Tentang BLOG

Blog ini sendiri banyak berisi tentang sejarah perjuangan dan kemegahan kesultanan aceh di masa lampau, kisah pejuang aceh yang sangat perkasa, sejarah sejarah kesultanan lainnya di nusantara serta kisah medan perang yang jarang kita temukan. semoga bisa menjadi motivasi bagi kita bersama untuk terus menggali sejarah dan untuk menjadikan sejarah sebagai motivasi dalam kehudupan kebangsaan kita.

Kamis, 18 Desember 2014

INISIATOR PEMBENTUK LEMBAGA WALI NANGGRO


Sulthan Muhammad Daud Syah saat itu masih berusia 11 tahun diangkat menjadi raja. Karena sulthan masih muda maka dibentuklah lembaga wali nanggroë.
Pembentukan itu dilakukan pada 25 Januari 1874 melalui musyawarah Majelis Tuha peut yang terdiri dari, Tuwanku Muhammad Raja Keumala, Tuwanku Banta Hasjem, Teuku Panglima Polem Raja Kuala dan Teungku Tjik Di Tanph Abee Syech Abdul Wahab. Keputusan musyawarah tuha peut itu menarik semua kekuasaan ke hadapan tuha peut.
Tiga hari kemudian pada 28 Januari 1874, Ketua Majelis Tuha Peut Kerajaan Aceh Tuanku Muhammad Raja Keumala mengambil keputusan untuk mempersatukan rakyat Aceh diangkatlah Al Malik Al Mukarrah Tfk Tjik Di Tiro Muhammad Saman Bin Abdullah sebagai Wali Nanggroë Aceh yang pertama.
Di tempat upacara penobatan itu pula, Teuku Umar diangkat sebagai amirulbahri atau panglima laut untuk wilayah Aceh Barat dan Tuanku Mahmud Bangta Kecil, adik Tuanku Hasyim Bangta Muda, sebagai Wakil Sultan.adifa Pada kesempatan itu, Sultan berseru kepada para uleebalang agar meneruskan dan menggiatkan pengumpulan harta benda untuk keperluan perang sabil.Teungku Chik Di Tiro yang dipercaya oleh Sultan Muhammad Daud Syah untuk memimpin perlawanan
Pada tanggal 6 September 1903, bersama Tuanku Raja Keumala dan 150 orang pengikutnya, Teuku Panglima Polem berdamai dengan Belanda. Pada tanggal 6 September 1903 di Lhokseumawe, nota perdamaian ditanda tangani dihadapan Kapten Colijn.ketika TR keumala dan panglima polem menyerah,kepemimpinan kesultanan aceh dipegang oleh wali negera secara turun temurun dari keluarga tgk chik Ditiro sampai kepada wali negara terakhir TGk chik maat ditiro(dari berbagai sumber)foto TR keumala)

KETIKA SULTAN DIPAKSA MENYERAH




Pada tanggal 26 November 1902, Teungku Putroe Gambar Gadeng binti Tuanku Abdul Majid bersama anaknya Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (6) disandera oleh Belanda di Gampong Glumpang Payong Pidie. Tujuan penyanderaan ini agar Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1875-1939) menyerah diri kepada Belanda. Akhirnya Sultan setelah bermusyawarah dengan penasihatnya datang dan bertemu dengan Belanda di Sigli. Pada 20 Januari 1903, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dibawa ke Kuta Raja menghadap Gubernur Aceh Jenderal Van Heutz dan menandatangani MoU damai dengan Belanda.
Saat itu, Sultan menjadi tahanan kota dimana dia hanya diperbolehkan bergerak bebas di Aceh Besar. Bahkan dibuatkan rumah tinggal, lengkap dengan perabotan dan menerima gaji bulanan sebesar 1.200 florin. Adapun anaknya mendapat biaya belajar dari Pemerintah Belanda. Semua fasilitas dan gaji yang diberikan dimaksudkan agar Sultan Muhammad Daud Syah membantu kepentingan Belanda di Aceh. Namun usaha tersebut ternyata hanya sia-sia.
Dari hasil penyelidikan intelijen Belanda, Sultan Muhammad Daud Syah memberi sumbangan dan dukungan kepada para pemimpin gerilyawan Aceh. Sultan memanfaatkan Panglima Nyak Asan dan Nyak Abaih sebagai perantara. Ketika tempat kediaman Sultan Muhammad Daud Syah digeledah pada Agustus 1907 ditemukan sejumlah surat milik sultan yang ditujukan kepada para pejuang. Di samping itu, terjadinya serangan kilat ke markas Belanda di Kuta Radja pada 6 Maret 1907 malam, secara tidak langsung juga diatur oleh Sultan Muhammad Daud Syah.(T. Ibrahim Alfian, 1999 : 141).
Pengaruhnya yang masih sangat besar terhadap rakyat menyebabkan Gubernur Militer Aceh Letnan Jenderal Van Daalen mengusulkan Sultan Muhammad Daud Syah dibuang dari Aceh. Maka pada 24 Desember 1907, Belanda membuang Sultan Muhammad Daud Syah, isteri, anaknya Tuanku Raja Ibrahim, Tuanku Husin, Tuanku Johan Lampaseh, pejabat Panglima Sagi Mukim XXVI, Keuchik Syekh dan Nyak Abas (ke Ambon, Bandung, dan terakhir – Admin) ke Batavia dan menetap di Jatinegara (sekarang Gudang Bulog). (M. Adli Abdullah)(foto sultan Toeankoe Mohammed Daud, didampingi Mayor K. van der Maaten penyerahan kepada Pemerintah Belanda pada tahun 1903.)

Jumat, 05 Desember 2014

4 DESEMBER LANJUTAN PERJUANG PERANG KEMERDEKAAN ACEH


4 Desember,Itu lah hari setelah Belanda menembak dan membunuh kepala negara Aceh sumatra yang terakhir,tgk Chik maat ditiro dan sebuah pertempuran sengit di alue bhot.Tangse 3 desember 1911.karena itulah belanda menganggap 4 desember 1911 sebagai hari berakhirnya kedaulatan negara aceh dan sebagai hari kemenangan terakhir Belanda atas kerajaan aceh sumatra.sebagaimana yg ditgas kan oleh Kolonel J schimidt,Komandan perang belanda dalam pertempuran alue bhot.
akan tetapi semua ini tdk benar,,,negara aceh tak pernah menyerah kepada Belanda baik secara de jure atau de facto.pemerintah aceh tdk pernah menanda tangani pasal pasal persetujuan penyerahan atau perdamain dengan Belanda.perjuangan tetapberlanjut,bendera aceh tetap berkibar setengah tiang untuk menghormati kenangan kepahlawanan Kepala negara aceh yang masih muda. TGK CHIK MAAT DITIRO yang gugur dalam mempertahan kan tanah airnya,pada umur yang masih sangat muda,16 tahun.
setelah TGK chik mayeddin ditiro dan istrinya Pocut putro Gambang wafat dan TGK Chik dibuket ditiro syahid di tangse pada tahun1910,dan setelah TGK maat ditiro syahid pada tgl 3 desember 1911.perlawanan rakyat aceh terhadap belanda berlanjut tanpa komando.
Sebelum sultan menyerah pada tahun 1903.sultan muhammad daudsyah telah mendelegasikan kepemimpinan negara aceh kepada Dewan konsersium kerajaan yang terdiri dari;
1. teuku panglima polim sri muda perkasa Muhammad daud.
2.Teuku raja Keumala.
3.Teungku chik Ditiro mahyeddin dan teungku dibuket(tgk muhammad ali zainal abidin sebagai mudabbirul mulki(kepala negara).adifa

Kemudian jabatan mudabbirul mulki ini jatuh ketangan teungku Chik maat ditiro,ketika panglima polem dan raja keumala menyerah pada tahun 1903.kepemimpinan secara praktis jatuh kepada Tgk mahyeddin dan teungku dibuket,dan ketika ulama ini syahid,kepemimpinan di ambil alih oleh Tgk Maat ditiro.pemuda berusia 16 tahun keturunan dari TGK chik ditiro.SELAMAT MILAD PERJUANGAN KEMERDEKAAN YG KE 38.hari ini bertepatan dengan hari wafat nya pahlawan Tgk maat ditiro. alfatihah untuk beliau.
'uronyo geutanyo angkatan aceh mardeka yang po tanggong jaweub,peuselamat pusaka iskandar mudanyo.uronyo,jeumnyo.gatakeuh yang po nibak ateuh pusaka nibak sultan iskandar muda,beutatupu yum,beutapham makna nibak pusaka rajanyo,(pidato HT pada hari peringatan 350 thn wafat nya iskandar muda)

IDEOLOGI TAK PERNAH MATI.


Mariyah seorang perempuan dari Nisam diaceh utara yang tdk tamat madrasha aliyah,menuliskan impian nya tentang masa depan aceh, pada tanggal 5 agustus 2003 yang lalu kepada penduduk jakarta .mengikuti metode ideologi yang diwariskan oleh hasan tiro.
" Lalu aku belajar tentang sejarah masa lalu aceh yang mardeka bersama dengan perempuan dari desa lain.Kami mulai merajut mimpi,andai kami nanti merasakan kemardekaan yang sebenar nya.rakyat aceh akan mengantur hidupnya sendiri dalam sebuah negara kecil,rakyat lebih cepat sejahtra dari hasil bumi yang ada,keadilan ditegakkan,satu orang mati dikampung"presiden" kami prihatin,dan polisi kami mengusut nya dengan sungguh sungguh".
Reflexi perasaan itu di pertontonkan kepada kita bahwa ideologi itu tdk pernah mati. sebagai mana gagasan ideologi yg disemaikan oleh Hasan tiro mulai tumbuh dan berkecambah sampai ke pelosok desa yg terpencil sekalipun diaceh,namun para pejuang ideologi tersebut sekarang sdh mulai luntur ketika mareka sudah mendapatkan kekuasan yang dulu mareka perjuangkan.berbeda dengan rakyat yg masih memimpikan sebuah kebebasan untuk menentukan nasib sendiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat,sebagai mana kerajaan aceh zaman dahulu yg gilang gemilang meucuhu ban sigom donya.ideologi ini tidak pernah mati dalam sanubari rakyat acehkarena UUD45 RI mengatakan bahwa penjajahn di atas dunia harus dimusnahkan.
Setiap bangsa berhak menentukan nasib nya sendiri.hari kemederkaan yg mareka peringatai setiap tahun nya pada tanggal 4 desember seperti nya sudah hambar dan tak bermakna,dulu mareka dengan ancaman dan pemaksaan kepada penduduk untuk mengibarkan bendera itu sebagai sebuah lambang kemerdekaan,sekarang mareka sendiri yang melarang dengan seruan2 yang selalu di ulang ulang,makna sebuah indentitas diri lenyap bersama nikmatnya kursi kekuasaan.bagi rakyat yg masih memiliki ideologi itu bendera adalah darah,the flag is blood,kata teman sayaadifa.SELAMAT MILAD YG KE 38,semoga perjuangan masih berlanjut dan damai selalu dalam bingkai NKRI,karena kita tdk lagi berjuang untuk kemardekaan teritory.mimpi untuk itu sdh kami hilangkan kan semenjak kursi kami dapat masih sangat empuk.