Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Sabtu, 22 Maret 2014

Derita Pekerja Paksa dalam Perang Aceh

Tahun-tahun perang Aceh periode I dan II adalah neraka bagi para narapidana di Hindia Belanda. Para narapidana dengan klasifikasi hukuman tertentu akan dikirim ke Aceh sebagai pekerja paksa. Menjadi tenaga kerja paksa ditengah kecamuk perang yang berlangsung dengan liar di Aceh. Hukuman ini bisa disamakan dengan hukuman mati yang tertunda bagi si narapidana. Banyak dari para narapidana ini tewas secara mengenaskan di belantara Aceh. Ketika perang terbuka 1873-1880 tidak kurang dari 8.250 orang tenaga kerja paksa ini menemui ajalnya di aceh.

Beratnya medan tempur dan begitu drastisnya jatuh korban dikalangan pekerja paksa membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda merasa perlu menetapkan cadangan yang musti disediakan oleh depot-depot tahanan Hindia Belanda. Padang dan Semarang misalnya diwajibkan menyediakan cadangan 100 orang, Surabaya 150 orang dan Batavia sebagai bandar terbesar wajib menyediakan 250 orang setiap bulannya. Namun penetapan kuota cadangan itu segera pula terasa sangat tidak mencukupi kebutuhan dilapangan, maka pada bulan-bulan setelahnya jumlah itu naik dengan pesat.

Tidak banyak pekerjaan umum yang dikerjakan oleh para pekerja paksa di Aceh. Kebanyakan tugas mereka adalah menjadi tenaga pengangkutan militer yang sangat berbahaya. Kelewang, rencong dan senapan pejuang Aceh tidaklah pandai memilih sasaran, apa saja dan siapa saja yang bekerja dipihak Belanda adalah bagian dari kaphe yang wajib ditumpas. Para pejalan kaki yang seringkali dirantai ini adalah sasaran empuk dan menguntungkan pihak pejuang. Kematian para pekerja paksa adalah kematian pula bagi serdadu yang bergantung padanya.

Selain menghadapi ganasnya serangan dari pejuang Aceh, para pekerja paksa ini juga acapkali mengalami tindakan tidak senonoh dari para serdadu bawahan yang merasa dirinya lebih hebat satu derajat diatasnya. Para prajurit bawahan ini gemar sekali melecehkan para tahanan malang itu, menganggapnya sebagai manusia buangan yang tak lebih dari hewan pengangkut logistik. Bahkan di medan perang Aceh, harga hewan pengangkut beban lebih berharga dibanding nyawa para pekerja paksa.

Bukan tidak pernah militer Belanda mencoba memobilisasi logistik dengan menggunakan hewan pengangkut beban. Namun medan Aceh menyulitkan pergerakan hewan-hewan tersebut. Di Aceh tidak banyak terdapat kuda yang bisa mengangkut bermacam keperluan, kuda dan keledai didatangkan dari daerah lain. Tetapi mengingat medan yang sulit karena tidak tersedianya jalanan membuat pemanfaatan binatang itu tidak bisa diharapkan sama sekali. Antara satu basis dengan basis lainnya pejuang Aceh seringkali hanya bisa ditempuh dengan melewati pematang sawah yang sempit, bukit-bukit batu yang curam dan rawa-rawa yang luas maka para tahanan itulah yang lebih tepat untuk digunakan.

Manusia pengangkut beban itu juga tidak membutuhkan perlakuan khusus. Mereka tak butuh makanan spesial, makan mereka bahkan cukup dengan diberikan makanan sisa dari para prajurit. Atau mereka akan berusaha makan apa saja yang bisa ditemukan di sepanjang perkampungan yang dilalui. Pekerja paksa juga tidak membutuhkan tempat yang representatif bagi tempat tinggalnya. Cukup dengan gubuk-gubuk sederhana dari bambu dan ranting kayu mereka bisa tidur dan menyiapkan tenaga buat tugas berat pada hari berikutnya.

Adakalanya para narapidana ini membangkang, mereka menjadi tidak bisa diatur sedemikian rupa oleh para serdadu membutuhkannya. Maka cambukan rotan sekian puluh kali akan menjadi penyemangat yang tidak menyenangkan. Hukuman cambuk menjadi semacam kesenangan lain dari para serdadu yang frustasi dalam menghadapi maut di Aceh. Para narapidana ini sama sekali tidak punya hak membela diri. Karena status kebanyakan dari mereka adalah para bajingan berbangsa Jawa. Dalam hukum kolonial siapa saja yang terjajah dan menjadi bajingan adalah makhluk paling hina.

Tidak heran selama empat puluh tahun perang Aceh, ditaksir tidak kurang dari 25.000 pekerja paksa ini tamat hidupnya di Aceh. Kematian para manusia buangan ini tak lebih dari sekedar kematian tikus tak berguna (walaupun sebenarnya mereka sangat berjasa bagi pasukan Belanda). Mereka dilupakan oleh pemerintah Belanda dan serdadu-serdadu gila hormat yang satu bangsa dengan mereka.


Rabu, 05 Februari 2014

RI 001 Dakota dan Kisah Harta Wakaf Rakyat Aceh yang dikorupsi

Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (Gunung Emas). Sumbangan Rakyat Aceh

Tercatat dalam sejarah semasa republik ini masih bayi. Tepatnya pada bulan juni tahun 1948. Ketika di pulau Jawa dan sebagian besar republik ini masih berkecamuk perang semesta melawan kolonialis Belanda dan anteknya yang ingin kembali menguasai Republik Indonesia yang masih kurang tiga tahun diproklamirkan kemerdekaannya. Ketika itu sang "bapak bangsa" Soekarno melakukan muhibah ke wilayah terujung negara Indonesia, Aceh. Disana Belanda tak mampu unjuk gigi kedigdayaannya dalam menjajah. Kedatangan Soekarno ke Aceh disambut gegap gempita oleh para rakyat Aceh yang kala itu sedang semangat berjuang hingga ke Medan Area.

Jumat, 03 Januari 2014

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam Bag. 5 (Habis)

Sebuah benteng tua milik angkatan perang Aceh didekat Lamnyong setelah direbut oleh Belanda

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam Bag. 4
Pada tahun 1879 Tuanku Hasyim semakin tua, namun jiwa patriot dan semangat jihadnya tetap membara untuk menentang penjajahan Belanda. Ia tinggal di Keumala Dalam bersama Sultan Muhamad Daud Syah yang masih berumur kurang lebih 10 tahun. Berkat daya upaya, Kuta Keumala Dalam terus tumbuh dan mampu menjadi ibu kota Kerajaan Aceh yang kedua yang akhirnya menjadi pusat kebudayaan yang ternama dan pusat perdagangan lokal.

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam Bag. 4


Dahsyatnya pertempuran dan heroisme pejuang Aceh dalam mempertahankan Masjid Raya

Pada tanggal 26 Desember 1873 terjadilah pertempuran yang seru dalam penyerangan Belanda disekitar Keraton. Pada daerah ini tumbuh sebangsa pohon tebu yang sangat baik dan pohon tebu ini merupakan benteng pertahanan Aceh yang telah diatur sedemikian rupa,  sehingga susah bergerak bebas kecuali dengan merangkak pelan-pelan. Tumbuhan tebu ini telah ditanam lama atas perintah Tuanku Hasyim sebagai perisai untuk melindungi keraton. Kemudian sebagai barisan pertahanan Keraton di samping senjata api ditempatkan pula sepasukan ahli pedang yang terlatih dan berpengalaman. 

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam Bag. 3

Penyerangan Belanda di Keraton Aceh

Demikianlah Tuanku Hasyim mendapat dukungan sepenuhnya dari kalangan orang-orang kuat, Ulebalang, para ulama dan kalangan rakyat banyak. Semua lapisan dan golongan menyerahkan kepercayaan pada Tuanku Hasyim. Melihat peranan Tuanku Hasyim yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan, maka para cerdik-pandai, Ulebalang dan ulama merasa perlu mengukuhkan kedudukannya. Hal ini mengingat umur Sultan yang masih terlalu muda, boleh dikatakan hanya seperti boneka, yang menjalankan roda pemerintahan adalah Tuanku Hasyim. Maka oleh sebab itu dengan keputusan para ulama, disahkan oleh tiga Imam besar dan Panglima Tiga Sagi, yaitu menteri besar Wazirul A'zan Panglima Polim Seri Muda Perkasa, Menteri Besar Wazirul Ghaza dan Menteri bcsar Qhadhi Malikul Alam Seri Setia Awadim Syiah Ulama, beserta Hulubalang empat dan Hulubalang delapan. Upacara pengesahan ini bertempat di Balairung Darul Dunya dihadapan Sultan. Dan semenjak itu Tuanku Hasyim diangkat menjadi Panglima Tertinggi kerajaan Aceh.

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam Bag. 2

Pendaratan pasukan Belanda di pantai Aceh

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam. Bag. 1 

Pada tahun 1863 Residen Belanda mencoba sekali lagi menyelesaikan Langkat. Ia datang dengan perlengkapan perang dan dua buah kapal, dengan tujuan agar dapat memukul kekuatan Tuanku Hasyim. Tetapi karena kuatnya pertahanan Aceh, Belanda tak dapat mendekati pulau Kampai. Bahkan mereka disambut dengan tembakan meriam, sehingga pasukan Belanda terpaksa mundur kembali. Rupanya Netscher tidak berputus asa untuk merebut pulau Kampai. Dalam penyerangan ini ia mengikut sertakan Raja Burhanuddin sebagai penyelidik pertahanan Aceh. Tetapi melihat kekuatan Tuanku Hasyim yang menantinya, mereka merobah haluan kapalnya kembali. Dari jauh mereka memperhatikan bendera Aceh berkibar dengan megah. Kemudian mereka menunjukan arah kapalnya ke Bengkalis. 

Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Aceh Darussalam. Bag. 1

Blokade laut kapal perang Belanda saat ekspedisi pertama ke Aceh, tahun 1873

Tuanku Hasyim Bangta Muda lahir di Kampung Lambada dalam Sagi Mukim 26 Aceh Besar, kira-kira pada tahun 1834 Masehi. Ayahnya bemama Laksamana Tuanku Abdul Kadir yang semasa hidupmya memangku jabatan perwalian di Aceh Timur. Tuanku Hasyim Bangta Muda bersaudara tiga orang, diantaranya ialah Tuanku Raja Itam dan Tuanku Mahmud Bangta Keucik. Ia adalah putera yang tertua dari tiga bersaudara ini.