Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Minggu, 15 Maret 2015

KOELI JAWA DAN MARSOSE


Untuk membantu serangan ke Aceh, ratusan pekerja paksa dikirim dari Jawa. Belanda menyebutnya beer atau beeren. Orang Aceh menyebutnya Simeuranté. Orang-orang yang dirantai.
Di kota-kota terpenting di Jawa dibentuk depot narapidana kerja paksa. 
Gubernur Jenderal memberi kuasa bagi semua bangunan pekerjaan umum, yang 
hingga sekarang ini dikerjakan dengan bantuan tenaga narapidana, untuk 
mengambil kuli-kuli lepas. Siapa yang bernasib sial bagi narapidana pada 
Perang Aceh mendapat hukum-an tambahan untuk melakukan kerja paksa di luar daerah tempat tinggalnya, tinggal mati sajalah. Besa r sekali kebutuhan 
pengangkutan tenaga manusia. Kecuali jalan dari kota pelabuhan Olehleh ke Kutaraja, yang mempunyai jalan trem kecil, semua pengangkutan harus 
dilakukan oleh tukang pikul. Baik tenaga pasukan maupun tenaga narapidana kerja paksa Jawa tid ak dapat terus-menerus mengantar penyediaa yang di-serap oleh Aceh.

rang hukuman dari Pulau Jawa yang dibawa ke Aceh, tidak hanya menderita karena kerja paksa dan kelaparan. Sebagian ada yang meninggal karena dicambuk karena ketahuan mencuri.
H C Zentgraaff, manggambarkan penderitaan pekerja paksa tersebut, yang sehari-hari dipanggil dengan nama binatang; si babi lanang. Sebagian besar pekerja paksa pada kelompok ini mati secara mengenaskan di rimba-rimba Aceh. Mayat mereka pun dibiarkan tergeletak begitu saja di jurang-jurang bebatuan, menjadi santapan binatang buas.
Tahun 1876, akhir Perang Aceh kedua ini, memecah-kan semua rekor. Kekuatan 
pasukan Belanda di Aceh rata-rata terdiri dari tiga ribu pasukan Eropa, 
lima ribu pasukan pribumi, dan 180 orang pasukan Afrika. Sebagai 
tukang-pikul dan pekerja diturut-sertakan t iga ribu narapidana, dan lima 
ratus orang kuli lepas. Pada tahun itu meninggal dunia 1.400 orang anggota militer dan 1.500 orang narapidana kerja paksa. Karena sakit atau luka tidak kurang dari 7.599 orang militer harus diungsikan ke Padang atau 
Jawa.

Menurut Zentgraaff mereka yang dicambuk itu biasanya para beer yang kedapatan mencuri makanan atau barang-barang milik Belanda. Kadang-kadang mereka juga mencuri senjata untuk dijual kepada pejuang Aceh. “Penipu-penipu yang tak dapat dipercaya ini terdapat pula dalam pasukan, serta tidak dapat meninggalkan kebiasaan merampok dan mencuri,” lanjutnya.
Diantara beer-beer itu terdapat pula cukup banyak orang –orang pemberani, yang seringkali mendapat perintah–perintah berbahaya. Saat Belanda menerapkan taktik perbentengan terpusat untuk melawan pejuang Aceh, saban pagi para pekerja paksa itu menyusuri rel trem untuk memeriksa ganjalan-ganjalan rel dan memperbaiki sekrup yang longgar.
Hal itu harus mereka lakukan karena pasukan Aceh pernah sering meletakkan bahan peladak di rel trem, yang bila tersentuh roda tren akan meledak dan menyebabkan kematian di pihak Belanda. Bahan-bahan peledak itu didapatkan pejuang Aceh dari serdadu-serdadu Eropa bayaran Belanda yang menyebrang ke pejuang Aceh.
Untuk membersihkan ranjau-ranjau dan bahan peledak di rel trem, setiap malam para beer harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering kali mereka juga harus mengantarkan surat-surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasi gerilyawan Aceh.
Pembentukan pertama korps ini terdiri dari satu divisi yang terbagi dalam dua belas brigade, yang masing-mssing terdiri dari dua puluh orang serdadu Ambon dan Jawa dibawah pimpinan seorang sersan Eropa dan seorang kopral Indonesia. Pada iahun 1897 menyusul perluasan sampai dua divisi dan pada tahun 1899 sampai lima divisi; semuanya berjumlah seribu dua ratus orang. Kemudian ada lagi beberapa kompi yang berasal dari Jawa; dan pasukan inilah yang kemudian terkenal dengan pasukan Marsose.
Dalam kisah-kisah romantis perang Aceh biasanya digambarkan bahwa seakan-akan 1200 orang Marsose inilah yang membereskan apa yang tidak dapat dilakukan oleh bala tentara yang sepuluh kali lebih besar dulu. Ini tidak benar! Secara kekuatan efektif, kekuatan pasukan Belanda seluruhnya di Aceh di bawah van Heutsz lebih besar daripada kekuatan–kekuatan sebelumnya.
Di bawah pimpinan beberapa orang perwira telah dilakukan kekejaman-kekejaman yang tidak terlukiskan dengan pasukan-pasukan teror oleh brigade-brigade Marsose, yang mengakibatkan ratusan dan bahkan ribuan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang terbunuh secara menyedihkan.

Kemandirian brigade merupakan rahasia besar Marsose. Persenjataannya adalah sebaik-baik persenjataan pada masa itu, yakni karaben pendek (bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong) sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan topi. Memang brigade-brigade ini membawa beberapa narapidana untuk mengangkut perlengkapan mereka dalam setiap operasi militer, tetapi secara keseluruhan pasukan Marsose adalah hidup berdikari. Semangat pasukan senantiasa dipertinggi dengan berbagai cara: hadiah, kenaikan pangkat dan upacara.
Pasukan Marsose tahun 1890 dapat disamakan dengan anggota pasukan komando, pasukan payung, dan pasukan-pasukan khusus lainnya di kemudian hari. Mereka pun merasa sebagai pasukan istimewa. Adalah merupakan kehormatan bagi perwira untuk ditempatkan pada korps ini. Sebagian besar para perwira pribumi yang terkenal dan yang terjahat berasal dari pasukan Marsose, dan mereka sangat disanjung-sanjung oleh penguasa kolonial Belanda, dengan memberikan berbagai gelar militer kehormatan.(Foto van een groep koelies 1874.jpg)

SUSUNAN MAJELIS MAHKAMAH RAKYAT DIMASA RATU TAJUL ALAM

.
Pada tahun 1059 H. atau 1649 M. • Ratu Tadjul Alam Safiuddin
Sjah mengadakan perubahan susunan anggota badan legislatif atau
Madjelis Mahkamah Rakjat jang terdiri dari 73 orang tetapi jg didalam
nja ditempatkan 16 orang wanita turut duduk dalam madjelis itu untuk
turut sama2 dengan kaum pria mengatur urusan negara guna mempertimbangkan kebidjaksanaan Sulthanah
Adapun susunan Badan Perwakilan Rakjat Parlemen Atjeh adalah;
1. Sjahil
2. Budjang Djumat Turki)
3. Ahmad Bungsu
4. Ahmad Jatim
5. Abdul Rasjid
6. Faimis Said
7. Iskandar
8. Ahmad Dewan )
9. Majur Thalib (orang Turki)
10. Si Njak Bunga (wanita)
11. Si Halifah (wanita)
12. Ahdal
13. Abdul
14. Abdul Madjid
15. Si Sanah (wanita)
16. Gudjah Hamid
17. Isja
18. Hiajat
19. Si Njak Bunga (wanita)
20. Maimunah (wanita)
21. Siti Tjahja (wanita)
22. Mahkiah (wanita)
23. Buket
24. Manan
25. Ahmad Djalii
26. Ben Muhammad
27. Si Njak Apakat
28. Gudjah Nazir (orang Turki)
29. Si Njak Puan (wanita)
30. Abdul Hamfd
31. Malik Saleh Samir
32. Chatib Muadzam
33. Imam Muadzam
34. Abdul Rahman
35. Badaja
36. Budjang Aramsjah
37. Nadisah (wanita)
58.Majur Muhammad (orang turki)
39. Dapa Ahmad Sjah.
40. Penghulu Mu'aüm
41. Seri Dewa
42. Sjahad
43. Manjak
44. Njakti Tjaja (wanita)
45. Ahmad Ratib
46. Minhan
47. Si Habibah (wanita)
48. Mustafa.
49. Si Sjadin
50. Si Radjuna
51. Si Aman Pana
52. Si Njakrih
53.zamzami
54.gudjah ruhsia(orang turki)
55.raja megat
56.abu gaseh
57. Badal Mustup
58. Umi Puan (wanita)
59. Siti Awan (wanita)
60. Umi Njak Angka (wanita)
61. Si Aman
62. Si Njak Tjampli
63. Abdul Hakim
64. Si Mawar (wanita)
65. Si Manis (wanita)
66. Abdul Madjid
67. Ibrahim Rasia
68. Abdullah.
69. Umar
70.Abdul Rahim.
71. Mahjudin
72. Harun.
73.Abdul muthalib.
diantara 73 anggota dewan perwakilan itu 9 orang memegang
fungsi wazir atau menteri duduk dalam kabinet Sulthanah jaitu:
JANG PERTAMA : 1. Si Njak Tjampli, 2. Ibrahim Rasia, 3. Abdullah,
ketiga mereka itu masuk bahagian (seksi) Paduka Tuan: JANG KEDUA-
1. Umar, 2. Abdul Rahim, 3. Mahjudin, ketiga mereka ini masuk bahagian
Sri Rama; JANG KETIGA: 1. Harun, 2. Abdul Muthalib, 3. Abdul majid.
ketiga mereka ini fungsi martabat Wazir/Menteri, sedang jang
lain 64 orang sebagai anggota dewan perwakilan Rakjat,
nama tersebut dipetik dari naskah Qanun Al Asji Darussalam jang tersimpan dalam
chazanah kitab2 di dajah Marhum Tengku tanoh Abeë.(dikutip dari buku srikandi atjeh zainuddin)

BELANDA;SUSU DI BALAS DENGAN TUBA


ketika Belanda berperang selama 80 tahun merebut kemerdekaannya
dari Spanyol (1568—1648) adalah Sultan Aceh
yang pertama kali memberikan pengakuan internasional atas
kedaulatan Belanda, dengan suatu surat pengakuan yang disampaikan
oleh Ambassador Laksamana Abdul Hamid) pada tahun 1602 kepada
Prins Maurits van Oranje Nassau ketika itu Kepala Negara dari
Republik Belanda Serikat.Belanda sudah membalas susu dengan tuba,kata multatuli dalam pidatonya mencela Belanda yang bernafsu untuk menyerang Kerajaan aceh Darussalam.

het was in den grond dezelfde goedkope eigenwaan als is gematerialiseerd
in de figuren op de vier zijden der onsmakelijke "Sieges
Saule" in de even onsmakelijke" Sieges Allee" te Berlin,kata H.C.Zentgraaff,kepada bangsa nya yg tdk tahu berterima kasih.nederland koppig.lukisan Anno 1602. De gezanten van Atjeh bezoeken Maurits bij Grave.jpg)

TEUNGKU AMIR HUSEN AL MUJAHED,KETUA PENGURUS BRSAR PEMUDA PUSA

Teungku Amir Husin Al-Mujahid, selaku Ketua Pengurus
Besar Pemuda PUSA, datang ke Kutaraja dari Idi,
Aceh Timur, tidak lama sesudah proklamasi kemerdekaan.
Kedatangannya bertujuan untuk memimpin rapat Pemuda
PUSA seluruh Aceh, dalam rangka menyambut kemer-dekaan
Republik Indonesia. Rapat tersebut tidak dapat berjalan
seperti yang telah direncanakan. Ternyata jumlah undangan
yang hadir sangat jauh dari yang diharapkan.

Teungku Amir Husin Al-Mujahid dikenal sebagai
seorang yang militan dan ambisius, tetapi kontroversial. Ia
lahir di Idi, pendidikan terakhirnya pada suatu maktab di
Tanjung Pura, sebuah perguruan yang banyak menghasilkan
ahli agama yang kemudian menjadi ulama dan mubalig terkenal,
tapi juga menghasilkan ahli agama yang kemudian
menjadi tokoh komunis seperti Ali Hanafiah, tokoh PKI
Kalimantan Selatan; dan Samakidin, tokoh PKI di Kutaraja.
Amir Husin Al-Mujahid punya pergaulan yang luas.
Selain dengan para ulama, terutama ulama PUSA, ia juga
bergaul rapat dengan tokoh komunis seperti Nathar Zainuddin,
Xarim M . S, dan Sarwono. Pada masa pendudukan Jepang, Teungku Amir Husin Al-Mujahid membantu Ke -pala Jawatan Rahasia Jepang di daerah Langsa.

Dalam "Revolusi Sosial" ia mengambil alih pangkat
dan kedudukan Teuku Nyak Arief selaku anggota Staf
Umum Komandemen Sumatera. Tapi kemudian, setelah ia
memangku jabatan itu, ia tidak pernah tahu harus berbuat
apa selain menyandang pangkat Jenderal Mayor yang direbutnya
itu. Ia mengaku bahwa gerakannya untuk meng-hapuskan
feodal,

Tetapi di Kuala Simpang ia memperebutkan
seorang puteri kaum feodal dengan Nurdin Sufi, orang kepercayaannya
yang terdekat. Tentu saja dalam perebutan itu
Nurdin Sufi tersikut dan harus mengalah pada komandannya,
sang Jenderal Mayor Tituler Husin Al-Mujahid.
Amir Husin Al-Mujahid merasa telah mencapai
puncak kejayaan dengan pangkat dan kedudukan yang
tinggi dalam zaman revolusi fisik itu. Namun ia tidak punya
peran apa-apa lagi sesudah itu, kecuali ikut memperjuangkan
status tambang minyak Pangkalan Brandan serta ikutikutan
pula berbicara dalam mempertahankan provinsi
Aceh yang dihapuskan pemerintah pusat pada waktu itu

Ketika Teungku Daud Beureueh berontak dan mendirikan
Darul Islam di Aceh, Teungku Amir Husin Al-Mu -
jahid ditunjuk sebagai Ketua Majelis Syura (semacam
DPR) negara bagian dari NII (Negara Islam Indonesia).
Tetapi ketika terjadi perebutan kekuasaan yang dilancarkan
oleh Gani Usman dan Hasan Saleh terhadap
Teungku Muhammad Daud Beureueh selaku Wali Negara
Darul Islam, maka Teungku Amir Husin Al-Mujahid pun
segera saja meninggalkan Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Bersama A . Gani Usman serta Hasan Saleh.mareka membentuk Dewan Revolusi.

Semangat yang ada dalam diri para Pemuda PUS A
dimanfaatkan oleh Tengku Amir Husin Al-Mujahid. Mereka
membentuk Tentara Perjuangan Rakyat (TPR), di bawah
pimpinan Amir Husin Al-Mujahid. TPR lahir di Idi dan
bertujuan untuk memperbaiki Pemerintahan Daerah Aceh
yang masih labil, dan menurut mereka tidak dapat dipercaya
meneruskan revolusi nasional seperti yang dikehendaki
oleh rakyat banyak. Mereka menganggap dalam aparat
pemerintahan di Aceh masih terdapat anasir-anasir feodal
dan yang pro feodal, yang dikhawatirkan merupakan hambatan
bagi jalannya revolusi.

D i samping itu TPR juga bermaksud
menghapuskan sistem pemerintah feodal yang berjalan
berabad-abad di tanah Aceh dengan jalan menurunkan
seluruh Uleebalang yang masih ada, walaupun mereka tidak
segolongan dengan Uleebalang Cumbok(sumber biografi mayjen Syamaun Gaharu)

Kamis, 12 Februari 2015

SEJARAH TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN

Sekitar tahun 163O M, oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (1607 - I636 M. telah mengangkat salah seorang pahlawan mudanya menjadi Gubernur Sipil dan Militer yang berkedudukan diPariaman. Pahlawan Muda itu diberi gelar (Laksamana Muda Nanta", Laksamana Nanta menetap disana, kemudian kawin dengan salah seorang puteri Minang, beranak cucu dan akhirnya berkubur di Pariaman.
Setelah bertarung mati2an selama berpuluh2 tahun dengan Belanda yang mengerahkan seluruh potensinya, untuk menguasai Andalas Barat maka setelah berkuasa selama Ik. 130 tahun sejak tahun 15^0 M. hingga tahun 1670 M. berakhirlah kedaulatan Atjehdi Sum.Barat itu .
Akibat peperangan antara Atjeh/Minang melawan Belanda terjadilah perpindahan penduduk, terutama yang lemah2 dari sekitar pantai keudik dan diantara yang turut mengungsi itu termasuklah keturunan2 dari Laksamama Muda Nanta.
Teuku umar dan keluarganya dilampisang

Kemudian seorang diantara keturunan2 dari Laksamana MudaNanta sesudah dewasa di kenal dengan'gelar Datuk Sungsang Bulu ,seorang pahlawan gagah berani, ahli perang, serta menurut orang terkenal sakti . Datuk Sungsang Bulu mempunyai salah seorang putera yg banyak mewarisi sifat2 dan ilmu2 dari beliau dan sesudah dewasa digelarkan Datuk Machudum Sakti .
Disamping itu Datuk Machudum diketahui sebagai seorang ahli politik perang, dagang dan sangat benci kepada bangsa Belanda. Sejak kecil Datuk Machudum telah mendongar cerita neneknya tentang negeri asal .
kejayaan Atjeh dan kepopuleran Sultan2-nya.Karena didorong oleh satu dan lain sebab, Datuk Machudum Sakti lalu mengumpul teman2nya yang semudik dengan beliau dan teman2nya itu umumnya. berasal dari daerah berlain2an pula umpamanya dari lubuk sikaping pasaman pariaman Rao dan tiku. Dengan duabelas buah perahu merekapun meninggalkan andalas.
datuk machudum telah lama mendengar bahwa dipantai barat atjeh ada terdapat sebuah gunung mengandung emas malah sungai2nya pun mengalirkan emas .tujuan mereka persis disekitar muara sungai disitulah mareka melabuh jangkarnya.tempat sebelumnya disebut pasi karam sejak itu digelarkan oran nama meulaboh.Datuk Machudum pun berangkatlah ke Banda Atjeh Darussalam, untuk menghadap Sultan, dan menyampaikan maksudnya.
Sultan Djamalul Alam Sjarif Hasjim Badrul Munir disebut juga dengan sebutan Poteu Djamalooy - (1125 - 114-5 H, - 1713 - 1733 M.) berkenaan mengabuLkan permohonan Datuk, untuk mendirikan negeri dan membuka pertambangan emas ditempat dimaksud. Dan Sultanpun telah menamakan kampung (negori) tsb dengan "Woylom, maksudnya Datuk Machudum Sakti keturunan Atjeh telah kembali lagi kenegeri asalnya tetapi karena pengaruh dialek anak negeri, kalimat tsb dipermudah, dipersingkat dan diucapkan menjadi "Woyla ".
Datuk Machudum diangkat menjadi Kepala Negeri dan kepada beliau ditugaskan untuk menyetorkan pajak negeri dan tambang emas setiap tahunnya keperbendaharaan negara diibu kota, Datuk tetap setia melakukan tugasnya dengan baik selama beberapa tahun,
Tetapi dalam tahun2 berikutnya terjadilah kemelut diibu kota, dengan timbulnya pemberontakan rakyak yang menginginkan supaya Sultan Djamalooy turun tahta, Akibat suasana tsb Datuk Machudum menjadi enggan menyetor pajak dan tidak muncul2 keibu kota, Setelah melihat hal tsb Sultan Djamalooy memerintahkan T.Panglima Seri Setia Ulama Panglima Sagi 25 mukim yang masih setia kepadanya untuk datang dan menagih pajak negeri kepada Datuk Machudum diwoyla,kpd utusan itu oleh Datuk dipersembahkan sebuah peti besar dan katanya telah diisi penuh dgn uang pajak negeri Woyla, Sesampainya dihadapan Sultan diistana barulah peti itu dibuka dan rupa2nya isi peti tsb tak lain dari perca2 tua, besi2 buruk dan lain2. yang tak ada harga nya. Melihat hal tsb Sultan ' menjadi sangat marah pada Datuk Machudum dan terus memerintahkan salah seorang Pang Ule Peunaro seorang panglima yang gagah berani dan setia untuk menyampaikan dua kata kepada Datuk Machudum Sakti , yaitu 1.) Bayar lunas tunggakan pajak negeri woyla atau ?.,) ditangkap untuk diringkus dalam pendjara,
Karena tidak adanya jalan kompromi antara yang datang dengan yg didatangi, terjadilah perkelahian dan pertumpahan darah yang sia2 dan tidak diingini , setelah kedua belah pihak banyak yg tewas dan lain2 luka2 dengan suatu muslihat Datuk Machudum berhasil ditangkap dan ditawan.
Dgn badan jang penuh luka2 Machudum digiring keibu kota dan dihadapkan kedepan Sultan. Datuk Machudum lalu dijebloskan kedalam pendjara di Lam Nga.
Sewaktu Sultan Alaidin Achmadsjah, putera dari Sul tanah (Ratu) Nurul Alam Nakiatuddin (1676-.I678 M.) dan Laksamana Maharadja Lela naik tahta tahun 1733 M (1733 - 17^2 M) beliau lalu membebaskan Datuk Machudum Sakti , memberi persalin dan mengangkatnya menjadi salah seorang panglimanya dengan gelar Tok Panglima Eumping Beuso.
Lebih kurang100 tahun kemudian, oleh suatu kesalah faham antara Sultan Alaidin Sulaiman Ali Iskandarajah (1839 - l84l M„) dengan Panglima Polem Serimuda Perkasa. T.Mahmud Tjut Banta, istana Sultan telah dikepung oleh Polem. Sultan dan pengisi istana akhirnja hampir berputus asa dan tak mungkin lagi membebaskan diri dari kepungan tsb . Andaikata mereka mengetahui rahasia isi istana , pastilah dengan tempo.yang singkat saja istanadapat direbut dan Sultan berhasil ditawan,
Rupa2nya dewi fortuna masih berada dipihak Sultan, Ditengah malam yang pekat, masuklah sesosok tubuh manusia, tanpa memperkenalkan dirinya , lalu menerangkan sebuah rahsia dimaana kelemahan Panglima Polem,dengan itu pula Sultan berhasil memperkuat kedudukannya dan mengakibatkan Panglima Polem terpaksa membatalkan niatnya dan kembali dengan tangan hampa ke Lam Sie.Setelah kedudukan Sultan stabil kembali, beliaupun berusaha untuk mengetahui siapakah sebenarnya pemuda jang telah begitu sedia mengorbankan jiwa raganya demi keselamatan Sultan, rupa2nya pemuda tsb tak lain dari salah seorang cicit dari Datuk Machudum Sakti.Panglima Eumpieng Beso yang terkenal , tegasnya zuriat dar i T.Laksemana Muda Nanta,Panglima Angkatan Perang Atjeh di Andalas Barat lk200 tahun yang lalu.
Lalu Sultan mengangkat pemuda tsb menjadi saLah seorang Uleebalang Poteu/Panglima Sult an dan diberi gelar "Teuku Nanta Setia Radja.
Sultan menyerahkan hasil pulau2 sekitar VI mukim Meuraxa untuk nafkah hidup beliau dan mengawinkannya.dengan Tjut Ti Raja binti Potjut Daud, salah seorang familinya . Beliau inilah ayah T.Tjhik Nanta Setia dan T.Mahmud dan nenek dari T.Umar Djohan Pahlawan dan Tjut Njak ' Dien.
T.Umar Djohan dan Tjut Njak Dien, keduanya adalah satu nenek, sewali atau sepupu. Ayah mereka bersaudara kandung, yang tua T.Tjhik Nanta Setia adalah ayah dari Tjut Njak Dien dan yang muda T. Mahmud Nanta adalah ayah dari T.Umar,
Teuku Umar Johan pahlawan
Sepasang pahlawan terkenal ini adalah cucu kandung dari T.Nanta Setia Radja Tjhik, salah seorang Uleebalang Poteu (Panglima Sultan Atjeh), T.Tjhik Nanta Setia diangkat oleh Sultan Sulaiman Ali Iskandar sjah, menjadi uleebalang VI mukim dari sagi 25 mukim Atjeh Besar dan berkedudukah di Peukan Bada.
Beliau kawin dengan puteri T.Udjung Uleebalang Lam Nga dari 12 mukim Tungkop dari sago 26 mukim A.Besar. Dari perkawinan ini lahirlah Tjut Njak Dien. anak beliau yang ketiga yang bungsu dan satu2nja puteri beliau.Dan Tjut Njak Dien ditaksir lahir sekitar tahun 1857 M. T.Mahmud yang digelar T.Meulaboh, sewaktü mudanja pergi merantau ke Meulaboh, beliau kawin dengan Tjut Mahani puteri T.Suloh Keudjrun Tjhik Kaway 16 Meulaboh, beliau menetap sebagai saudagar dan menjadi tangan kanan mertuanya T.Suloh di Meulaboh.Dari perkawinan nya dengan Tjut Mahani itu lahirlah T.Umar Djohan Pahlawan ( tahun'1859 M.) sebagai anak kedua dari 4 orang putera dan 2 orang puteri beliau.

Rabu, 28 Januari 2015

PERJUANGAN POCUT MEURAH INTAN DAN PUTRA PUTRANYA


Pocut Meurah Intan adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga sultan Aceh. Ia juga biasa dipanggil dengan nama tempat kelahirannya. Biheue adalah sebuah kenegerian atau ke-uleebalangan yang pada masa jaya Kesultanan Aceh berada di bawah Wilayah Sagi XXXI Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, kenegerian itu menjadi bagian wilayah XII mukim : Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng.

Tuanku nurdin
Suami Pocut Meurah Intan bernama Tuanku Abdul Majid, Putera Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid adalah salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh yang pada mulanya tidak mau berdamai dengan Belanda. Karena keteguhan pendiriannya dalam menentang Belanda, ia disebut oleh beberapa penulis Belanda sebagai perompak laut, pengganggu keamanan bagi kapal-kapal yang lewat di perairan wilayahnya, sebutan ini berkaitan dengan profesi Tuanku Abdul Majid sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di pelabuhan Kuala Batee.
Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah Intan memperoleh tiga orang putera, yaitu #Tuanku Muhammad yang biasa dipanggil dengan nama Tuanku Muharnmad Batee,
1. Tuanku Budiman, dan
2. Tuanku Nurdin.

Dalam catatan Belanda, Pocut Meurah Intan termasuk tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Hal ini di sebutkan dalam laporan colonial "Kolonial Verslag tahun 1905", bahwa hingga awal tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalan Pocut Meurah Intan. Semangat yang teguh anti Belanda itulah yang kemudian diwariskannya pada putera-puteranya sehingga merekapun ikut terlibat dalam kancah peperangan bersama-sama ibunya dan pejuang-pejuang Aceh lainnya.

Tuanku Muhammad
Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda Pocut Meurah Intan mengajak putera-puteranya untuk tetap berperang. Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya, dalam rangka pengejaran dan pelacakan terhadap para pejuang, Pocut Meurah Intan terpaksa melakukan perlawanan secara bergerilya. Dua di antara ketiga orang puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi terkenal sebagai pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda. Mereka menjadi bagian dari orang-orang buronan dalam catatan pasukan Marsose.

Pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh satuan Marsose Belanda yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie. Pada tanggal 19 April 1900, karena dianggap berbahaya, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, dengan dasar Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 25. pasal 47 R.R.
Peningkatan intensitas patroli Belanda juga menyebabkan tertangkapnya Pocut Meurah Intan dan kedua puteranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji. Namun, sebelum tertangkap ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak Belanda. la mengalami luka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, satu urat keningnya putus, terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur laksana setumpuk daging yang dicincang-cincang. Pada luka-lukanya itu disapukan setumpuk kotoran sapi, keadaannya lemah akibat banyak kehilangan darah dan tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan, luka-lukanya telah berulat. Mulanya ia menolak untuk dirawat oleh pihak Belanda, akhirnya ia menerima juga bantuan itu. Penyembuhannya berjalan lama, ia menjadi pincang selama hidupnya.
Pocut Meurah Intan sembuh dari sakitnya; bersama seorang puteranya, Tuanku Budiman, ia dimasukkan ke dalam penjara di Kutaraja. Sementara itu, Tuanku Nurdin, tetap melanjutkan perlawanan dan menjadi pemimpin para pejuang Aceh di kawasan Laweueng dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap Tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju, yang sebelumnya Belanda telah menangkap isteri dari Tuanku Nurdin pada bulan Desember 1904, dengan harapan agar suami mau menyerah. Tuanku Nurdin tidak melakukan hal tersebut.

Setelah Tuanku Nurdin di tahan bersama ibunya, Pocut Meurah Intan dan saudaranya Tuanku Budiman dan juga seorang keluarga sultan yang bernama Tuanku Ibrahim di buang ke Blora di Pulau Jawa berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda, tanggal 6 Mei 1905, No. 24. Pocut Meurah Intan berpulang ke-rakhmatullah pada tanggal 19 September 1937 di Blora, Jawa Tengah dan dimakamkan di sana.

T. ABDUL MANAF PUTRA LEUNG PUTU PERUMUS PROKLAMASI RI


AHMAD subarjo dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, tanggal 23 Maret 1896. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf,[masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kakek Abdul manaf/Ahmad subarjo dari pihak ayah adalah Ulee Balang dan ulama di wilayah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf adalah pegawai pemerintahan dengan jabatan Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe, Kerawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah. Ia keturunan Jawa-Bugis, dan merupakan anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.
Ayahnya mulanya memberinya nama Teuku Abdul Manaf, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo. Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena "Peristiwa 3 Juli 1946".
Ia bersekolah di Hogere Burger School, Jakarta (saat ini setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, Shodanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.
Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan
Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subarjo di rumah Laksamana Muda Maeda.Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun 1957 - 1961.