Aceh, dia akan memilih lebih baik tidak menyerah. Sepanjang adat adalah hina rasanya kalau sampai terbuang seperti itu. Snouck mengatakan bahwa mayor van der Maaten telah menanyakan kepada gubernur vanHeutsz telah berjanji bahwa sultan tidak akan dibuang, melainkan sebaliknya dia akan diberi uang bantuan tetap setiap bulan.
Menurut pendapat Dr. Snouck karena sudah adanya perjanjian maka fihak Belanda terikat dengan perjanjian tersebut.
Harian Inggeris Strait Times di Singapura kembali menumpahkankejengkelannya kepada Belanda mengenai perang colonial di Aceh sehubungan dengan penangkapan secara pengecut atas diri Tuanku Muhammad Dawot, dalam penerbitannya bulan Agustus1907, antara lain:
“suasana di Aceh kembali menggelisahkan. Bekas sultan telah ditangkap dan dibawa ke Jakarta. Golongan yang bersahabat dari rakyat Aceh telah diperas dengan kerja paksa (rodi) dan mereka ditindas supaya memikul beban-beban berat untuk mengangkut barang-barang militer. Begitu pula mereka merasa berat terhadap penutupan pelabuhan yang tujuannya melemahkan perdagangan. Kini penguasa militer sedang berusaha menindas setiap maksud perlawanan”
Tanggal 5 September 1907, kubu Belanda di Seudu diserang lagi secara hebat oleh pihak pejuang.Ini pun membuktikan bahwa kerugian van Daalen tentangTuanku Muhammad Dawot tidaklah pada tempatnya yang tepat.
Bahwa Tuanku Muhammad Dawot mempunyai' keinginan yang terus-terusan untuk melawan Belanda, tidak perlu didustakan. Tapi bahwa dengan dia saja baru ada perlawanan, tidaklah benar adanya. Meningkatnya penyerangan-penyerangan gerilya sesudah dia dibawa ke Jakarta adalah buktinya.
Pada hari senin tanggal 6 february 1939 Sultan wafat sebagai tawanan BElanda dan di kebumikan di pemakaman Umum kemiri Rawamangun.setelah dibuang oleh Belanda sampai akhir hayat nya beliau tidak pernah menginjakkan kaki nya lagi di tanah lelulhur nya,tanah indatu,tanah Sultan iskandar Muda bumi Seuramo mekkah.


 
Saat Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah dikapal "Java" di Ulee lheu

Rabu, 17 September 2014

PERJUANGAN SULTAN ALAIDDIN MUHAMMAD DAWODSYAH


Penangkapan Sultan di stasiun kereta api Sigli 
Sultan Mahmud Syah mangkat tidak berapa hari setelah sempat istana dikosongkan oleh pejuang denganmembawa semua yang diperlukan untuk regalia (alat alat untuk melanjutkan pemerintahan) Dalam merampungkan strategi politik, para pejuang terutama yang langsung mendampingi sultan, berhasil  dengan cepat direalisi, terkhusus adalah untuk mengganti sultan yang mangkat.pilihan jatuh pada Tuanku Mohammad Dawot Syah yang masih berusia sekitar 7 tahun.  dan dipilih menjadi sultan dalam pangkuan DewanPemangku yang diketuai oleh Tuanku Hasyim.Demikianlah pimpinan dan perjuangan berjalan terus dengan lancar sebagaimana ditentukan semula oleh hukum adat dan agama sampai masa usia Tuanku Mohammad DawudSvah mencapai akil balig Tuanku M. DawudSvah ditabalkan menjadi sultan dalam  sebuah upacara yang diadaan di mesjid Indrapuri. Sultan yangmemperoleh pendidikan untük ketrampilan pemerintahan dan perang dari Tuanku Hasyim mulai aktif sejak awal dewasa itu menyelenggarakan tugas. Ketika itu berlangsung pula pengangkatan wewenang dan tanggung jawab bagi beberapa tokoh tingkat atas yang belum resmi berlangsung dalam pemerintahan kesultanan yaitu:
1. Teungku Syekh Saman Di Tiro menjadi menteri perang, ( Pada bulan Desember kopral Ambon bernama Nussy, seorang pelacak jejak yang termasyhur yang biasanya jalan mendahului brigade, disergap oleh sekelompok Muslim yang terdiri dari tiga orang. Nussy menembak dua orang di antaranya. Seorang dari mereka ini ternyata adalah orang terakhir keluarga Tiro. Namanya Cit Ma'at. Usianya lima belas tahun. Dengan kematiannya, tiga generasi Teungku Tiro diabadikan dalam Perang Aceh)  
2. Teuku Umar menjadi laksamana (wazirulbahri), dan
3. Panglima Nya' Makam menjadi panglima urusan Atjeh Timur
Semenjak Belanda memasuki Dalam   istana di awal tahun 1874, setel (kedudukan) pemerintahan telah berpindah-pindah untuk beberapa waktu dari satu tempat ke tempat lain, di mana induk pasukan menempatkan markas besarnya. Setelah konsolidasi baik semula, dipilihkan setel pemerintahan di Indrapuri (XXII Mukim). Ketika Montasik jatuh di tahun 1878 dan Habib menyeleweng terasalah bahayanya kedudukan Indrapuri. Segeralah dipilih pula setel baru. Sekali ini dipilihlah pekan Keumala dan di awal 1879 sultan, Tuanku Hasyim (bersama putranya Tuanku Raja Keumala) dan Panglima Polim (bersama putranya Teuku Raja Kuala) sudah berada di sana menggerakkan aparatur pemerintahan. Juga berada di Keumala, Teuku Paya ketua bekas Panitia Delapan di Penang dan putranya Teuku Asan, serta Iman Leung-bata dan putranya Teuku Usen.
Teuku Nanta, selain menjadi uleebalang VI Mukim juga menjadi panglima XXV Sagi.  Bulan Desember 1894 Bentara Keumangan memaksa Sultan ke luar dari Keumala, istananya dibakar.  Terpaksalah Sultan memindahkan setel pemerintahan pusat Aceh ke Rebee. Di sana ada sebuah istana tua yang dibangun oleh almarhum Sultan Iskandar Muda. Di tempat ini Sultan tidak dapat berdiam lama, dia pindah lagi ke Padang Gahan (Padang Tid- Ji), Mukim VII. Setelah berada di sini para panglima dari Sultan merasa tersinggung atas perlakuan terhadap Sultan.
 Dua di antara Panglima itu, Habib Lhong dan Teungku Pante Gelimah telah mengerahkan pasukannya sejumlah 500 prajurit, sambil mengadakan pembersihan lewat Meutareuem, Andeue dan Lala menuju Keumala, serta memulihkan kedudukan Sultan di sana Semenjak itu pengaruh Sultan bertambah baik, sampai menjelang serangan Belanda secara besar-besaran ke Keumala kemudia Pada bulan Januari 1897 diadakan musyawarah besar para pemimpin-pemimpin perang Aceh di Garot (Pidie).
Musyawarah dipimpin langsung oleh Sultan Mohammad Daud sendiri dengan didampingi oleh Panglima Polim. Teuku Umar mendapat undangan supaya turut mengambil bagian selain untuk memberi laporan hasil-hasil perang juga untuk mengatur koordinasi dan strategi perlawanan terhadap Belanda. Teuku Umar telah didiskusi lebih lanjut tentang kesungguhannya dan tentang kemampuannya meneruskan perjuangan. Dalam tahun 1900 diketahui oleh Belanda bahwa Sultan Muhammad Daud memilih tempat Samalanga untuk markas melanjutkan perlawanannya. Sebagai diketahui benteng Batu Ihe yang terletak di bukit di luar Samalanga yang telah dicoba oleh van der Heijden dan pasukannya untuk merebutnya sampai tiga kali masih tetap dikuasai oleh pihak Aceh.
Harus diakui di samping daya juang rakyat di daerah ini tidak kalah hebatnya dengan daerah lain dan benteng pertahanannya cukup kuat, maka tepat bila sultan memilih basis pertahanan di situ. Begitu diketahui oleh raja-raja pedalaman, maka raja-raja kecil berdatanganlah ke Samalanga untuk memberikan dukungan perjuangan, tidak ketinggalan dua orang raja, yaitu Aman Nya' Ara dan Penghulu Sikulon dan Serbajadi. Setelah mengetahui bahwa Sultan berada di Samalanga ia pun melancarkan serangan. Kelihatannya van Heutsz berhasil melakukan penyerangan ke Samalanga, membuat Sultan terpaksa memindahkan markas perjuangannya ke Peudada dan dari sini ke Peusangan (Pebruari 1901). Van Heutsz berhasil lagi melemahkan perlawanannya membuat Sultan harus memilih pusat pertahanan yang lebih terjamin, yaitu mudik ke Tanah Gayo1 (September 1901).
Di sini para kejuruan (raja) setempat memberikan dukungan sepenuhnya. Ketika mayor Belanda, van Daalen memimpin serangan dengan 12 brigade ke Gayo yang memakan tempo dari bulan September sampai akhir November 1901 ia tidak berhasil mematahkan perlawanan Sultan. Juga kolonel Scheepena gagal menghadapinya, Sultan kembali ke Pidi. Di Hulu Beuracan Belanda lagi-lagi tidak berhasil mematahkan perlawanannya. Christoffel berhasil menculik salah seorang istri Sultan, yaitu Pocut Putrue (26 November 1902). Dia dibawa ke Sigli dari situ ke Uleulhue. Peristiwa tersebut didahului oleh serangan pasukan kapten Belanda Kramers terhadap markas Sultan Muhammad Daud Syah di hulu Pante Raja, Pidie. Sultan lolos.
  Pada tangal 25 Desember 1902, pasukan Belanda di bawah pimpinan mayor van der Maaten melancarkan kegiatan pencari seorang lagi permaisuri Sultan, yaitu Pocut Murong di sekitar kompleks kampung Lamlo Peureula'. Belanda berhasil memergokinya. Dengan demikian Belanda sudah menyandra 2 permaisuri Sultan dan seluruh keluarganya, termasuk putera Sultan yang masih di bawah umur,  Tuanku Ibrahim. Van Heutsz mengumumkan bahwa semua keluarga yang menjadi tangkapannya itu tidak akan dibunuh seandainya Sultan sendiri datang melapor dan menyerah diri sebagai Penebusnya.  pada    tanggal 6 Januari 1903, di situlah Sultan menetapkan hati untuk mengirim surat pada van Heutsz bahwa ia bersedia menyerah, untuk mana ia menginginkan diberlakukan upacara terhormat untuknya.
Besoknya, sebuah kapal perang "Sibolga" datang menuju Sigli, di mana turut Tuanku Mahmud, bekas wali Sultan, Tuanku . Husin, Tuanku Ibrahim, puteranya, dua kepala Sagi XXV dan XXVI Mukim. Tanggal 8 Januari mereka tiba di Sigli ketika itu sudah menunggu raja Pidie, Samalanga dan Meureudu. Sultan lalu dijemput ke desa Arusan, Ie Leubeue. Sabtu 10 Januari Sultan tiba di Sigli, disambut oleh mayor van der Maaten dan para perwiranya. Tanggal 13 Januari Sultan, Pocut Murong, Tuanku Ibrahim dan anggota rombongan sebanyak 175 orang dibawa ke kapal perang "Sumbawa" menuju Uleulhue. Dari sini ia naik kereta api menuju Kutaraja (Banda Aceh).
Turun dari situ menuju Kampung Keudah, untuk mendiami sebuah rumah yang sudah disediakan lebih dulu. Pada tanggal 15 januari berlangsung uparaca penyerahan Sultan Tuanku Muhammad Daud Syah, yang oleh Belanda sejak awal hanya disebut berstatus "pretendent" ini telah diminta supaya menandatangani suatu pengakuan yang sudah disiapkan lebih dulu dalam mana disebut bahwa Aceh adalah menjadi bagian Hindia Belanda, dan ia berada dalam pengawalan gubernur van Heutsz.  Dikatakan bahwa sejak itu Tuanku disebut beroleh tunjangan f. 1000.- sebulan. ; Ditetapkan oleh gubernur bahwa putera Sultan, Tuanku Ibrahim yang usianya 14 tahun sudah, dibawa ke Jakarta, sebuah kalimat dari kapten artileri Belanda yang turut berperang di Aceh sejak awal, yaitu G.F.W. Borel, dalam bukunya yang menghantam kebijaksanaan komandan tertingginya masa mereka menyerang itu, jenderal van Swieten.3Katanya: "De ondervinding heeft bovendien bewezen, dat Atjeh geen Sultan noodig had om zich kractig tegen ons te blijven verzetten." ("Pengalaman telah membuktikan bahwa Aceh tidak membutuhkan Sultan untuk terus segigih-gigihnya menentang kita, Mayor J.B. van Heutsz, bekas kepala staf Jenderal Van Teijn di Aceh.
Pada tahun 18 92 dia menulis dua buah artikel dalam Indisch Militair Tijdschrift, yang kemudian terbit sebagai brosur dengan judul De onderwerping van Atjeh (Penaklukan Aceh). Semboyan yang mereka gunakan adalah: "Perang Aceh menggerogoti tanah jajahan kita dan harus berakhir. Marilah akhirnya kita tunjukkan kepada dunia yang beradab bahwa kita mampu melakukannya."  Pada tanggal 10 Februari 1903 Sultan menyerah. Pada tanggal 6 Desember tahun itu juga dia diikuti oleh Panglima Polim. Dari kedua mereka ini mulamula istri dan anggota-anggota keluarga lainnya yang ditahan. Polim lapor diri tertulis pada penguasa Lhok Seumawe di Pase, Kapten H. Colijn. Dia diberi ampun dan dipulihkan jabatannya yang turun-temurun menjadi Panglima Sagi Mukim XXII. Tugasnya diselesaikannya dengan memuaskan hati Pemerintah Belanda.
Pada tahun-tahun berikutnya dia memperoleh bintang kesatriaOranye Nassau Orde maupun Bintang Jasa Mas Besar, yang merupakan pemberian tanda jasa di Hindia. Ketika ia meninggal pada dalam tahun 1940, pada mulanya Pemerintah Hindia merasa ragu-ragu mengangkat putranya sebagai penggantinya. Tidak lama kemudian ternyata bahwa keraguan sikap Belanda itu tepat. Panglima Polim yang ketiga dari Perang Aceh ini pada tahun 1942 adalah juga yang ketiga dari wangsanya, yang memimpin suatu pemberontakan anti-Belanda. Sepuluh Tahun yang Berdarah bagi Aceh. Jumlah yang tewas di pihak Belanda, 508, tidak banyak naiknya di atas rata-rata seluruh perang. Tetapi dari tahun 1899 sampai 1909, 21.865 orang Aceh yang terbunuh, yaitu hampir empat persen dari penduduk.
Angka-angka ini resmi. Van Heutsz adalah gubernur pertama yang menyuruh memuat kerugian pihak Aceh. Pada tahun 1907 pada konsul jenderal Belanda di kota ini disampaikan surat-surat yang konon ditulis oleh Muhammad Daud kepada kaisar Jepang. Untuk hubungan ini, digunakan seorang Inggris sebagai perantara di Singapura, bernama Ghouse, yang sebelum tahun 1903 sudah bertindak sebagai agen rahasia Sultan. Snouck Hurgronje dilibatkan sebagai penasihat menteri di Negeri Belanda pada penyelidikan ini.
Pendapatnya (dalam sebuah nota tertanggal 4 Mei 1908) adalah bahwa surat-surat ini pada hakikatnya tidak lebih artinya daripada upaya-upaya semacam dulu terhadap Turki - dalam hal ini berkalikali sultan diperdayakan oleh penipu-penipu68 - Van der Maaten pun menganggap surat-surat ini sebagai kerja penipu-penipu dan tukang-tukang provokasi  kehadiran Muhammad Daud di Kutaraja merupakan sumber keresahan. Gerakan perlawanan tetap berhubungan dengan dia. Dia sendiri menaruh banyak harapan berdasarkan perlakuan yang diterimanya selama Van Heutsz. Gubernur Van Daalen yang curiga dan bersikap keras terhadap kaum hulubalang menganggap Sultan sebagai awal semua kesulitan.
 Berdasarkan 'pengkhianatan terhadap negara' —  yaitu adanya surat-surat ke Jepang — disuruhnya menangkap Sultan padatahun 1907 dan membuangnya ke Jawa. Sultan meninggal di sini pada tahun1937. Sama sekali tidak ditempuh jalan pengadilan, bahkan pemeriksaan yangagak mendalam tentang surat-surat ke Jepang pun tidak dilakukan. Tentang ini Snouck Hurgronje baru setahun kemudian dapat melaporkannya